30.8.09

Ibu berkata, aku harus menguburnya ke dalam tanah, seperti orang mati.

Aku diantara kain yang bergelimpangan di dahan, aku kembali tersedak dengan berbagai pikiran, kau tahu rasanya sangat menyesak. dada dada da da panas. kembali menuangkan semacam duka yang tak tahu entah kemana. aku mencuci darah di tangan dari mulutku, aku malu dengan tubuhku, aku begitu layu. aku tidak berbincang tentang dendam, aku berbincang tentang kegilaan yang menyeretku untuk kembali untuk kembali disni. Durga menarikku menawarkan semacam tablet anti lara, katanya. buram buram rayu merajah tubuh, Duka tubuhku ditato semacam mantra mantra yang aku rindukan semasa kecilku. Aku meludah, darahku entah tak bernilai . aku malu dengan tubuhku, Kemudian aku hanya berdiri di dekat kaca, melihat mukaku pun malu.


BUDHA

Begitu aku menarik ke dalam, aku semakin tahu pikiran berkelibat hebat, dalam dan kemudian menyeretku seperti aliran sungai yang aku sendiri tak tahu namaku, ketika aku berucap, ketika aku tahu itu kosong, ternyata itu pikiran. Bayang yang takut di dekat toilet memaksaku untuk sekedar mencuri curi wajah di cermin yang aku malu. darah mengalir ke wastafel kemudian mengalir ke selokan kemudian mengalir ke sungai sungai, pikiran pikiran berkelebat, ketika kau tahu itu kosong. oh ternyata itu hanya pikiran. Buddha menyampaikan salamku di tepi sungai di samping rumah.

MENSTRUASI

Merah namanya aku bertengkar dengan ibuku mengenai pembalut yang cocok untukku, aku kemudian menggeliat menjadi semacam serigala di supermarket, menjadi seorang egois memilih pembalut dengan merek tertentu memasukkan dalam keranjang belanja ibu. Ibu menggerutu, gigi giginya seperti mengetuk ngetuk hatiku, risih aku mendengarnya. Aku pulang dengan pembalut kesukaanku, setelah itu perdebatan dimulai tentang bagaimanakah harus melenyapkan pembalut merah di menstruasi bulan pertamaku. Ibu berkata, aku harus menguburnya kedalam tanah, seperti orang mati.


HAMIL

Di ruang kelas berjumlah sekitar 40 siswa , itu yang aku ingat. Guru agama mulutnya berjejalan mengenai lelaki dan perempuan kemudian bahagia kemudian melingkar kemudian seperti ada semacam tangisan kebahagiaan berbentuk makhluk bayi. Mataku bola bola didepanku berwarna warna seperti kuning, merah, hijau dan sekawannya. Aku menjadi sekitar gadis 5 tahun,aku mengikuti ibuku menuju rumah tetangga yang melahirkan. ibu tidak mengetahuinya, aku diam diam dibelakangnya, aku tersedak, menangis sekencangnya, melihat darah berceceran dimana-mana. Ibu kaget, langsung menggendongku membawa pulang kerumah. Setelah itu tetanggaku sibuk menyiapkan upacara pemakaman untuk bayi yang entah aku tak tahu namanya. Akumerah, tersedak , pikiranku berbentuk merah lari ke aliran air toilet, aku pingsan di toilet dengan perut yang perih .

YESUS

aku mengerjakan soal soal di LKS ketika aku bersekolah dasar, tiba tiba perutku perih, aku lari ke toilet. aku bilang ke ibu kalau aku bertemu kakek berambut panjang dan meninju perutku. Aku bilang ke ibu , dia yang menyebabkan perutku perih dan mataku merah. Ibu bilang aku mengada-ada. sejak hari itu aku sering bermimpi seperti bertemu kakek kakek berambut panjang dari entah, seperti aku bertemu dengan soal-soal LKS yang menguraikan nama bernama YESUS.


TOMAT

Tomat di kebun belakang sekolah dasar, aku benci dengan seoarang kakak kelas yang menghina seorang teman semejaku. Aku lari ke belakang kebun sekolah, aku mengambil 3 tomat merah, dan melemparkan ke baju putih seorang kakak kelas yang membenci teman sebangku. Dia lelaki yang menangis keras.Ketika cawu 3, guru agama memberi nilai 6 untuk raportku.



Aku memulainya dari kaca, aku membuka kran , membersihkan darah di tangan dari mulutku, aku malu dengan tubuhku. buram.


Solo, 30 agustus 2009

No comments: