23.1.09

Aku dan Mara


Telah terjadi banyak konflik dalam hidupmu.
Timbul pula banyak pertanyaan dalam dirimu.
Kenapa begitu banyak konflik?
Kukatakan padamu, bahwa itu adalah ulah Sang Mara.
Sang Mara bersembunyi dalam dirimu.
Temukanlah dia , buanglah dia.
Maka kau akan bebas.

Tetapi, tak tahukah kau bahwa akulah Sang Mara.
Aku masih tertawa dibelakangmu.
Kau tidak tahu dgn siapa kau berhadapan.
Kau mungkin berpikir Sang Mara ada dalam dirimu.
Tapi kapankah kau sadar bahwa Sang Mara adalah dirimu.
Ya... Kamu adalah Aku, Sang Mara.

Tesla, 03 Juni 2008

22.1.09

Pollyana damai

Saya kehilangan pollyana seperti kehilangan seseorang yang benar-benar saya cintai. Entahlah..saya merasakannya di mendung ini. Pollyana jatuh , sehabis saya sarapan pagi. Hari ini 22 januari 2009, tepat satu tahun nenek saya meninggal. Dan hari ini juga Pollyana jatuh, sakit dan beritirahat selamanya. Hari ini semesta berbicara, mengurai kerinduan kerinduan dan mendekap begitu adanya.

Saya merindukan nenek saya. Begitu juga saya akan selalu merindukan pollyana yang selalu menemani saya dimanapun saya berada. Saya bergerak ke belakang, pikiran ini datang dan menangkapnya :

Pollyana ini adalah hadiah dari ibu saya ketika saya memperingati hari lahir tahun kemarin, tanggal 8 Juni 2007. Saya senang sekali waktu itu, karena toples yang biasanya saya bawa, yang bernama cosmo , tutupnya sudah rusak. Dan sekarang cosmo pun beritirahat di lemari saya bersama tulisan tulisan usang .

Si pollyana yang baik hati ini selalu setia menampung tirta yang menyegarkan saya. Setiap hari pollyana berwarna kuning cerah ini selalu ada di tas pelangi saya, tas pelangi ini pemberian dullah. 

Saya menyebutnya Pollyana, saya terinspirasi dari sebuah cerita , yaitu pada tahun 1913 Eleanor Porter menulis sebuah buku yang berjudul "Pollyanna". Pelaku utama gadis kecil di dalam buku ini, Pollyanna ditinggal mati oleh ibunya, tidak lama kemudian disusul oleh kematian ayahnya seorang pendeta dari keluarga yang sederhana.Tante Polly tidak menyukai iparnya, karena mengambil adiknya sebagai istri yang harus meninggalkan kehidupan keluarga terpandang di New England, memasuki panggilan pelayanan di kampung. Tetapi karena tidak ada seorangpun yang merawat Pollyanna, dan hanya karena dorongan rasa harus bertanggung- jawab, maka diterima jugalah Pollyanna untuk tinggal serumah bersama dia. Di tempat baru ini Pollyanna segara dikenal dengan sikapnya yang berbeda dengan kebanyakan orang lain. Dia selalu memainkan peran gembira dalam menghadapi semua persoalan. Apa saja yang terjadi dikatakannya 'untung'. Polly mengatakan dia merasa beruntung karena ditempatkan di sebuah gudang tua di loteng atas yang tidak ada cerminnya, sungguh beruntung karena dari kamarnya dapat menikmati keindahan pohon-pohon, sedangkan tidak ada cermin merupakan sebuah keuntungan sehingga jerawatnya tidak terlihat. iyaaahhhh...saya ingin selalu bersyalala ceria menjalani hidup saya ini.

Menyebut Pollyana, saya jadi teringat Yasnaya Polyana, yaitu sebuah kota kecil di pinggiran Tula sebelah selatan Moskow.Yasnaya Polyana adalah tempat kelahiran Leo tolstoy.Dan Leo Nikolayevitch Tolstoy ini dikenal sebagai sastrawan Rusia terbesar yang karya-karyanya bercorak realis dan bernuansa religius sarat dengan perenungan moral dan filsafat. Selain itu di Purwokerto juga ada pondok tani milik Bapak Ashoka yang bernama Pondok tani Yasnaya Polyana.

Saat ini saya masih di sora, dan pollyana saya simpan di tas. Nanti malam, setelah meditasi, saya akan berbincang dengannya sebentar dan memasukan pollyana ke lemari bersama tumpukan tulisan tulisan usang.Terima kasih pollyana telah menemani hari-hari saya :)

7.1.09

Vipassana


24 Desember 2008, sebelum jam 10, lelaki dari jogya datang ke solo. Kemudian kami bertemu, bersiap-siap menuju stasiun purwosari. Sampai stasiun tugu, Kami duduk di peron dan berbincang mengenai malam natal. Happy Christmass Eve lelaki, dan maaf saya tidak bisa menemani , karena bermeditasi di vihara mendut.


Sore itu mendung, lelaki mengantarkan saya ke vihara. Sepanjang perjalanan kami hanya diam tidak berbincang sepatah katapun. Sampai di pom bensin muntilan, kami beristirahat bentar karena tiba tiba saya merasa pusing. Dia meyakinkan saya,all is well. 

Sekitar jam 15, Kami sampai vihara. Kemudian saya berpamitan dan masuk vihara. Lelaki itu masih ada disana. Saya berjalan pelan memasuki vihara dan sesekali menengok ke belakang melihat dia.

Sampai di tempat peristirahatan, saya menempatkan tas dan kemudian duduk di gazebo vihara.


Petang datang, meditasi dimulai di hari pertama. kemudian, pembimbing meditasi, Bp Hudoyo hupudio berpesan agar kami meninggalkan semua pengetahuan,keinginan dan segala teknik meditasi.Ketika meditasi ini tidak diperbolehkan berbicara, tidak boleh berkomunikasi dengan dunia luar, mematikan HP dan kegiatan dilakukan secara meditatif. Dalam meditasi ini , pikiran saya berkecamuk. Masa lalu datang dengan cepat melesat, pikiran berloncat-loncat. Saya pasif. mengamati pikiran . Duduk diam dan pikiran bergerak cepat. Sakit, resah, derita semua muncul begitu adanya. Jam 22.00 lonceng berbunyi dan saya berjalan menuju tempat perisitirahatan untuk tidur. Menyadari kaki ini melangkah, menyadari angin berhembus , dingin dan menyadari tubuh ini terbaring, nafas ini , hingga saya tertidur.

Jam tiga pagi, lonceng berbunyi. saya bangu, keluar dari tempat peristirahatan. Menyadari langkah kaki ini menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Merasakan dinginnya air di pagi itu dan kemudian melangkahkan kaki ini masuk ke dalam vihara untuk bermeditasi. Duduk diam , mengamati melesatnya pikiran-pikiran dari masa lampau. Mengamati kerinduan ini, mengamati kesakitan badan yang muncul di pagi ini, mengamati pegalnya, Pasif, sempat merasakan kebosanan, dan saya diam, mengamati kebosanan itu. perlahan lahan diam dengan sendirinya.Saya bermeditasi duduk sampai jam enam pagi. Kemudian meditasi berdiri dengan mata terbuka, mengamati sekitar, mengamati pohon hijau itu, mengamati bunga teratai itu, mengamati suara burung berkicau, mengamatinya. Jam tujuh pagi, lonceng berbunyi tanda makan pagi, saya berjalan melangkahkan kaki ini menuju ke tempat makan. Mengambil makanan, merasakan, mengunyahnya dengan kesadaran . Biasanya dalam kehidupan sehari-hari, saya makan sambil nonton tv atau berbincang dengan teman atau bahkan melamun.

Yang terekam dalam pikiran sampai sekarang, di hari ketiga, saya bertemu dengan Bp hudoyo, untuk berbincang mengenai meditasi yang saya jalankan. Saya bercerita di hari kedua ketika saya tidur, sempat merasakan tubuh saya seperti merasa lepas dan merasa ketakutan luar biasa, mimpi-mimpi masa lampau datang kembali dan semakin jelas. Beliau mengatakan sadari ketakutan yang hadir sebagai ketakutan. amati . Iya amati saja.

Di hari keempat, hujan deras, dingin, sakit, pegal, saya duduk diam di vihara. pasif mengamatinya saja. Pikiran pikiran yang meloncat loncat itu perlahan lahan pelan. Dan di suatu momen merasakan tidak berpikir apa-apa, tidak ada keinginan apa-apa. Entahlah, hanya sekian detik saja. Saya membuka mata. sekitar saya menjadi lebih tajam dan cerah. pohon hijau, warna warna bangunan menjadi lebih cerah. Mengamati itu semua , begitu adanya.



Sorenya, saya bermeditasi lagi, terjadi konfik batin dalam diri saya. Pikiran seperti monyet, berlarian, berloncat-loncat kembali, saya diam saja. meditasi di vihara. Malam tiba, saya meditasi di tempat peristirahatan, terlentang, mengamati aliran udara ini. Tetapi yang saya rasakan adalah seperti pori-pori kulit semakin membuka dan udara semakin memasuki tubuh saya. Saya jadi lemas, kemudian saya melangkahkan kaki ini ke kamar mandi. Tiba -tiba saya terjatuh di dekat kamar mandi. Mas hardi, petugas vihara dan Bp hudoyo menenangkan saya. Sejak malam itu saya merasakan sakit luar biasa dan harus istirahat di Vihara sampai keesokan paginya. Sakit ya sakit. begitulah sakit.

Kemudian di hari kelima, di sore harinya, Lelaki menjemput saya untuk pulang.Berpamitan dan melangkahkan kaki ini keluar vihara.

Lupakan ini semua. Lupakan kata-kata saya. Lupakan cerita saya. Kata adalah usaha. kata adalah pikiran,ini bukan kenyataan yang sebenarnya. 

3.1.09

Gerimis

Tidak kemana-mana , hanya dirumah saja, hujan deras bergemuruh dan benar benar dirumah saja.
Agak malam sebelum jam 24, berbincang dengan lelaki di telepon. si lelaki sedang sakit, jadi dia juga tidak kemana-mana. Setelah itu menyelesaikan membaca buku yang berjudul " a cat in my eyes" karangan fahd jibran, benar-benar ada entah dalam entahlah. Setelah 24 lewat, masih saja gerimis, saya sempat keluar rumah, duduk saja dan diam, menyadari sekitar dan kecamuknya pikiran

Masih setelah 24, di sudut ketiga, saya masuk ke kamar. Membereskan beberapa buku yang berserakan. Saya membuka lemari itu, didalamnya terdapat buku harian dari saya SD sampai sekarang, coretan-coretan tidak penting, nota-nota belanja, tiket nonton gigs, tiket nonton film, barang-barang kenangan. Saya sempat membaca beberapa, sungguh seperti membongkar gudang pikiran, meloncat kesana kemari tak beraturan.

Sebentar kemudian, saya memasukan catatan dan buku harian tahun ini ke lemari. Saya belum mengunci lemari itu.(kapan-kapan, jika mau saya membukanya lagi) . Membaringkan tubuh ini, tergenang akan kenangan. Selamat pagi 2009.

Agama Apel

Di sore hari setelah hujan, dingin .Pali berjalan ke sebuah tempat hening dan hanya terdengar kicauan burung dalam murung. Ia berjalan pelan dan sesekali menengok kebelakang, melihat lelaki yang mengantarkan dia ke tempat hening itu. Pali melepas alas kaki dan duduk bersila di gazebo tua

Romo : Gimana...
Pali    : Jangan tanya kabar saya, romo. kenapa setiap orang selalu bertanya tentang kabar?
Romo : Dari dulu kamu selalu begitu. lingkaran hitam di matamu semakin menebal, tajam. Kamu sudah siap untuk meditasi seminggu ini ?
Pali    : .....(Pali diam menatap gelap di depan)
Romo :  isi ini dulu ya ..( Romo memberikan kertas semacam formulir )



Romo : kenapa kamu tidak mengisi nama agama di lembar ini ?
Pali    : Romo, di KTP saya, saya beragama Apel. Tapi saya tidak pernah melaksanakan syariat dalam agama Apel . Jadi saya tidak mengisi nama agama di formulir itu.



Lalu hening,