22.1.09

Pollyana damai

Saya kehilangan pollyana seperti kehilangan seseorang yang benar-benar saya cintai. Entahlah..saya merasakannya di mendung ini. Pollyana jatuh , sehabis saya sarapan pagi. Hari ini 22 januari 2009, tepat satu tahun nenek saya meninggal. Dan hari ini juga Pollyana jatuh, sakit dan beritirahat selamanya. Hari ini semesta berbicara, mengurai kerinduan kerinduan dan mendekap begitu adanya.

Saya merindukan nenek saya. Begitu juga saya akan selalu merindukan pollyana yang selalu menemani saya dimanapun saya berada. Saya bergerak ke belakang, pikiran ini datang dan menangkapnya :

Pollyana ini adalah hadiah dari ibu saya ketika saya memperingati hari lahir tahun kemarin, tanggal 8 Juni 2007. Saya senang sekali waktu itu, karena toples yang biasanya saya bawa, yang bernama cosmo , tutupnya sudah rusak. Dan sekarang cosmo pun beritirahat di lemari saya bersama tulisan tulisan usang .

Si pollyana yang baik hati ini selalu setia menampung tirta yang menyegarkan saya. Setiap hari pollyana berwarna kuning cerah ini selalu ada di tas pelangi saya, tas pelangi ini pemberian dullah. 

Saya menyebutnya Pollyana, saya terinspirasi dari sebuah cerita , yaitu pada tahun 1913 Eleanor Porter menulis sebuah buku yang berjudul "Pollyanna". Pelaku utama gadis kecil di dalam buku ini, Pollyanna ditinggal mati oleh ibunya, tidak lama kemudian disusul oleh kematian ayahnya seorang pendeta dari keluarga yang sederhana.Tante Polly tidak menyukai iparnya, karena mengambil adiknya sebagai istri yang harus meninggalkan kehidupan keluarga terpandang di New England, memasuki panggilan pelayanan di kampung. Tetapi karena tidak ada seorangpun yang merawat Pollyanna, dan hanya karena dorongan rasa harus bertanggung- jawab, maka diterima jugalah Pollyanna untuk tinggal serumah bersama dia. Di tempat baru ini Pollyanna segara dikenal dengan sikapnya yang berbeda dengan kebanyakan orang lain. Dia selalu memainkan peran gembira dalam menghadapi semua persoalan. Apa saja yang terjadi dikatakannya 'untung'. Polly mengatakan dia merasa beruntung karena ditempatkan di sebuah gudang tua di loteng atas yang tidak ada cerminnya, sungguh beruntung karena dari kamarnya dapat menikmati keindahan pohon-pohon, sedangkan tidak ada cermin merupakan sebuah keuntungan sehingga jerawatnya tidak terlihat. iyaaahhhh...saya ingin selalu bersyalala ceria menjalani hidup saya ini.

Menyebut Pollyana, saya jadi teringat Yasnaya Polyana, yaitu sebuah kota kecil di pinggiran Tula sebelah selatan Moskow.Yasnaya Polyana adalah tempat kelahiran Leo tolstoy.Dan Leo Nikolayevitch Tolstoy ini dikenal sebagai sastrawan Rusia terbesar yang karya-karyanya bercorak realis dan bernuansa religius sarat dengan perenungan moral dan filsafat. Selain itu di Purwokerto juga ada pondok tani milik Bapak Ashoka yang bernama Pondok tani Yasnaya Polyana.

Saat ini saya masih di sora, dan pollyana saya simpan di tas. Nanti malam, setelah meditasi, saya akan berbincang dengannya sebentar dan memasukan pollyana ke lemari bersama tumpukan tulisan tulisan usang.Terima kasih pollyana telah menemani hari-hari saya :)

No comments: