19.9.09

Kartu pos Wortel untuk kapanpun aku mau

Diam diam melihat kembali kendala yang melipat duniamu. Tentang racun yang aku bosan mendengarnya. Berkali kali mendengar entah khotbah , menghuyung tubuh di peluk rindu. Ya, rindu katamu. Aku tak harus melafalkan dengan jelas lewat mulutku. Bisa saja kapanpun itu. Semacam pergerakan jarum yang bisa saja aku balik sesuka, aku.

KARTU POS

Sebentar, melipat kartu pos yang sudah aku gambar di sore itu. aku tidak memilih kartu pos harvest di tumpukan supermarket, kata ibuku kartu pos itu mahal. Jadi aku diam saja.Padahal aku tertarik dengan kartu pos bergambar anak kecil berpeci bersepeda biru. Aku merajuk, meminta dibelikan lem. Lem kecil yang tutupnya warna merah, harganya duaratus rupiah. Ibu mengabulkan permintaanku.Aku pulang dengan lem di tangan. Membuka laci ayah, tumpukan kertas berhamburan. AKu memilih warna putih kecoklatan, dua lembar saja. Dibalik itu aku menggambar wortel kesukaanku, warnanya pelangi, matanya ada dua, Sangat tajam,aku menggambar gogo . Aku menggambar wortel yang sangat banyak dengan titik titik pelangi yang sangat banyak pula. Selesai sudah, aku bingung harus menuliskan apa di kertasnya.

Jadi nak, besok kartu pos dikirimkan kakak ke aceh ?

aku sudah membuat kartu pos, gambarnya wortel , warnanya pelangi, tapi aku ga mau ditulisin..

kok wortel ? bikin lagi ya nak, yang gambar ketupat, dibawahnya ditulis mohon maap lahir batin

Lho bu' bulan kemaren khan aku sudah menulis surat sama gambar ke kakak, aku menggambar mickey mouse warna merah, terus aku minta maap soalnya poster mickey mouse kesayangan kakak aku robekin.Jadi sekarang gambar ketupat gtu ya?

iyah nak, ayo gambar yang bagus..besok dikirim ke kakak yah

(tanganku mencorat coret kertas coklat milik ayah)






aku menggambar tujuh wortel kesukaanku, ada warna merah, kuning, biru, hijau, orange, ungu aku campur campur jadi satu. Aku mengirim kartu pos itu untuk kakakku, aku bilang ke ibu aku bisa mengirimnya kapanpun.Wortel merah aku kirim hari senin, wortel biru aku kirim hari selasa, wortel hijau aku kirim rabu, wortel orange aku kirim kamis, wortel ungu aku kirim jum'at, wortel campur campur lainnya bisa aku kirim sabtu dan minggu. Ibuku tersenyum dan menyentuh bahuku lembut , pukpukpuk.



Solo, 19 September 2009

18.9.09

As if By Magic

TRAGIC, Aku memutar jam yang bisa aku putar semau apapun, aku memutar angka 13 di jam sekarang. Di pojok kamar, menikmati diri bersembunyi , mengucapkan mantra : Tragic. Lalu aku masuk dalam asap yang aku ciptakan sendiri. Aku bertemu sebelah sepatu kaca , sepertinya milik cinderella, tapi aku biarkan saja. Seperti awan beterbangan dalam kamar. AKu berhamburan bersama kapas-kapas yang tak lagi putih. Aku menciptakan sendiri menjadi warna yang aku suka. Saat ini aku suka ungu, aku membuat kapas berwarna ungu berhamburan dalam duniaku.
Mantra yang kerap aku ulang, aku membuka dompet teddy bear berwarna ungu.Lipatan-lipatan nota entah lama yang aku gambari wajahmu, yang aku tulisi semacam kata-kata yang entah aku tak tahu maknanya. Aku membukanya kembali. TRAGIC.


FASCINATION

(aku menggerakkan tubuhku, aku tidak melihat kakiku)

Saat itu juga, memiliki ruang yang dalam untuk tubuhku. Aku bergerak melipat jari membentuk segitiga diatas kepala, aku menggerakkan tanganku setengah bulan. Aku tak mau berteriak, aku tahu ada semacam aliran energi mengelilingi, warnanya ungu.


UNGU


lagi-lagi ungu, kemudian aku menutup jendela, menjatuhkan tubuh di atas dipan kayu coklat, kakiku mengawang. Seperti ada aliran ungu dari bawah dipan yang mencoba menali kakiku. Napasku oh napasku, mata pejam. MAGIC.


Solo, 18 September 2009

Panorama Sore : .Ibu membiarkan aku menangis.

Kemudian ibu membuat sirup berwarna merah,. Entah itu rasa buah apa. Ibu memotong pepaya menjadi bentuk bintang, aku suka itu. Tetapi kakakku lebih suka potongan pepaya yang berbentuk bulan sabit. Wajahku menekuk, aku suka diam, jika kakakku berulah.


UNTUK JUM'AT

Ibu membiarkan wajahku menekuk, tanganya sibuk membuat bulan sabit . Pepaya merah itu menjadi bulan sabit yang sangat banyak. Di wadah transparan kuning, kakakku menunggu ibu memotong bulan sabit. Pepaya menjadi bulan sabit. Wajahku menekuk, aku kesal, marah. Aku lari meninggalkan bulan sabit, ibu dan mengumpat dalam hati . Kakakku berulah. Aku lari ke halaman. Mengambil tongkat kakek yang tersimpan di gudang belakang rumah. Aku menggambar bintang besar disitu, menangis tersedu sedu. Mengutuk kakakku yang berulah. AKU BENCI BULAN SABIT.AKu menggambar bulan sabit disamping bintang.Mencorat corat bulan sabit bercapur kekesalan di tanah , resah resap. Ibuku berkali kali memanggilku, tetapi aku tidak menggubris. Ibu datang kepadaku.

Aku bilang :" Ibu aku ga mau pepaya berbentuk bulan sabit"

Ibu mengusap rambutku, aku menangis tersedu.Ibu membiarkan aku menangis.


Solo, 18 September 2009

16.9.09

bisik-bisik balon dengan mesin ketik (Ayah)

Jadi beberapa dari sekarang memang menyakitkan, aku tak mungkin membual tentang macam yang tak ada habisnya di perbincangkan, semacam : bagaimana aku beribadah ? apakah aku harus memakan roti? jadwal mana yang harus dihadiri untuk mendengarkan petuah ?
aku tak mungkin lagi berjalan dengan gerakan yang sama, karena daun daun yang mengusik dada semakin berjatuhan, mengajakku memecahkan mudra yang tersembunyi di lekuk jari-jari. Aku sakit. Itu biasa saja. Karena memang ini sakit. Buat apa harus ditutupi dengan senyuman dan tertawa yang sementara. Jadi menangis sepuas-puasnya. Kecewa menyapa daun daun, dada kering di resap jaman.
Aku membuntuti semacam histori itu, lalu kau mengusikku dnegan berbagai pertanyaan, buat apa? apakah kau mampu mengejewantahkan itu semua ? buat apa?
Sore itu, aku jalan menyimpan sesak daun daun mengusik dada, berhenti di toko menyimpan semacam perbincangan dengan lalu. Jadi kira-kira apakah kita benar-benar berhati seperti daun daun itu? Mereka jatuh, mengusik dada.

Mesin ketik

Ayah mengetik , aku ketik dibawah selimut, gelap , pikiranku melihat balon-balon kecil , warna warni. Tangan ayah ketik, abjad yang terus dia ungkapkan dalam malam. Aku begitu seru malam itu, ayah mengetik, aku hanya ingin dibalik selimut. Mendengarnya ketak, ketik. Balon-balon muncul , warna warni menysup tubuhku di bawah selimut. Aku bergumam pelan. Ayah menulis apa , balon-balon?
Mereka beterbangan, aku mendengar tangan ayah ketak ketik. Aku kedap kedip. Balon-balon hinggap ketubuh ayah.


Aku dibawah selimut, mendengar balon balon bisik-bisik. Dia mengirimkan warna merah gelap. aku dibawah selimut, dadaku begitu sesak .Ayah ada apa ?



Solo, 16 september 2009

Ma, mimpi indah ya

Hai dengan segala yang tercipta. Tak ada yang aku ingin ungkapkan tentang keinginan. Jika beberapa darimu adalah bualan yang mencoba menjadi hukum. Beberapa mungkin aku tak membicarakan keinginan. Lagu lagu yang sama terdengar di waktu yang berbeda-beda , aku hanya berbentuk seperti stella, kau mungkin yang menjadi seperti action figure yang terletak di komputer kerjamu (mungkin)

Kenyataan bahwa ini semacam duka dan orang-orang menganggap ini tidak gila, biasa saja. Tiba-tiba engkau membicarakan mimpi tinggal di negeri swiss, katanya damai. Aku mengangguk, menghisap asap (mungkin)


Siapa yang bilang kalau sepatu yang bau itu mengganggu, sepatu itu bisa saja bernilai berharga sekali, jika engkau melemparkan ke wajah muka sorotan kamera yang disiarkan di berbagai negara. ya itu mengangguk, mengajak menikmati semangkok mie dengan tambahan cabe dan kornet yang membuat duniaku seperti aku tinggal di barcelona, melukis bersama vicky. Dan kami menyanyikan mars penyembah berhala.

Siapa yang tahu tentang keakuaan ? keinginan?

Mama memanggilku di tengah malam, aku ke dapur , mengambil air putih segelas dan menemui mama, aku bilang : ma, mimpi indah ya :)

13.9.09

Terima kasih semesta atas perjalanan ini, sabbe satta bhavantu sukhitatta :)

Jam lima belas lebih entah, saya makan sore bersama ajiz, ayu dan agra di pondok jowi. Kami duduk di meja paling belakang, tetapi belum lama duduk, kami diminta pindah ke depan, karena tempat duduk yang belakang akan di tata untuk acara. Jadi saya bersama teman-teman berpindah tempat duduk agak ke depan, saya duduk, ayu dan agra duduk, saya duduk kemudian ajiz meletakkan nomor meja. Saya pun memulai pembicaraan, mengomentari nomor meja 26 yang diletakan di meja, jika 2 ditambah 6 akan menjadi 8. Angka 8 memang disukai masyarakat karena dianggap membawa keberuntungan.
Perbincangan mengalir adanya, awalnya kami mengomentari pesan pendek dari seorang teman , kemudian tentang kehidupan seni di dekat aliran sungai , kita tidak akan bisa menebak aliran sungai, hingga agra mengajukan pertanyaan tentang kesadaran, Agra mulai berbicara tentang kesadaran mengamati lingkungan sekitar, rumah, dan lingkungan. Apakah kita benar-benar sadar ketika makan ? apakah kita benar-benar sadar kita berjalan ? apakah kita benar-benar sadar ketika minum ? Jangan -jangan ketika kita mengetahui kita sadar, pikiran kita masih saja menari lincah di kepala, apakah kita benar-benar sadar adanya ?
Ayu dan aziz berbincang asyik sekali di samping saya, entah apa yang mereka perbincangkan. Saya dan agra masih berdiskusi mengalir saja, tentang merasakan keberadaan diri bagian dari semesta, hembusan udara, angin, hewan, pohon-pohon disekitar yang hijau atau tidak, langit, air , tanah bagian dari keberadaan diri. Mengamati pikiran dan lompatan dan loncatan kacau, pikiran yang tidak pernah diam. Membiarkan saja , menyadari begitu adanya. Ya ricauan itu datang kembali tentang konsep ketuhanan setiap orang. Bagaimana orang mempercayai kitab sucinya? apakah itu produk pikiran ? Kenapa orang bisa fanatik dengan yang dianutnya? Kenapa itu hanya omong kosong ? Sangat ricau sekali dalam pikiran saya dan agra. Ya itu PIKIRAN. oh pikiran sangat lincah sekali. Kami ricau mengalir adanya, membiarkan angin masuk pori kulit, bau amis kolam menyengat, suara kran air resah wastafel, piring-piring kotor di meja, hisap rokok masuk ke tubuh, orang-orang berbincang di sekitar dalam taman bermain pikirannya. Oh semesta, kami menyadari kekacauan itu begitu adanya, begitu adanya. Kami asyik sekali berbincang, hingga pelayan meminta kami pindah ke sebelah , karena mereka akan menata tempat untuk acara. Derit kursi miris di dada, pelayan yang ramai menambah kicau pikiran, kami meninggalkan nomor meja 26 .Saya dan agra duduk berhadapan, melanjutkan perbincangan tentang emosi positif semesta yang bisa kita amati dari lingkungan sekitar kita, dari pohon-pohon, tanaman, hewan, batu, tanah, air, udara yang saling berkaitan, dimana lingkungan sekitar bersama kawannya memiliki pancaran gelombang energi yang berbeda-beda. Seperti kita merawat tanaman, bunga dengan telaten dan kash sayang, maka energi yang terkandung dalam pohon tersebut dapat menangkap energi positif dari manusia, sehingga sangat bermanfaat bagi seluruh mahluk.
Ajiez menepuk bahu saya, urat nadi sebelah kiri saya berdetak cepat dan sangat kencang, jadi saya bingung apakah saya harus melanjutkan perbincangan dengan agra atau ajiz. Pikiran hanya menangkap tentang perkataan ajiez kalo ternyata ayu itu adalah teman SD-nya waktu di semarang. Pikiran itu samar, saya melanjutkan perbincangan dengan agra, tetapi pikiran begitu asyik, nadi sebelah kiri saya berdetak sangat cepat.Saya menoleh , menatap wajah ajiez. Jadi selama ini ayu dan Ajiez baru sadar kalau mereka ternyata teman SD di Antonius II Semarang. Ini terbongkar ketika ayu dan ajiez memperbincangkan bagaimana mereka belajar tentang 3 agama yang berbeda, dan mulai menceritakan tentang pengalaman masa kecil ketika ajiz pindah dari solo ke kelas 4 di SD di semarang, kemudian Ayu pindah dari Lampung Ke SD semarang. Mereka bicara tentang sekolah katolik di semarang, mereka saling curiga karena ternyata teman-teman yang ajiz sebutkan ayu pun kenal. YA ayu dan ajiz menyebut nama SD yang sama, SD Antonius II Semarang. Waktu itu ayu dan ajiez satu kelas , mereka tidak begitu akrab, karena jumlah 40 siswa dalam setiap kelas. Di tambah lagi, naik kelas lima ajiez pindah ke Solo dan ayu pindah ke Bali. Wajah-wajah itu mengendap dalam pikiran , ricau kacau terlupa, dan mereka menyadarinya di sore ini . Mereka kaget, senang, mulai menyadari peristiwa , kenangan lampau tentang bunda maria, gereja di dekat sekolah, kantin, ulangan, mengunjungi museum dsb. Mereka pertama kali bertemu dallam waktu entah, terlupa karena timbunan pikiran-pikiran yang begitu kacau di kepala. Akhirnya mereka menyadarinya sore ini.

Kami melirik nomor meja sebelah 26, jika 2 ditambah 6 akan menjadi 8.Langit dan bumi tujuh hari lamanya sehingga hari kedelapan merupakan hari pertama dari season yang baru. Demikian juga dengan tujuh hari dalam seminggu menjadikan hari kedelapan sebagai hari pertama minggu berikutnya.jika 6 dikurangi 2 menjadi empat. 4 adalah saya, ajiz, ayu dan agra. Kami berbincang di tanggal 13, jika 1 ditambah 3 adalah 4, 4 adalah kami. Kami yakin akan bertemu dengan dzat dzat yang berhubungan dengan diri kita. Dzat bisa berarti apapun. Alam semesta menyimpan segudang misteri untuk dipecahkan, namun setiap satu misteri terungkap akan muncul misteri baru. Ruang waktu seperti sebuah jajaran teka teki yang menanti manusia untuk mengisi setiap jawaban. Terima kasih semesta atas perjalanan ini, sabbe satta bhavantu sukhitatta :)

Solo, 13 September 2009

11.9.09

Persephone : neraka

Membuka kabar berkali-kali, aku mulai menghamburkan macam macam yang di bungkus yang diberikan hades di negerinya.Warna dan warn dan kilau dan kerlip, kau bisa melanjutkan kilau sendiri. Orang-orang menyebutnya neraka, aku tidak merasakan bahwa ini adalah neraka, Hades mengerti bagaimana dia memanjakan perempuan dari bawah tanah yang terbang ke nuansa yang orang menyebutnya gelap. Aku tidak merasakan bualan -bualan orang orang tentang neraka atau gelap itu sendiri. Bagaimana mungkin di negeri hades atau garis miring neraka seperti awam menyebutnya, banyak sekali bingkisan kejutan yang menakjubkan. aku bisa saja menemukan tongkat ajaib yang membuat duniaku tidak kesepian lagi, aku bisa membuat berhektar-hektar ladang jagung di negeri ini. Ah..jika Demeter mengetahui benar-benar kenyataan neraka ini. Pasti dia ingin masuk neraka disini dan segera membuat ladang jagung berhektar-hektar dan segera membuat program variasi jagung dengan warna cerah lainnya, mungkin merah atau ungu warna kesukaanku. oh Demeter, jangan rindukan aku, karena negeri neraka disini tidak begitu neraka seperti pikirmu , Demeter.
Tongkat itu dianggap mati oleh makhluk-makhluk disini. Tongkat-tongkat itu seperti budak yang bisa dipakai kapan saja, mengubah dunia menjadi kemauan oleh "aku" yang tertempel dalam tubuh "aku" di negeri ini. Mereka menyebutnya neraka, aku menyebutnya rumah dengan kelebihan luar biasa dengan nyinyir di kepala .Ketika memasuki dunia hades, kau tidak akan pernah berpikiran bahwa ini neraka, dunia hades adalah dunia keakuan yang luar biasa, jika kau masuk kedalamnya, seperti kau masuk dalam tubuhmu, mengalir darahmu , resap tulang, dunia tubuh itu.Tak heran jika kamu mengulang berbagai peristiwa , kau akan menghampiri semacam perputaran memori dan serangan yang cukup hebat di kepala. Tetapi satu hal, aku suka dengan tempat ini, aku jadi teringat Demeter akan mimpinya tentang ladang jagung dan gandum, berjejalan kenangan, membuat derap langkah dan sesuai yang berhamburan kata, kau tidak akan melawan apa yang disebut sakit. Sakit itu sakit. Aku cocok dengan tempat ini, jadi ketika orang-orang menyebut negeri hades adalah neraka, mereka hanya diawang-awang, mengawang, karena awam belum pernah masuk kesini sebenarnya. Aku tahu Demeter resah, menungguku pulang, aku disini , merasakan negeri yang meraka katakan tentang neraka. Oh mereka diawang-awang.



Persephone terpejam menengok dunia bawahnya, kelap kelipnya akan wajah Demeter, daqri Cronus dan Rhea.

Solo, 11 September 2009

10.9.09

Persephone : matahari

Demeter memuncak, melihat jari jari kaki yang tegang , akan berlari kemana? Demeter seperti mengungkapkan sebuah kabar kemarahan.Lunglai namanya, tubuhnya tak bisa mengenal titik rahasia yang membuat wajahnya simpul. Demeter , wajahnya merah. Dia berteriak keras, menyebut nama persephone berkali-kali.Dia hanya ingin mengungkapakan berkas sampah yang mengendap dalam pikiran, mungkin semacam gambaran jalan-jalan sore dengan persephone, teh hangat di meja coklat persephone, buku harian coklat yang tergeletak di rumput kuning, terinjak-injak kakinya sendiri. Demeter di ruang besar, langit menertawakan dengan warna ungu sore .Demeter mencari-cari bayangan sendiri, bayangan lari diculik menuju ke perapian rumah. Kakinya seperti berkata, Persephone aku ingin menginjak hitam bayang tubuhmu. Persephone kau dimana ?

UNGU (Persephone)

Dunia bawah aku menyebutnya, menjadi semacam taman bermainku. aku suka sekali membuat sirup buah anggur. Aku hanya ingin mengingatkan, aku suka sekali membuat sirup buah anggur, yang warnanya ungu. Ketika aku duduk diam di sudut dunia bawahnya. aku memejamkan mata, pikiranku bertemu dengan kawan-kawan dari negeri buah semacam apel merah, wortel orange merekah, lobak, lemon, pisang, cherry dan semacam kawan lainnya. Mereka berlarian , menyukai taman bermainnya. berlarian bersama kawan-kawan. Aku mulai kebingungan, bagaimana menyadari gerak teman-teman ketika terpejam? wortel, apel, lobak, pisang, lemon , cherry berlarian kencang dalam pikiran. Bagaimana aku menyadarinya ? Teman-teman berputar, ketika aku gusar. Aku duduk diam, mata terpejam, teman-teman dalam negeri buah pikiran berlarian kencang hebat. Aku mengamati saja, begitu adanya. Biarkan kencang, biarkan sesak, sadari begitu adanya. Oh itu apel, itu wortel, itu lemon, itu lobak, itu dia. kacau, ricau itu adanya. Lingkaran berwarna ungu semakin mendekat, lekat di tengah kedua belah mataku. Menghembuskan napas, membuka mata pelan, aku ingin sekali ke taman belakang membuat sirup buah anggur, yang berwarna ungu. Lingkaran ungu itu pelan-pelan menyelemuti tubuhku, apakah ini ?
Tubuhku menjadi ungu bersinar, ah di atas sana helios, dewa matahari sedang panen. Ini bukan pesta kejutan, yang benar kilaunya menjadikan tubuhku menjadi semakin panas. Apakah ini yang dimaksud dengan perbincangan dengan helios?
Tetapi mataku. tak sanggup menjangkau, sinar itu mengacaukan, sinar itu tiba-tiba seperti menyerang tubuhku , gumpalan gumpalan terbang dari langit menyerangku. Aku tak bisa bergerak, gumpalan itu menali mati tubuh ungu. Beberapa ricauan datang, mataku lemah, aku seperti menangkap hades dalam gumpalan itu. Mungkinkah helios bekerjasama dengan hades untuk menghancurkanku ?

Solo, 10 september 2009

Persephone : hijau


Lalu meradang menjadi cairan yang aku telan dengan sejuta asa, aku mandi berkali kali dengan bayangan beberapa orang dikepala, leher mengangguk, aku tak tahu, apa itu. Apakah ini semacam perbincangan bawah sadar dengan yang lain atau makhluk yang kiranya benar benar disekitar, aku meraung sejadi-jadinya dengan warna merah yang cukup megah, satu cangkir yang tak tahu entah di malam dan gelisah duduk dibumi yang kurang binar. Dia adalah sejuta asa dan tak tahu menahu, aku malu, aku malu dengan tubuh yang tak asli lagi. Disentuh dengan bahasa dan aku begitu racau.
Dia adalah sepasang mata yang mati aku tak tahu berapa harga mati itu. Itu cairan merah masuk dalam tubuhku mataku sayu, aku melagu tak tahu alur. Siapa yang memasukan dalam tubuhku. Aku begitu malu.
Oh gelap tak ada yang tak karap, dia makan, dia malam yang lalai dan dungu. dia dan dia selalu berada dalam pikiran tentang tokoh yang berakting .lamaran-lamaran yang dikrim berkali kali tak pernah tersampaikan, apakah kau putus asa ? atau bosan mengumbar ?semacam curhat dibilang kelu, duduk duduk di payah hari, aku nona, katanya dan dua dua melulu tak tahu begitu lagu, aku kemudian menjadi semacam beberapa yang tak hambar aku tahu itu
Lalu aku berbicara apa, aku saja begitu ricau, kau tahu perbincanganku, atau jangan jangan memang aku mendua dalam bahasa, dalam duniaku dalam keluku, aku tak tahu menahu.siapa kamu? Lagu? Atau sebanyak itukah para burung akan memangsa kulit di dalam kesal dan aku tak akan berkata bahwa aku adalah pikiran itu. Aku pikiran itu. Di dalam itu ada tertawa, ada cairan merah ada karap, ada lalai, ada kaya, ada semacam pesan pesan yang tak tersampaikan,aku bangun dengan burung burung yang begitu peluh . Dan malam perjanjian yang tak pernah datang. Atau aku putus asa menunggu yang belum datang
Siapa gerangan itu? Aku kemudian duduk di bawah temaram, sudut ruang yang tak akan dilahap. Aku kembali berjalan menyusuri jalan dengan gaun hijau kesayangan, menyala rokok di hisap mulut hitam. Masam, kerap aku berjalan melihat perempuan yang hanyut dengan rajutan, sore itu dunia dunia..

Solo, 9 september 2009

6.9.09

Lonceng api pagi

Sudah sebulan, aku perempuan gaun merah melilit tubuhku, mata itu mencari cari kemana mana tubuhmu. Lalu kita kembali melewati jalan yang tidak begitu tua, aku berbicara tentang warna di jalan. Lonceng itu berkali kali bunyi, aku masuk duduk di kursi panjang, menatap maria dan entah berbicara apa. Karena kata kata hanya berhamburan di kepala, aku tidak mau berkonsentrasi , membiarkannya. Hai maria, aku tidak membaca kitabmu. Tetapi ketika aku mendengar lonceng itu berbunyi berkali-kali, kakiku ini mulai beranjak , masuk, duduk di kursi ini.Hai , maria, apakah kau tahu aku ?
Dunia, aku menyulut rokok murahan, walaupun aku tahu dadaku remuk, aku menikmatinya. Asapnya membuka mantra mantra pagi, aku duduk di kursi panjang ini, menatapmu maria, entah kata apa yang harus aku keluarkan. Gaun merahku ini sudah sebulan aku kenakan, aku suka, seperti tubuhku terlilit darahku sendiri.
Aku berjalan pelan, menyulut api lagi, menghisap, terbang berkali kali, mati. Aku berjalan menuju menara, indah ketika aku melihat dari kejauhan tubuhku. Pagi ini , wajah maria, seperti menuntun tubuhku menyapa menara itu. Aku menaiki tangga, asap tersedak, menjebak aku dalam gelap. Tangga tangga itu seperti bercerita, hai aku berada di labirin yang benang-benangnya bisa aku putus sendiri, kemudian aku tali kemudian aku putus kemudian aku tali mati. Tangga tangga yang tak lagi kuat . entah sudah berapa tanjakan yang aku lalui. aku hanya tertarik menempelkan jari di dekat tembok, kemudian merasakan risihnya sampai dadaku. Tali yang panjang itu, aku menariknya berkali kali.Suara yang muncul membuat telingaku bergumam tentang yang begitu lunglai, kemudian wajah wajah lampau asyik sekali berdatangan, aku suka sekali membunyikan lonceng itu, berkali kali, menyulut api, asap asap berkeliaran terbang, berkali kali kubunyikan lonceng, api aku sulut, asap terbang lalu mati.dada oh dada, aku tidak tahu lagi apa kitab suciku, aku meutuskan untuk tidak mempunyai kitab suci, aku lalu. Kemudian menari , menyulut api, telanjang kaki, lonceng berkali kali bunyi. aku tidak sembunyi.

Solo, 6 September 2009

4.9.09

TRia Nin: happy full moon : pikiran dadu. Seperti menerjemahkan tentang kapilawastu, kelahiran, mangkat, lumbini, purnama sidhi dan entah

Di depan rumah,mudra, asana, pranayama pelan pelan mengalir udara dalam tubuhku. Di depanku Anjing hitam cindy lagi tidur tidak mau diganggu. Aku , mas bayu dan bapak topo di depan rumah di atas lantai batik tua. Tangan ini, kaki ini, dada ini, mata ini, napas ini udara mengalir dari hidung. Resah yang tertahan, resah yang tertahan memuncak menari bersama.
Lalu aku duduk terbenam bergumam pelan, aku resah. Itu yang aku ketahui dalam tubuhku , aku begitu resah. Dan beberapa hari ini adalah semacam pengenalan tentang kemarau. Benarkah ternyata kabar kabar yang dijual di kertas kertas berharga lebih dari seribu itu adalah resah. Mengaduh adalah peluh, dan ketika itu hadir dalam lusuh. Ketika itu aku tak tahu. Apa yang terjadi disana. Bulan mengeram menjadi semacam pasta yang tak lagi putih, karena disimpan tersembunyi entah waktunya . Aku tak bisa mengukurnya.
Aku bukan pengukur, mistar itu juga tidak bisa aku gunakan untuk mengukur jarak dariku menujumu. Aku berulangkali melihatmu dan mengabarkan purnamamu ke tubuhku, asana, mudra, pranayama. purnama oh purnama. purnama oh purnama.
Lalu aku menuju dhamma sundara, dalam perjalanan aku tahu kau melingkarkan titik titik cahaya ke tubuhku. Aroma jalanan masakan timur yang menusuk hidung, risau motor, resah mobil, lalu lalang cepat-cepatan mendahuluiku. Aku terus saja melaju. Aku melaju , pikiran dadu. Aku melaju, pikiran dadu. Pintu coklat itu menyambutku, aku masuk kedalamnya, meditasi, pikiran dadu, pikiran dadu. Itu adalah pikiran dadu. Ini adalah pikiran dadu. Melesat cepat. Melesat hebat. Pikiran dadu oh Ini pikiran dadu. Seperti menerjemahkan tentang kapilawastu, kelahiran, mangkat, lumbini, purnama sidhi dan entah ricau yang banyak. pikiran dadu. Lonceng berbunyi, aku menggosokkan tanganku yang panas, ternyata aku sudah satu jam disini, aku menyapamu : purnama oh purnama , Happy full moon !