2.2.09

Batin hening, Batin sederhana


Apabila kita sadar akan diri kita sendiri, bukankah seluruh gerak kehidupan adalah jalan untuk membongkar sang ‘aku’, ego, diri?


Diri adalah proses yang amat rumit, yang hanya dapat dibongkar dalam hubungan, dalam kegiatan kita sehari-hari, dalam cara kita bicara, cara kita menilai, menghitung-hitung, cara kita mengutuk orang lain dan diri sendiri. Semua itu mengungkapkan terkondisinya pikiran kita sendiri; dan tidakkah penting untuk menyadari seluruh proses ini? Hanya melalui kesadaran akan apa yang benar dari saat ke saat terdapat penemuan akan apa yang berada di luar waktu, yang abadi. Tanpa pengenalan-diri, yang abadi tidak mungkin muncul. Bila kita tidak mengenal diri kita sendiri, yang abadi menjadi sekadar kata semata-mata, suatu simbol, suatu spekulasi, suatu dogma, suatu kepercayaan, suatu ilusi yang kepadanya batin bisa melarikan diri. Tetapi jika kita mulai memahami sang ‘aku’ dalam semua sepak-terjangnya sehari-hari, maka di dalam pemahaman itu sendiri, tanpa upaya apa pun, apa yang tak bernama, yang berada di luar waktu, muncul. Tetapi yang di luar waktu itu bukan ganjaran bagi pengenalan-diri. Yang abadi tidak dapat dikejar; batin tidak bisa memilikinya. Ia muncul bila batin hening, dan batin hanya bisa hening bila ia sederhana, bila ia tidak lagi menimbun, mengutuk, menghakimi, menimbang-nimbang. Hanyalah batin yang sederhana yang dapat memahami apa yang nyata, bukan batin yang penuh dengan kata-kata, pengetahuan, informasi. Batin yang menganalisis, menghitung-hitung, bukanlah batin yang sederhana.[k.01.27]

1 comment:

Bambu Buwono said...

Kamu anak yang membanggakan Tria..., Sungguh...!