6.9.09

Lonceng api pagi

Sudah sebulan, aku perempuan gaun merah melilit tubuhku, mata itu mencari cari kemana mana tubuhmu. Lalu kita kembali melewati jalan yang tidak begitu tua, aku berbicara tentang warna di jalan. Lonceng itu berkali kali bunyi, aku masuk duduk di kursi panjang, menatap maria dan entah berbicara apa. Karena kata kata hanya berhamburan di kepala, aku tidak mau berkonsentrasi , membiarkannya. Hai maria, aku tidak membaca kitabmu. Tetapi ketika aku mendengar lonceng itu berbunyi berkali-kali, kakiku ini mulai beranjak , masuk, duduk di kursi ini.Hai , maria, apakah kau tahu aku ?
Dunia, aku menyulut rokok murahan, walaupun aku tahu dadaku remuk, aku menikmatinya. Asapnya membuka mantra mantra pagi, aku duduk di kursi panjang ini, menatapmu maria, entah kata apa yang harus aku keluarkan. Gaun merahku ini sudah sebulan aku kenakan, aku suka, seperti tubuhku terlilit darahku sendiri.
Aku berjalan pelan, menyulut api lagi, menghisap, terbang berkali kali, mati. Aku berjalan menuju menara, indah ketika aku melihat dari kejauhan tubuhku. Pagi ini , wajah maria, seperti menuntun tubuhku menyapa menara itu. Aku menaiki tangga, asap tersedak, menjebak aku dalam gelap. Tangga tangga itu seperti bercerita, hai aku berada di labirin yang benang-benangnya bisa aku putus sendiri, kemudian aku tali kemudian aku putus kemudian aku tali mati. Tangga tangga yang tak lagi kuat . entah sudah berapa tanjakan yang aku lalui. aku hanya tertarik menempelkan jari di dekat tembok, kemudian merasakan risihnya sampai dadaku. Tali yang panjang itu, aku menariknya berkali kali.Suara yang muncul membuat telingaku bergumam tentang yang begitu lunglai, kemudian wajah wajah lampau asyik sekali berdatangan, aku suka sekali membunyikan lonceng itu, berkali kali, menyulut api, asap asap berkeliaran terbang, berkali kali kubunyikan lonceng, api aku sulut, asap terbang lalu mati.dada oh dada, aku tidak tahu lagi apa kitab suciku, aku meutuskan untuk tidak mempunyai kitab suci, aku lalu. Kemudian menari , menyulut api, telanjang kaki, lonceng berkali kali bunyi. aku tidak sembunyi.

Solo, 6 September 2009

No comments: