5.2.09

Kini, sepi

Teringat waktu itu, ketika dia membangunkan dengan cuaca yang berbeda- beda.
Dia mengajakku berjalan pagi menyusuri kampung dengan beribu ribu cerita,
Dia mengantarkan ke sekolah berwarna biru, dan kesal karena aku malas sekolah, dan akhirnya dirumah saja, duduk di pangkuan , mendengarkan dongeng-dongeng dari negeri antah .
Dia yang membiarkan aku mencorat coret dinding dinding kenangan itu
Dia yang dengan sabar membawakan berbagai macam buku dari perpustakaan tempat kerjanya
Dia yang tersenyum membelikan satu bungkus rokok untuk saudara lelakiku yang ketahuan merokok di sudut ruang rumah kecil. Dia diam dan menyuruh kakakku untuk menghabiskan satu bungkus rokok dalam satu jam.
Dia yang mengacuhkan setiap gerik gadis cilik merajuk. dia berkata geram : kamu manja.!!
Dia yang pertama kali mengajariku bermain dadu di suatu sore sepi bersama kedua saudara lelaki yang dini . Monopoli adalah mainan favorit kami.
Dia yang selalu duduk diam di sudut ruang rumah kecil berjam-jam lamanya. Gadis cilik berusia 7 tahun melihatnya dari belakang. Dia selalu berkata, dia sedang semedi.
Dia yang menyimpan anggur putih di dekat lemari makan, setiap kali gadis cilik berusia 10 tahun itu bertanya, dia selalu bilang itu obat.
Dia yang tidak menganjurkanku untuk mengelap sepeda miniku yang basah dari air hujan. katanya air itu akan mengering dengan sendirinya.
Dia yang pertama kali mengajak gadis cilik hujan-hujanan di depan rumah. kau tahu? aku selalu ingat hujan serah di depan rumah itu.

aku merindukan Dia. Dia adalah Bapa
Kini, perbincangan-perbincangan itu sepi
Dan aku sering kali melihatmu lama tidur pulas di sudut rumah kecil.
kini perbincangan-perbincangan itu sepi
Dan aku sering melihatmu sibuk diantara lipatan lipatan kitab suci
kini, perbincangan-perbincangan itu sepi
dan aku sering melihatmu suka berdiam sendiri
kini, perbincangan -perincangan itu sepi

Aku selalu mencintaimu. Sungguh.


kamis, 5 februari 2009

No comments: