13.9.09

Terima kasih semesta atas perjalanan ini, sabbe satta bhavantu sukhitatta :)

Jam lima belas lebih entah, saya makan sore bersama ajiz, ayu dan agra di pondok jowi. Kami duduk di meja paling belakang, tetapi belum lama duduk, kami diminta pindah ke depan, karena tempat duduk yang belakang akan di tata untuk acara. Jadi saya bersama teman-teman berpindah tempat duduk agak ke depan, saya duduk, ayu dan agra duduk, saya duduk kemudian ajiz meletakkan nomor meja. Saya pun memulai pembicaraan, mengomentari nomor meja 26 yang diletakan di meja, jika 2 ditambah 6 akan menjadi 8. Angka 8 memang disukai masyarakat karena dianggap membawa keberuntungan.
Perbincangan mengalir adanya, awalnya kami mengomentari pesan pendek dari seorang teman , kemudian tentang kehidupan seni di dekat aliran sungai , kita tidak akan bisa menebak aliran sungai, hingga agra mengajukan pertanyaan tentang kesadaran, Agra mulai berbicara tentang kesadaran mengamati lingkungan sekitar, rumah, dan lingkungan. Apakah kita benar-benar sadar ketika makan ? apakah kita benar-benar sadar kita berjalan ? apakah kita benar-benar sadar ketika minum ? Jangan -jangan ketika kita mengetahui kita sadar, pikiran kita masih saja menari lincah di kepala, apakah kita benar-benar sadar adanya ?
Ayu dan aziz berbincang asyik sekali di samping saya, entah apa yang mereka perbincangkan. Saya dan agra masih berdiskusi mengalir saja, tentang merasakan keberadaan diri bagian dari semesta, hembusan udara, angin, hewan, pohon-pohon disekitar yang hijau atau tidak, langit, air , tanah bagian dari keberadaan diri. Mengamati pikiran dan lompatan dan loncatan kacau, pikiran yang tidak pernah diam. Membiarkan saja , menyadari begitu adanya. Ya ricauan itu datang kembali tentang konsep ketuhanan setiap orang. Bagaimana orang mempercayai kitab sucinya? apakah itu produk pikiran ? Kenapa orang bisa fanatik dengan yang dianutnya? Kenapa itu hanya omong kosong ? Sangat ricau sekali dalam pikiran saya dan agra. Ya itu PIKIRAN. oh pikiran sangat lincah sekali. Kami ricau mengalir adanya, membiarkan angin masuk pori kulit, bau amis kolam menyengat, suara kran air resah wastafel, piring-piring kotor di meja, hisap rokok masuk ke tubuh, orang-orang berbincang di sekitar dalam taman bermain pikirannya. Oh semesta, kami menyadari kekacauan itu begitu adanya, begitu adanya. Kami asyik sekali berbincang, hingga pelayan meminta kami pindah ke sebelah , karena mereka akan menata tempat untuk acara. Derit kursi miris di dada, pelayan yang ramai menambah kicau pikiran, kami meninggalkan nomor meja 26 .Saya dan agra duduk berhadapan, melanjutkan perbincangan tentang emosi positif semesta yang bisa kita amati dari lingkungan sekitar kita, dari pohon-pohon, tanaman, hewan, batu, tanah, air, udara yang saling berkaitan, dimana lingkungan sekitar bersama kawannya memiliki pancaran gelombang energi yang berbeda-beda. Seperti kita merawat tanaman, bunga dengan telaten dan kash sayang, maka energi yang terkandung dalam pohon tersebut dapat menangkap energi positif dari manusia, sehingga sangat bermanfaat bagi seluruh mahluk.
Ajiez menepuk bahu saya, urat nadi sebelah kiri saya berdetak cepat dan sangat kencang, jadi saya bingung apakah saya harus melanjutkan perbincangan dengan agra atau ajiz. Pikiran hanya menangkap tentang perkataan ajiez kalo ternyata ayu itu adalah teman SD-nya waktu di semarang. Pikiran itu samar, saya melanjutkan perbincangan dengan agra, tetapi pikiran begitu asyik, nadi sebelah kiri saya berdetak sangat cepat.Saya menoleh , menatap wajah ajiez. Jadi selama ini ayu dan Ajiez baru sadar kalau mereka ternyata teman SD di Antonius II Semarang. Ini terbongkar ketika ayu dan ajiez memperbincangkan bagaimana mereka belajar tentang 3 agama yang berbeda, dan mulai menceritakan tentang pengalaman masa kecil ketika ajiz pindah dari solo ke kelas 4 di SD di semarang, kemudian Ayu pindah dari Lampung Ke SD semarang. Mereka bicara tentang sekolah katolik di semarang, mereka saling curiga karena ternyata teman-teman yang ajiz sebutkan ayu pun kenal. YA ayu dan ajiz menyebut nama SD yang sama, SD Antonius II Semarang. Waktu itu ayu dan ajiez satu kelas , mereka tidak begitu akrab, karena jumlah 40 siswa dalam setiap kelas. Di tambah lagi, naik kelas lima ajiez pindah ke Solo dan ayu pindah ke Bali. Wajah-wajah itu mengendap dalam pikiran , ricau kacau terlupa, dan mereka menyadarinya di sore ini . Mereka kaget, senang, mulai menyadari peristiwa , kenangan lampau tentang bunda maria, gereja di dekat sekolah, kantin, ulangan, mengunjungi museum dsb. Mereka pertama kali bertemu dallam waktu entah, terlupa karena timbunan pikiran-pikiran yang begitu kacau di kepala. Akhirnya mereka menyadarinya sore ini.

Kami melirik nomor meja sebelah 26, jika 2 ditambah 6 akan menjadi 8.Langit dan bumi tujuh hari lamanya sehingga hari kedelapan merupakan hari pertama dari season yang baru. Demikian juga dengan tujuh hari dalam seminggu menjadikan hari kedelapan sebagai hari pertama minggu berikutnya.jika 6 dikurangi 2 menjadi empat. 4 adalah saya, ajiz, ayu dan agra. Kami berbincang di tanggal 13, jika 1 ditambah 3 adalah 4, 4 adalah kami. Kami yakin akan bertemu dengan dzat dzat yang berhubungan dengan diri kita. Dzat bisa berarti apapun. Alam semesta menyimpan segudang misteri untuk dipecahkan, namun setiap satu misteri terungkap akan muncul misteri baru. Ruang waktu seperti sebuah jajaran teka teki yang menanti manusia untuk mengisi setiap jawaban. Terima kasih semesta atas perjalanan ini, sabbe satta bhavantu sukhitatta :)

Solo, 13 September 2009

No comments: