15.6.09

Catatan harian tentang pertemuan di stasiun senja : bertanya bernama agama: Mata berpesta

Bernama langkah akan menghampirimu, dalam kalap rebah . Dia memutar berbagai cara untuk memuntahkan ampas yang harum di lengan . Benarkah ada yang mau merayap ? oh itu hanya tanda-tanda tentang perjumpaan dengan seseorang bertubuh coklat, berambut panjang, dengan sebatang rokok di bibir resap. Oh lelaki .
Senyap degup jantung membawa kaki ini kedalam kursi panjang berwarna hijau di sebuah stasiun senja, berwarna tua.Dia mencium huruf huruf yang membaur dalam pikiran langkah di dekatnya, dia cepat memeluknya, abjad abjad datang berhamburan, tubuh itu diam. Tubuh menyusun angka angka yang rupawan. Sebatang rokok menyala, bibir resap meditasi bergilir tiada henti. Oh Lelaki.
Aku duduk di kursi panjang, dia berdiri di hadapan, rokok menyala merah , bibir resap. Huruf-huruf , abjad abjad mulai berhamburan. Lelaki coklat, berambut panjang, rokok menyala, bau bir murahan , sepatu usang. Duduk mencium lelap.Perlahan dia duduk di kursi, kira kira 10 inci dari tubuhku. Stasiun mulai berucap tentang segala macam puja puji berkali kali. Abjad-abjad tak beraturan, Menghambur gelap. Dia berhamburan. Oh Maria, Oh yesus, Oh sidharta , Oh allah,Om bhur bhuvah svah tat savitur varenyam , berhamburan lengang menyelinap dalam jejak jejak pesta riuhnya kaki kaki di stasiun senja, berwarna tua.
Oh lelaki, duduk didekat tubuh ini , kira kira 10 inci dari tubuhku. Berantai lahap apapun, apa yang kira dipilih menjadi suatu keputusan dan lengang tentang pilihan. Dia memulai ribuan rancu dalam tubuh sunyi. Aku mencium abjad-abjad . Aku memeluk kerap anggur anggur sisa sisa semalam. Oh lelaki menghirup rokok merah menyala, asap melayang membayang . lalu. MATI.
Mata-matanya mencari dalam tubuhku, dia mulai membuka nyata tentang pertanyaan meramu candu.

Kau mau kemana ?

Ke Jogya

Kemana ?

Ke jogya kemudian melanjutkan perjalanan ke magelang

Magelang, tepatnya dimana?

Mendut

Vihara?

Iyah

Jadi kau beragama budha ?

(Aku menatap bening matanya )

Katholik?

(Aku diam)

Kristen ? Islam? Ato kejawen ?

(Aku menelanjangi matanya, semakin masuk)

Aku dan Oh lelaki diam.


Jadi apa yang kau lakukan disana ?

Meditasi

Anda dari mana ?
Aku dari semarang, kemudian akan menuju jombang.
(aku menangkap seperti dia berkata “ Aku dari barat, kemudian akan menuju ke timur”)

Oh gumam

Lelaki mengembang senyum, menghisap rokok. Asap asap berpesta.
Membayang.lalu.MATI.

Dia mulai menghisap lagi. Asap membayang. Mati berkali kali.Oh lelaki

Kau bernama siapa ?

Ria *. Anda ? (aku berpesta di dalam tentang keheranan yang mencuat dari mulutku, tidak biasanya aku menyebutkan nama ini jika berkenalan dengan orang baru.Jadi, Ria adalah ketika keluargaku meriuh dalam diri dan memanggil manggil dalam kehidupan rumahku.jadi entah. ENTAHLAH)

ARi. Hmm. Ari ..Ria..ya ya

“Maaf.kereta sudah datang “ , kataku dalam asap asap berhamburan.

“Ya ya air itu mengalir. Pikiran bisa diam? Waktu berhenti?”, dia berceloteh sendiri

Kemudian mata kami berpesta dalam degup kereta yang menyusun remah remah dan udara yang begitu riuh di stasiun senja.Aku bergegas , berjalan memasuki kereta.Duduk di dekat kaca jendela retak . Melihatnya pelan berlalu. Riuh kereta.Dia duduk diam di kursi yang sama, di stasiun tua.Kami berkenalan tanpa meninggalkan alamat, no telepon, no handphone, kartu nama dan semacamnya. Kami menghambur. Kami berbincang dalam semesta .Sampai jumpa.Mari berbincang, semesta berjabat tangan.Salam.

Tria Nin
Kereta Prambanan Express, 5 Juni 2009

No comments: