16.9.09

bisik-bisik balon dengan mesin ketik (Ayah)

Jadi beberapa dari sekarang memang menyakitkan, aku tak mungkin membual tentang macam yang tak ada habisnya di perbincangkan, semacam : bagaimana aku beribadah ? apakah aku harus memakan roti? jadwal mana yang harus dihadiri untuk mendengarkan petuah ?
aku tak mungkin lagi berjalan dengan gerakan yang sama, karena daun daun yang mengusik dada semakin berjatuhan, mengajakku memecahkan mudra yang tersembunyi di lekuk jari-jari. Aku sakit. Itu biasa saja. Karena memang ini sakit. Buat apa harus ditutupi dengan senyuman dan tertawa yang sementara. Jadi menangis sepuas-puasnya. Kecewa menyapa daun daun, dada kering di resap jaman.
Aku membuntuti semacam histori itu, lalu kau mengusikku dnegan berbagai pertanyaan, buat apa? apakah kau mampu mengejewantahkan itu semua ? buat apa?
Sore itu, aku jalan menyimpan sesak daun daun mengusik dada, berhenti di toko menyimpan semacam perbincangan dengan lalu. Jadi kira-kira apakah kita benar-benar berhati seperti daun daun itu? Mereka jatuh, mengusik dada.

Mesin ketik

Ayah mengetik , aku ketik dibawah selimut, gelap , pikiranku melihat balon-balon kecil , warna warni. Tangan ayah ketik, abjad yang terus dia ungkapkan dalam malam. Aku begitu seru malam itu, ayah mengetik, aku hanya ingin dibalik selimut. Mendengarnya ketak, ketik. Balon-balon muncul , warna warni menysup tubuhku di bawah selimut. Aku bergumam pelan. Ayah menulis apa , balon-balon?
Mereka beterbangan, aku mendengar tangan ayah ketak ketik. Aku kedap kedip. Balon-balon hinggap ketubuh ayah.


Aku dibawah selimut, mendengar balon balon bisik-bisik. Dia mengirimkan warna merah gelap. aku dibawah selimut, dadaku begitu sesak .Ayah ada apa ?



Solo, 16 september 2009

No comments: