15.6.09

catatan harian : tentang semesta bicara, rumah tawon dan Halo tujuh (18-05-09)

Tubuh letih,minggu redam saya pun memutuskan untuk pulang dari rutinitas kerja sebuah ruang penuh musik dan kata-kata. Saya bersama redo, motor merah saya yang setia menemani saya ke manapun. Udara tadi malam sangat dingin, saya dan redo berjalan pelan. Ini adalah bagian terberat dalam perjalanan, suara menderu di sekitar dan pikiran mulai berfoya-foya.Bisa-bisa jika tidak menyadari ini, saya bisa bergumam atau berceloteh sendiri.Mengamati napas yang mengalir pelan di hidung adalah rutinitas yang saya lakukan ketika sedang dalam perjalanan.Pikiran memang begitu asyik berpesta, saya hanya mendengarnya saja.Suara klakson mobil, motor menderu berlalu dalam perjalanan malam-malam gamang.Di sebuah perempatan sebelum belok ke kanan menuju rumah, saya harus berhenti karena lampu merah menari.Di depan saya ada sebuah mobil berwarna coklat, lampu di belakang membuat mata silau.Saya menunduk dan membaca plat mobil dan cepat terekam dalam
pikiran AD 8608 HC, dibawahnya tertera angka kecil 08.09.Pikiran risau,Teringat tentang masa lampau, tentang tangisan pertama saya, tentang komedi putar, tentang sepeda merah, tentang lilin, tentang buku-buku usang, tentang pagi, tentang bapak, tentang mimpi,tentang kelahiran, tentang teratai, tentang ibu, tentang mati intuisi, tentang tiket, tentang diri apapun.Saya yakin, semesta tersenyum dan bicara ke saya.Jadi saya juga teringat tentang tiket kereta api prameks bernomor 8608, tertanggal 1 mei 2008 dan tahun lalu pun saya seperti berkunjung ke masa-masa kelahiran saya sebelumnya. Semuanya menjadi membaur, angka-angka itu , semesta itu bicara dan saya menyadarinya.Tahun lalu saya pernah menceritakan pengalaman sama seperti ini dalam catatan harian saya disini.Ketika hari itu tiba, 860808 saya masih merasakan hangatnya teman-teman di sekitar saya, menyentuh saya untuk mengingat tentang kelahiran-kelahiran masa lampau, kematian kematian intuisi dan lahir kembali dan mati lagi dan lahir kembali entah sampai kapan.Tadi malam adalah lagi.Saya menjumpaimu di mobil berwarna coklat AD 8608 HC, dibawahnya tertera angka kecil 08.09.Semesta menyentuh dan mengingatkan tentang peringatan kelahiran saya, 080609.Terimakasih telah mengunjungi malam gamang.Saya mencium energimu semesta. Saya berdialog denganmu malam ini.Saya masih merasakanmu semesta, walaupun mobil berwarna coklat dengan angka-angka itu berlalu,dan seseorang dari mobil membuang puntung rokok, mata ini pun tertuju merahnya sisa rokok yang terbang berhamburan ke udara dan kemudian jatuh ke aspal. mati.

Jam dinding rumah menunjuk pukul 21 lebih entah,ibu membuka pintu, masuk rumah, tubuh lemah. Saya segera membersihkan tubuh ,bermeditasi dalam waktu entah kemudian beristirahat.Semuanya menjadi gelap, mimpi gelap, tak ada gambar apapun dan tak mendengar dering apapun.

Pagi ini, racau burung masih terdengar dari kebun belakang milik tetangga.Entah, saya jadi malas-malasan di tempat tidur.Melihat langit biru dari genting kaca kamar cukup lama. Pikiran ini berpesta lelap.Saya kaget ketika seekor tawon menyapa saya, mendekati kepala saya.Saya hanya diam saja.Jika saya bergerak, saya takut tawon itu akan menyengat saya.Pernah waktu kecil, tangan saya besar seperti sarung petinju karena sengatan tawon, rasanya sangat sakit.Jadi saya diam.Dan menunggu tawon menghindar dari tubuh saya.Hanya sebentar tidak lebih dari 3 menit, dia terbang menuju rumahnya di bawah rak buku saya.Rumah coklat yang dibuatnya berukuran sedang,tawon itu tinggal disitu.Saya tidak akan membuang atau merusak rumahnya.Jadi saya akan membiarkan saja rumah tawon itu mengering, menjadi mengecil dan tawon mulai terbang keluar mencari pasangan, mengunjungi tempat baru, berpesta, bermimpi, terbang dan mengering.

Siang menggenang rutinitas

Setelah itu , agak sore saya dan teman saya, firman memutuskan untuk beristirahat dan makan.Kami memutuskan untuk menikmati menu nasi bakar murah di dekat kantor saja.Untuk makan di tempat ini harus sabar menunggu lama pesanan datang, karena di pondhok jowi ini menganut sistem made by order.Jadi untuk mengatasi kejenuhan menunggu, kami sudah membawa bekal majalah rollingstone dan tabloid bola.Sambil menunggu pesanan, kami asyik membaca.Sore itu pondhok jowi penuh, jadi kami memaklumi saja jika pesanan begitu lama.Sudah satu jam, seorang gadis membawakan pesanan minuman kami.Si gadis meminta maaf karena pesanan agak lama. Kami hanya mengiyakan saja.Melanjutkan membaca.Lemon tea saya sudah terserap tiga per empatnya.Si gadis menuju ke meja kami, membawakan pesanan kami, nasi bakar teri tahu tempe dan nasi tahu tempe telur penyet. Kami pun segera menikmati makanan di sore yang sendu, karena langit begitu gelap. Pikir kami, hujan akan turun dengan derasnya. Benar saja, Baru saja menikmati setengahnya, hujan berteriak-teriak, deras, kalap, membuat gelagap. Kursi kami basah dan kami pun harus berpindah tempat ke belakang.Ketika saya berpindah tempat, saya membalikkan badan dan dikejutkan dengan angka tujuh di meja saya sebelumnya. Menarik napas pelan dan bertanya ke firman.."Jadi kita tadi duduk di meja no 7 ya ?" kemudian firman menjawab "iya, no tujuh itu no antrian pesanan tadi".

Saya jadi teringat mbak stevi, kemarin dia memberi saya jarum rajut berjumlah tujuh, kemudian saya jadi teringat bapak, teman kerjanya yang pelukis membuat kumpulan katalog gambar berjumlah tujuh, saya jadi teringat do re mi fa so la si, saya jadi teringat senin, selasa, rabu, kamis, jum'at, sabtu, minggu.Jadi saya hanya tersenyum dan batin pelan menyapamu : Hallo semesta, HALLO TUJUH :)

No comments: