8.4.09

Rabu malam ,cahaya kelam, Diantara riuh dan gaduh lobby

Rabu malam
cahaya kelam
Diantara riuh dan gaduh lobby
aku bermeditasi

Ini adalah pikiran-pikiran yang datang, masa lampau yang kembali menyapa

aku berwarna ungu. begitu lesu

Ini tentang suatu sore, tentang mencium wijen di sebuah ladang.Bapak disana dan aku selalu berteriak : " Bapak, wijen harum ya ?". Dia tidak pernah menjawab. Dia Diam. Saya mencium wijen itu berulang kali di suatu ladang, sore itu begitu layu. aromanya masih terkenang dalam batinku.Wijen yang berarti kenangan, aku pun berlalu.Meninggalkan dia sendirian di sebuah ladang.

Aku berjalan pelan, bermain dengan bayang-bayang, aku menginjak bayang-bayangku, aku berteriak-teriak , berloncat-loncat, aku menginjak bayangan topi besar, aku menginjak bayangan gelang besar, aku menginjak aku, aku berulangkali menginjak aku, napasku memburu, kelu, lesu ..ya itu dulu. sesuatu yang tersimpan dalam kenangan.

Aku berjalan menghampiri suara ibu, dia memanggilku, dia mengingatkanku tentang jendela yang harus ditutup, waktu itu senja menggila, aku ketakutan, berlari cepat menghampiri ibu di dapur, di dekat pintu, ibu berteriak, katanya aku menginjak ular, ular itu berlalu meninggalkanku dan aku diam mengusap kakiku, aku bilang ke ibu, aku tidak merasakan apa-apa, ular itu lembut. Ibuku mengusap kepalaku. entahlah sejak itu aku begitu takut bertemu ular.

Di suatu hari berwarna putih lusuh, Ular berwarna ungu datang lagi, dia datang seperti pencuri, Dia menerkam punggungku, dia seperti merasuki tulang belakangku, aku terbangun dari tidurku, semenjak itu aku lebih suka menunggu senja, senja menggila bersama nenekku, senja menggila bersama ibuku, senja menggila bersama bapakku, sejak itu aku bertemu dengan kekaguman menawan dalam hariku, sejak itu aku menikmati sepotong cuilan kenangan, sejak itu aku melihat semuanya menjadi semakin mengecil, semuanya menari , Aku berjalan pelan, bermain dengan bayang-bayang, aku menginjak bayang-bayangku, aku berteriak-teriak , berloncat-loncat, aku menginjak bayangan topi besar, aku menginjak bayangan gelang besar, aku menginjak aku, aku berulangkali menginjak aku, napasku memburu, kelu, lesu ..ya itu dulu. sesuatu yang tersimpan dalam kenangan.

Saya mencium wijen itu berulang kali di suatu ladang, sore itu begitu layu. aromanya masih terkenang dalam batinku.Wijen yang berarti kenangan, aku pun berlalu.Meninggalkan dia sendirian di sebuah ladang.



Solo, 25 Maret 2009

HUJAN MERAH STRAWBERRY

Benarkah dia ?
sebuah pertanyaan yang boleh anda jawab atau hiraukan saja. Saya begitu terpesona dengan kelunya. Kau menariknya menjadi jeratan yang dalam ato dangkal. kau bisa mengulik dengan sendirinya. Benarkah dia ? ada yang harus dijawab sebenernya.Kalau kau tidak tahu apa-apa, yasudah begitulah adanya. saya menari , sebelum polisi melarang para balet melonjak di sebuah lalu lintas kota. Kau tahu? saya begitu merindu kepalan perempuan , dia menawarkan banyak asa, banyak berhala di sebuah keluarga yang tinggal di sebuah kota bernama lebah. Madu, ribuan aroma, kerap, datang, pergi begitu saja. Di tengah kendala dalam belantara yang gelap. Seseorang teman saya juga bertanya, apakah kau bertemu makhluk kerdil disana ? kau mengenal alien di belantara itu ? saya tersenyum mendengar pertanyaannya.

Benarkah dia ?
Lelaki yang menggambar aroma di dekat perempuan menulis cerita. Mereka berdua mengobral pelukan yang hangat tentang masa depan. Kau tahu ? diantara pelipis dahinya ada makhluk asing yang siap-siap menyemprotkan cairan berwarna ungu. Banyak tetua berkata cairan ungu itu bisa merubahmu menjadi cumi cumi yang licin dan lucu. dan kau harus percaya itu.

Diam-diam mengucap mantra, diam-diam mengucap mantra, dalam segala cara. Dadu siap diputar di dalam kelopak warna-warni. Saya merengkuh punggungnya , dan dia kerap rekat berkata. Bagaimana mungkin itu terjadi ?

Sesuatu yang kerdil dan orang-orang memanggilnya aliens tumbuh menjadi tikus yang selalu muncul di bulan purnama. Taring giginya tajam, tikus mengerang mencari perawan. Bukan hanya perempuan tetapi juga lelaki sejati. Dia menamakan dirinya menjadi "hearts".

bulan purnama, di ladang strawberry merah, hearts mengerang, jiwa ketikusan sejati memanggilnya. Dia sangat bersemangat menari di bawah purnama di sebuah kebun strawberry berwarna merah yang membuatmu gerah. Dia meloncat kesana kemari. Merekam gerakan para balet melonjak di sebuah lalu lintas kota. Hearts berbunga menari , sebelum polisi benar benar melarangnya , hearts merekam para balet melonjak di sebuah lalu lintas kota. hearts semakin berbunga menggambar aroma aroma perawan di sekelilingnya. Hearts bertanya kepada sebuah strawberry yang tidak begitu merah, layu kelu, dan berukuran tidak begitu besar. entah siapa namanya, hearts tidak menahu tentang sebuah nama . Hearts memainkan ekornya , menyibak kelembutan , mendekati si strawberry yang tidak begitu merah , layu,kelu, hearts begitu tahu bagaimana membuatnya nyaman. sesekali hearts membisikkan mantra, hey siapapun kau, saya akan membungkuskan surga untukmu sebelum purnama malu malu meninggalkan kaku. kau mau ? strawberry kelu layu pelan pelan merengkuh hearts. Mereka berdua terbang melewati cahaya yang tidak begitu putih, dan tidak begitu menyala, mereka berdua terbang berpelukan. Mereka sekarang menjadi purnama dan menjadi surga untuk kedua pelukan yang hangat.

Di suatu pagi yang dingin, di sebuah kota bernama lebah. Terjadilah kegaduhan. Para keluarga lebah bersembunyi di sebuah kotak berpintu satu.Jaring jaring memburu. Pagi hujan darah merah menyapu.Di sebuah kota bernama lebah terjadi hujan darah, bulan purnama menyusut menjadi lekukan kursi santai. Hanya ada peluh hearts di situ. hearts menyadari kesakitan , hearts menyadari kecantikan strawberry yang semakin membaur menjadi darah merah yang manis . Hanya ada suatu tanda, waktu itu peluh bertikai menjadi satu bayang, hearts ingin membangun masa depan di bulan, menyinarkan purnama bersama strawberry.Akan tetapi Strawberry berteguh akan kembali ke ladang, membangun rumah penuh impian cerah. Mereka berdua menjadi dua bayang sekarang. strawberry memutuskan selibat, dia memutuskan untuk pulang ke ladang. Strawberry memutuskan untuk terbang. semuanya menjadi kecil, semuanya menjadi kecil, begitu kecil, tidak ada bayang. meradang. meradang. Di sebuah awan strawberry membaur, tubuhnya melunak, menyebar, tangisnya adalah hujan darah merah mewarnai sebuah kota bernama lebah. Banyak para lebah, mereka ketakutan.
itukah kutukan ? atau itukah berkah ?


Para lebah bergunjing di sebuah kotak berpintu satu, beribu ribu pikiran berputar seperti dadu. apakah hujan darah itu ? mereka bergunjing , menyalahkan satu sama lain. Ratu lebah pun memutuskan untuk keluar dari pintu satu. Dia terbang, tubuhnya menjadi merah, hujan darah semakin lebat. Ratu lebah menari ballet melonjakkan kaki seperti di sebuah lalu lintas kota. Dia begitu syahdu merapalkan mantra dan menari ballet, Dia begitu asyik, bermandikan darah merah. Bibirnya terbuka, dia berjudi dalam diri. pertanyaan terbuka : apa rasa darah merah ini ?


Bibirnya terbuka, dia terus menari, bibirnya terbuka, dia terus menari, dia berjudi dalam diri : apa rasa darah merah ini ? pahit? manis? asin? Lidahnya terjulur membiarkan mengecap darah merah. lidahnya tetap menjulur, mengecap darah merah . Ratu lebah begitu syahdu, begitu asyik, begitu menyadari gemericik hujan darah merah yang megah. Bibirnya pelan-pelan terkatup, melumat darah merah. Rahayu, rahayu, rahayu, rahayu..Ratu lebah meneriakan mantra sahaja beribu ribu kali. membuat keluarga lebah yang bersembunyi di dalam satu kotak pintu satu mengintipnya , mengeringkan mata. ada apakah ?

Rapalan mantra, rahayu..rahayu..rahayu..be
ribu ribu kali keluar dari bibir rartu lebah. Keluarga lebah tergugah, mereka satu persatu terbang keluar ke alam bebas, menari dalam basah hujan darah merah yang begitu manis.Mereka menari balet , melonjak di sebuah kota lalu lintas kota lebah. Merapalkan mantra berulang kali..rahayu.rahayu.rahayu, banyak asa, banyak berhala. Madu, ribuan aroma, kerap, datang, pergi begitu saja. Di tengah kendala dalam belantara yang gelap.

Keluarga lebah tidak pernah mengetahui darah merah itu adalah jiwa dari strawberry yang memutuskan selibat. Keluarga lebah tidak pernah mengetahui darah merah itu adalah harapan strawberry untuk pulang kembali ke ladang. Keluarga lebah menumbuhkan keyakinan, darah merah adalah manisnya surga yang memberikan banyak asa untuk negeri lebah. Mereka terus saja menari.

Dari langit, suatu makhluk berbentuk tikus bernama hearts melupa diri. Dia terjun bebas. Bulan menyusut. Semuanya mengecil, begitu mengecil, awan gelap memeluknya rekat. Dia terjun bebas. terjun bebas, semuanya menjadi semakin mengecil, alien, tubuh kerdil, kepalan perempuan, madu, ribuan aroma, datang, pergi begitu saja, begitu cepat, begitu kecil, begitu kecil, sekelilingnya menjadi semalkin mengecil, terjun bebas, menari balet , melonjak di sebuah lalu lintas kota mati. terjun bebas, begitu mengecil, remuk, darah , tubunya menyebar menajdi banyak bagian, tertidur pulas di sebuah ladang strawberry. Di sebuah ladang ia pernah merapalkan mantra untuk membuat surga. Tubuhnya berceceran dimana-mana.


Tria nin
chest pain, difficulty breathing, blood in my mucus occasionally, vomiting, trouble swallowing, and my resting heartbeat is a lot faster than it usually
Rumah blackbath, solo
di suatu sore bernama selasa, 7 april 2009