7.1.09

Vipassana


24 Desember 2008, sebelum jam 10, lelaki dari jogya datang ke solo. Kemudian kami bertemu, bersiap-siap menuju stasiun purwosari. Sampai stasiun tugu, Kami duduk di peron dan berbincang mengenai malam natal. Happy Christmass Eve lelaki, dan maaf saya tidak bisa menemani , karena bermeditasi di vihara mendut.


Sore itu mendung, lelaki mengantarkan saya ke vihara. Sepanjang perjalanan kami hanya diam tidak berbincang sepatah katapun. Sampai di pom bensin muntilan, kami beristirahat bentar karena tiba tiba saya merasa pusing. Dia meyakinkan saya,all is well. 

Sekitar jam 15, Kami sampai vihara. Kemudian saya berpamitan dan masuk vihara. Lelaki itu masih ada disana. Saya berjalan pelan memasuki vihara dan sesekali menengok ke belakang melihat dia.

Sampai di tempat peristirahatan, saya menempatkan tas dan kemudian duduk di gazebo vihara.


Petang datang, meditasi dimulai di hari pertama. kemudian, pembimbing meditasi, Bp Hudoyo hupudio berpesan agar kami meninggalkan semua pengetahuan,keinginan dan segala teknik meditasi.Ketika meditasi ini tidak diperbolehkan berbicara, tidak boleh berkomunikasi dengan dunia luar, mematikan HP dan kegiatan dilakukan secara meditatif. Dalam meditasi ini , pikiran saya berkecamuk. Masa lalu datang dengan cepat melesat, pikiran berloncat-loncat. Saya pasif. mengamati pikiran . Duduk diam dan pikiran bergerak cepat. Sakit, resah, derita semua muncul begitu adanya. Jam 22.00 lonceng berbunyi dan saya berjalan menuju tempat perisitirahatan untuk tidur. Menyadari kaki ini melangkah, menyadari angin berhembus , dingin dan menyadari tubuh ini terbaring, nafas ini , hingga saya tertidur.

Jam tiga pagi, lonceng berbunyi. saya bangu, keluar dari tempat peristirahatan. Menyadari langkah kaki ini menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Merasakan dinginnya air di pagi itu dan kemudian melangkahkan kaki ini masuk ke dalam vihara untuk bermeditasi. Duduk diam , mengamati melesatnya pikiran-pikiran dari masa lampau. Mengamati kerinduan ini, mengamati kesakitan badan yang muncul di pagi ini, mengamati pegalnya, Pasif, sempat merasakan kebosanan, dan saya diam, mengamati kebosanan itu. perlahan lahan diam dengan sendirinya.Saya bermeditasi duduk sampai jam enam pagi. Kemudian meditasi berdiri dengan mata terbuka, mengamati sekitar, mengamati pohon hijau itu, mengamati bunga teratai itu, mengamati suara burung berkicau, mengamatinya. Jam tujuh pagi, lonceng berbunyi tanda makan pagi, saya berjalan melangkahkan kaki ini menuju ke tempat makan. Mengambil makanan, merasakan, mengunyahnya dengan kesadaran . Biasanya dalam kehidupan sehari-hari, saya makan sambil nonton tv atau berbincang dengan teman atau bahkan melamun.

Yang terekam dalam pikiran sampai sekarang, di hari ketiga, saya bertemu dengan Bp hudoyo, untuk berbincang mengenai meditasi yang saya jalankan. Saya bercerita di hari kedua ketika saya tidur, sempat merasakan tubuh saya seperti merasa lepas dan merasa ketakutan luar biasa, mimpi-mimpi masa lampau datang kembali dan semakin jelas. Beliau mengatakan sadari ketakutan yang hadir sebagai ketakutan. amati . Iya amati saja.

Di hari keempat, hujan deras, dingin, sakit, pegal, saya duduk diam di vihara. pasif mengamatinya saja. Pikiran pikiran yang meloncat loncat itu perlahan lahan pelan. Dan di suatu momen merasakan tidak berpikir apa-apa, tidak ada keinginan apa-apa. Entahlah, hanya sekian detik saja. Saya membuka mata. sekitar saya menjadi lebih tajam dan cerah. pohon hijau, warna warna bangunan menjadi lebih cerah. Mengamati itu semua , begitu adanya.



Sorenya, saya bermeditasi lagi, terjadi konfik batin dalam diri saya. Pikiran seperti monyet, berlarian, berloncat-loncat kembali, saya diam saja. meditasi di vihara. Malam tiba, saya meditasi di tempat peristirahatan, terlentang, mengamati aliran udara ini. Tetapi yang saya rasakan adalah seperti pori-pori kulit semakin membuka dan udara semakin memasuki tubuh saya. Saya jadi lemas, kemudian saya melangkahkan kaki ini ke kamar mandi. Tiba -tiba saya terjatuh di dekat kamar mandi. Mas hardi, petugas vihara dan Bp hudoyo menenangkan saya. Sejak malam itu saya merasakan sakit luar biasa dan harus istirahat di Vihara sampai keesokan paginya. Sakit ya sakit. begitulah sakit.

Kemudian di hari kelima, di sore harinya, Lelaki menjemput saya untuk pulang.Berpamitan dan melangkahkan kaki ini keluar vihara.

Lupakan ini semua. Lupakan kata-kata saya. Lupakan cerita saya. Kata adalah usaha. kata adalah pikiran,ini bukan kenyataan yang sebenarnya. 

2 comments:

Blog Cantik said...

'Namun pada saat yang sama,kita bisa menyadari pikiran-pikiran itu, perlahan pelan menyadari kenyataan. '
Alam bawah sadar ya?

Tria nin said...

sederhana.menyadari saja.
amati gerak pikiran , pikiran karena rangsangan dari sekitar kita dan pikiran yang berasal dari alam bawah sadar. sadari saja , begitu adanya.