4.9.09

TRia Nin: happy full moon : pikiran dadu. Seperti menerjemahkan tentang kapilawastu, kelahiran, mangkat, lumbini, purnama sidhi dan entah

Di depan rumah,mudra, asana, pranayama pelan pelan mengalir udara dalam tubuhku. Di depanku Anjing hitam cindy lagi tidur tidak mau diganggu. Aku , mas bayu dan bapak topo di depan rumah di atas lantai batik tua. Tangan ini, kaki ini, dada ini, mata ini, napas ini udara mengalir dari hidung. Resah yang tertahan, resah yang tertahan memuncak menari bersama.
Lalu aku duduk terbenam bergumam pelan, aku resah. Itu yang aku ketahui dalam tubuhku , aku begitu resah. Dan beberapa hari ini adalah semacam pengenalan tentang kemarau. Benarkah ternyata kabar kabar yang dijual di kertas kertas berharga lebih dari seribu itu adalah resah. Mengaduh adalah peluh, dan ketika itu hadir dalam lusuh. Ketika itu aku tak tahu. Apa yang terjadi disana. Bulan mengeram menjadi semacam pasta yang tak lagi putih, karena disimpan tersembunyi entah waktunya . Aku tak bisa mengukurnya.
Aku bukan pengukur, mistar itu juga tidak bisa aku gunakan untuk mengukur jarak dariku menujumu. Aku berulangkali melihatmu dan mengabarkan purnamamu ke tubuhku, asana, mudra, pranayama. purnama oh purnama. purnama oh purnama.
Lalu aku menuju dhamma sundara, dalam perjalanan aku tahu kau melingkarkan titik titik cahaya ke tubuhku. Aroma jalanan masakan timur yang menusuk hidung, risau motor, resah mobil, lalu lalang cepat-cepatan mendahuluiku. Aku terus saja melaju. Aku melaju , pikiran dadu. Aku melaju, pikiran dadu. Pintu coklat itu menyambutku, aku masuk kedalamnya, meditasi, pikiran dadu, pikiran dadu. Itu adalah pikiran dadu. Ini adalah pikiran dadu. Melesat cepat. Melesat hebat. Pikiran dadu oh Ini pikiran dadu. Seperti menerjemahkan tentang kapilawastu, kelahiran, mangkat, lumbini, purnama sidhi dan entah ricau yang banyak. pikiran dadu. Lonceng berbunyi, aku menggosokkan tanganku yang panas, ternyata aku sudah satu jam disini, aku menyapamu : purnama oh purnama , Happy full moon !

No comments: