18.5.09

Riang

Bentangan riang yang melambung tinggi di angkasa menyapa, merengkuh resap dan geliat, duduk sila, tak ada aturan apapun jika kau masuk kedalamnya. Cukup diam dan heningkan. Apa kau tahu tentang angin meronta? Memeluk diantara kegaduhan dan berdiri bintang yang tak kau kenal. Kau tak perlu mengenal satu persatu . karena di bentangan itu kau benar tak tahu tentang simbol simbol apapun.

Seorang makhluk bernama riang, berwarna coklat, semburat gaun jingga mengeluarkan dia dari kerap. Berulang kali riang menjawab kerasnya remah remah coklat diantara ribuan bintang yang menari di belantaran jiwa. Riang duduk diam, yang didapatnya adalah pikiran yang tersaji dalam menu makan yang hangat. Dan jika kau berani meyentuhnya, dia akan tergelak. Riang lengkung.Apapun yang kau tahu tentang bintang, beritahukan segalanya dalam semesta. Kau tak perlu marah kepadanya. Dia cukup diam dan ketika meta melepaskan tentang ruang riang yang kasih dan riang benar benar tak tahu menahu apa itu simbol simbol yang terpasang di depan muka muka makhluk makhluk yan lain.

Kepala pecah dan berlarian dan remah remah coklat dan aroma bunga meregap jantung yang semakin berdetak cepat. Tak kuasa riang melumatnya menjadi percikan permen berhamburan darah, tak ada yang abadi,semua berubah, melengkung, melebar, cembung, cekung, regup jantung riang yang begitu cepat melahap aneka aroma menu yang hangat. Tersaji di malam yang putih, Riang berjalan cepat, dia tidak menghiraukan lagi resah resah, dan kelopak matanya yang semakin penuh dengan udara. Perlahan-lahan kelopak matanya lepas , udara udara semakin mendobraknya. Tak ada teriakan apapun. Riang gelap, dia ingin memeluk ibunya .Apapun menu hangat yang terjadi malam itu adalah suasana yang buram membuta. Bintang bintang mulai menggosipkan kabar baru riang di gelap malam, Di hamburan remah remah coklat. Kepala pecah, mereka menghiraukannya. Mereka berteriak tidak akan mempedulikan kepala pecah dalam bentuk arca arca .

Sungguh. Dalam gulita yang lekat, tak ada puluhan dan gemerlap perang yang terjadi diantara bulan,. Riang berlari memunguti remah remah kepala pecah, dia tidak mempedulikan tentang kalap yang menyergapnya. Riang ingin menyelamatkan, menyatukan remah remah coklat bongkahan kepala pecah. Untuk dimasukan dalam satu palung jiwa semesta. Riang, gadis pekat membawa remah remah kepala pecah ke sudut rumah. Bahkan ketika waktu berdiri di depan pintu rumah dan getir getir ingatan menyerang , dia tak tinggal diam. Dia berteriak, tentang kegelisahan dan pembunuhan pembunuhan diri di malam malam terjaga.

Riang lengkung.Apapun yang kau tahu tentang bintang, beritahukan segalanya dalam semesta. Riang berjalan cepat, dia tidak menghiraukan lagi resah resah, dan kelopak matanya yang semakin penuh dengan udara. Tak kuasa riang melumatnya menjadi percikan permen berhamburan darah, tak ada yang abadi,semua berubah, melengkung, melebar, cembung, cekung, regup jantung riang yang begitu cepat melahap aneka aroma menu yang hangat. Tersaji di malam yang putih, Riang berjalan cepat, dia tidak menghiraukan lagi resah resah, dan kelopak matanya yang semakin penuh dengan udara. Di hamburan remah remah coklat. Kepala pecah, mereka menghiraukannya. Mereka berteriak tidak akan mempedulikan kepala pecah dalam bentuk arca arca . Riang, gadis pekat membawa remah remah kepala pecah ke sudut rumah. Dia berteriak, tentang kegelisahan dan pembunuhan pembunuhan diri di malam malam terjaga.





Solo, 26 april 2009

No comments: