16.2.09

Ini tentang sebuah TV

Di rumah kecil saya, hanya ada satu TV. TV 14 inch kuno bermerk Fuji electric. TV bertombol 12 untuk memilih saluran televisi kesukaan. TV berwarna hitam ini sudah berusia puluhan tahun, warisan dari nenek saya. Terletak di sudut ruang tamu, TV itu duduk manis diatas meja coklat, didekat dinding lukisan lima merpati karya paman saya. Diatas TV itu, Bapa menaruh dua botol kerucut. Di dalam botol itu terdapat kacang hijau, padi merah, padi kuning, biji-bijian coklat dan semacamnya.

TV itu berwarna hitam putih. Bapa menaruh dua botol berisi kacang-kacangan yang berwarna kucing, coklat, merah di atas TV agar dia selalu teringat dengan kebun kecilnya dan tak terlena di hadapan kotak 14 inch. Dari dulu sampe sekarang, TV ini jarang sekali dihidupkan, hanya beberapa waktu saja jika ingin. Karena semenjak kecil, saya dan kedua sodara lelaki saya lebih menyukai duduk di pangkuan bapa dan mendengarkan beberapa cerita.

TV ini pernah sakit, dan Bapa menyuruh anak-anaknya membersihkan debunya saja. TV itu diam tanpa suara hampir 8 bulan. Bapa baru berinisiatif untuk memasukan TV ini ke rumah sakit reparasi ketika sodara lelaki saya yang tertua setiap hari merujuknya. Waktu itu tahun 1997. Kakak saya mendapat tugas dari sekolah untuk menulis berita dari TV. Dibawalah Si TV Fuji ke reparasi tetangga kami. Entah ditambah apa entah saya tak tahu, TV itu diperbaiki dan kembali kerumah dengan tambahan warna. Saya tak tahu alatnya secara pasti, TV hitam putih itu diseting menjadi TV berwarna. Tetapi ya seadanya saja. Dan lagi-lagi , hal itu tidak membuat saya dan sodara lelaki saya untuk berlama lama di depan kotak 14 inci. Kami lebih menyukai bermain ular tangga dan monopoli bersama Bapa. Dan ibu selalu menggangu ketika kami keasyikan main sendiri dan lupa mandi .

Kami menyadari adanya satu TV kecil ini dirumah . Dan sampai sekarang pun belum ada niat untuk membeli yang baru lagi. Walau sekarang si TV Fuji sekarang suka batuk-batuk dan gambarnya jadi runyam. Kadang menghidupkan, kadang membiarkan TV diam beristirahat. Kadang mengelap debu debu di wajah TV.

Ya, ini tentang sebuah TV yang berada di sudut ruang tamu dirumah, didekat dinding lukisan lima merpati karya paman saya dan diatasnya dua botol berisi kacang-kacangan. Kadang hidup redup, kadang diam, kadang batuk, kadang berdebu. kadang lucu, kadang menggerutu, kadang-kadang begitu :)

1 comment:

Bambu Buwono said...

Mengesankan ceritanya.........