17.12.09

MEDITASI : menyadari


Sejak saya kecil saya tidak asing dengan meditasi atau semedi atau berdiam diri. Di ruangan rumah lampau ada tempat khusus yang digunakan untuk bermeditasi nenek, kakek dan ayah saya. Ketika SD, saya tidak tahu kegunaan meditasi itu apa, tetapi saya suka sekali mengamati anggota keluarga duduk berdiam diri , menutup mata lama sekali, entah apa yang mereka lakukan. Saya tidak tahu, saya hanya mengamati. Setiap sore ayah mengajak berjalan-jalan ke dekat sawah, beliau mengenalkan saya untuk menyapa pohon-pohon,hewan-hewan kecil,sedang maupun besar, jembatan maupun tikungan jalan yang saya lewati. Sejak itu saya mulai gemar memberi nama-nama objek apapun yang saya temui. Usia bertambah, cerita bertambah, kesedihan, kekecewaan, kegusaran, pertanyaan yang bermacam-macam hinggap di kepala. Konsep- konsep dalam pikiran ricuh. Orang-orang disekitar menyarankan agar saya mencari ketenangan. Hingga saya pun mengenal berbagai macam teknik meditasi, pemusatan perhatian atau konsentrasi pada suatu objek tertentu, seperti: mantra, nafas, visualisasi dsb. Ya, yang saya rasakan keinginan tenang itu menambah beban pikiran. Ketenangan itu imitasi , produk pikiran.

Di suatu sore,empat tahun yang lalu, guru yoga menyarankan saya untuk mengikuti retret meditasi di mendut, meditasi mengenal diri dilakukan selama tiga hari di vihara mendut. Di dalam retret ini, pembimbing meditasi Dr. Hudoyo Hupudio tidak mengajarkan teknik meditasi apapun, termasuk tidak ada konsentrasi terus menerus pada satu objek, tidak ada usaha apapun, tidak ada keinginan apapun. Meditasi itu tidak hanya duduk sila menutup mata berjam-jam, Meditasi adalah menyadari pikiran kacau ya kacau, begitu adanya kacau, tidak berupaya untuk ingin tenang, menyadari gerak pikiran cepat, lambat begitu adanya. Meditasi menyadari jalan kaki, menyadari makan, menyadari minum, menyadari berdiri. Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita makan sambil ngobrol, nonton tv sambil makan, bahkan kesadaran “makan” pun hilang.

Ketika pikiran sedih, sadari itu sedih, jangan melawan. Ketika pikiran senang, sadari itu senang. Selamat bermeditasi. Lupakan ini semua. Lupakan kata-kata saya.Lupakan cerita saya. Kata adalah usaha. kata adalah pikiran,ini bukan kenyataan yang sebenarnya.


ini adalah catatan harian saya ketika mengikuti retret meditasi tahun ini :



Catatan harian tentang meditasi di mendut :perbincangan semesta : pikiran berpesta :
AKU FANA


Illustrated by Alfonsus Lisnanto gathi


"Meditasi". Mendengar kata ini, pikiran menangkap duduk lama berjam-jam dengan mata tertutup, atau melihat objek apa pun di sekitar kita. Ya, itu adalah semacam produk pikiran yang berkembang dalam masyarakat awam. Tetapi meditasi yang saya alami dalam retret MMD di Vihara Mendut tgl 5 - 7 Juni '09 ini tidak semata duduk diam saja, tetapi menyadari gerak pikiran, menyadari gerak tubuh, baik ketika duduk bersila, berjalan, berdiri, melakukan kegiatan rutin seperti makan, minum, mandi, tidur dalam penuh kesadaran, tanpa metode apa pun. Jadi, ketika pikiran ini datang dan kacau, saya menyadari begitu adanya. Ketika tubuh mengalami ketidaknyamanan, kaki kesemutan, pegal, saya menyadari begitu adanya.


Di hari pertama, 5 Juni, malam itu seperti gudang pikiran saya berteriak. Saya duduk diam dan pikiran visual, seperti potongan dalam film. melihat gambaran tentang pembunuhan, melihat darah, melihat pisau; pikran ini begitu kacau balau. Saya mengamati, saya tidak menolaknya. Melihat ketidaknyamanan yang muncul, belum reda, tapi saya sadar, ketidaknyamanan itu begitulah adanya.


Di hari kedua, ketika saya bermeditasi jalan, saya berjalan biasa saja, tidak pelan, juga tidak cepat. Saya sadar berjalan. Di waktu jalan, ada sebuah pikiran menggelitik agar saya berbelok ke arah lain. Saya pun menyadari langkah saya. Entah, langkah kaki ini berjalan lurus saja, padahal pikiran menginstruksikan untuk berbelok ke arah lain. Entahlah, saya terus saja berjalan, menyadari langkah, dan bibir mengembang senyum. Saya juga tidak tahu kenapa. Entah.


Saya bermeditasi di bawah pohon. Ketika itu pikiran reda, tetapi di tubuh saya terasa ada aliran listrik yang mengalir dari kaki saya, kemudian naik ke tubuh saya sampai ke kepala, hingga tubuh bergerak sendiri, padahal tidak ada instruksi apa pun dalam pikiran. Saya sadari saja. Kebingungan masih merayap.

Di hari ketiga , pagi itu jam tiga lebih, entah saya berjalan biasa di halaman vihara. Saya melihat bulan di langit. Saya melihatnya lama. Tak terasa bibir ini mengembang senyum. Oh, saya tersenyum. Saya sadari itu. Kemudian saya berjalan menuju kamar mandi. Ketika berada di dekat kamar mandi, mata saya tertuju pada pelat nomor mobil, G-8604-BF, saya jadi teringat tentang hari ulang tahun saya di tahun 2004, sahabat saya memberi selamat yang direkam di kaset. Dan setelah itu, saya pun sadar, itu hanya pikiran. Esok, 8 Juni, adalah hari lahir saya. Entah, ini semua perbincangan antara semesta, pikiran

menangkap realitas dalam pelat nomor mobil. Dan saya pun tersadar: Hey, selamat memperingati hari lahir. Aku fana.

Mendut, 7 Juni 2009

14.12.09

Diary number D2010 from uncle bowl



I personally like having you, a diary because of the fact that I could write anything I want and record what I do each time I write.I like write diary . when I have something sad,I write it down like a small poem,it let me feel better.When I have something happy , I also write it down , particular !



No matter pain or not,I will try to record.It lets me know I ever walked in these painful days,laughed with tears,been crazy with my friends,felt the happiness with my lover.So much emotional moments which turned into my history have been recorded into my diary.Let me imagine now,10 years,30 years gone by.When I was old,open all my diary,the mood before,the words before my eyes standed for all past days.Luckily I have recorded them rather than letting them go by.This is also the power of diary.Just like the music,is recording our mood and will become the unforgetable once forever.
Diary ,records my entire life. Dear Dear Unclebowl, Thanks for give me this diary. pukpukhug.sabbe satta bhavantu sukhitatta :)




Loves, me.

PS : My diary's name is DELIRIUM D2010 .You could call it del or Li or ri or um for short.

i got serial number (D2010) at the back of diary.

29.11.09

Selasa setelah menara


Om Bhur Bhuvah Svah, Tat Savitur Varenyam, Bhargo Devasya Dhimahi, Dhiyo Yo Nah Prachodayat


Aku berbincang, mudra rahasia membuka lipatan lipatan kenangan dalam kesadaran senja



tanah , air, udara, api meresap dalam tubuh . sabbe satta bhavantu sukhitatta :)


Photographed by Alfonsus lisnanto gathi

The Solitaire Mystery



If just one of [those people] experiences life as a crazy adventure--and I mean that he, or she, experiences this every single day... Then he or she is a joker in a pack of cards.



As long as we are children, we have the ability to experience things around us - but then we grow used to the world. To grow up is to get drunk on sensual experience.

a sensation is always the same as a piece of news, and a piece of news never lives long.

inspirations from Jostein gaarder.
Photographed by Alfonsus Lisnanto gathi

Memilih tiga


Kami bisa saja menjadi lima, kami bisa saja menjadi empat, kami bisa saja menjadi satu,dua, ganjil atau genap.

Ini adalah keputusan dan kami memilih tiga. Dalam berbagai kasus dalam Alkitab, aku teringat seperti dalam menyatakan Allah Tritunggal yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus memiliki kaitan erat dengan angka tiga dimana angka tiga sendiri yang digunakan untuk menyatakan Allah Tritunggal.

Aku seperti bertemu tiga orang majus yang membawa tiga persembahan untuk bayi Yesus, Tuhan Yesus bangkit pada hari yang ketiga, pada waktu berdoa di taman getsemani Yesus membawa tiga orang murid-Nya (Petrus dan kedua anak Zebedeus) dan Yesus berdoa sebanyak tiga kali (Mat 26:36-46), Petrus menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok (Mat 26:34), Tuhan Yesus disalib bersama dua orang penyamun jadi pada waktu itu total ada tiga orang yang disalib, makhluk Sorgawi memuji Tuhan dengan tiga kali kata kudus yaitu "yang sudah ada, yang ada dan yang akan datang".Ya ya ya itu adalah semacamnya, Tiga adalah seperti minum obat tiga kali sehari, makan tiga kali sehari, sms tiga kali sehari, siaran tiga kali sehari, toilet tiga kali sehari atau atau atau kau bisa saja membuat cerita semacamnya yang serba tiga sesuai selera.

Beberapa ingatan : jalan-jalan


beberapa ingatan datang melayang , duduk di meja kerja seorang teman , lagu lagu yang sama terulang beberapa kali, aku menggigil dengan sedikit geram teringat jalan jalan yang sering aku lalui ketika kecil. Aku akan menyisihkan beberapa gambaran pikiran yang ada sekarang. Setelah semalam menempuh jalan menuju tempat aku meditasi, aku datang dengan kemalasan luar biasa, film film tertahan di komputer mati. aku lalui jalan jalan, coklat basah habis hujan. Pikiranku sibuk dengan aroma di sekeliling pecinan, tubuh babi gurih, aku lahap dipikiran. aku lurus saja, pikirku. Tadi malam.
Pukul tujuh malam lebih entah aku sampai di depan vihara, aku menepi . Merekatkan kedua tangan membentuk segitiga, aku tersenyum menemui beberapa teman. Perbincangan senyuman datang , aku duduk sebentar. Mudra jari jari rahasia terekat diatas dua kaki sila. Mata terpejam, tubuh tubuh mulai bicara tentang jalan jalan, kebingungan, kesal .Ini sakit.
Film dimulai, kakiku menginjak jalan tanah penuh rumput hijau, sebelah barat aku bersekolah dasar. Aku memakai topi lingkaran berwarna hitam, topi dari ibu ketika aku berusia 9 tahun. Aku suka sekali jalan-jalan di tanah barat itu, basah rumput aku bermain dengan topi. Menangkap bayang-bayang di jalan, sampai sore . Oh itu matahari membentuk lingkaran topi topi bayang. Aku teringat suryanamaskara yang aku lakukan di kamar kecilku , tanpa jendela. Hanya dua lobang persegi panjang di dinding kamar, aku dengar lenguhan kebun mati , tumbuhan liar yang beradu padu pada sore hari. Gelap jalan merayap, jalan jalan kedua yang aku lalui adalah di pemberhentian bis dekat rumah, aku menunggu berjam-jam , aku terburu-buru, wajah garang sopir berkumis tebal menarik mataku membaca kerut dahi senyum tebal, aku di pagi itu jalan-jalan.
Jalan-jalan aroma keringat , membaur dalam perjalananku bertemu dengan orang-orang yang sama di setiap harinya, di bis, angkutan yang sama jam yang sama. Tanpa aku tahu namanya. Kami berbincang dengan tubuh tubuh anggukan, senyuman entah murni atau palsu. Aku tidak bisa mengartikan. Semesta di pulung hati ketiga mengajak aku jalan jalan mengunjungi pekat gelap pemakaman nenek, aku sembunyi di dekat pohon pohon besar, ayah berdoa disana, ibu sibuk dengan bunga-bunga. Aku mengintip, ayah memanggil, aku menggigil.
aku remaja, jatuh cinta dengan jalan jalan besar, seribu perak mengantarkan aku ke jalan-jalan yang aku mau. Aku naik bis tingkat kota, aku naik ke atas sendiri, lelaki perempuan berkasih sayang, bermanjaan, aku duduk menepi, melihat langit dari bis tingkat jinjit. Berulang-ulang kali aku lakukan, aku bertemu kekasih kekasih haus , bapak bapak dahi berkerut, ibu tersenyum harum, tubuh tubuh berbicara , energi energi bicara. Aku suka perjalanan ini melebihi apapun, lebih baik seperti ini daripada reuni dengan perbincangan basa basi.
jalan-jalan, pengamen pengamen muka sama, muka berbeda berlalu lalang.Terayun kaki dengan berat badan ringan, haus pupus keringat asinku. Bibir kelu, lampu lampu tiga warna yang menguntit sejarah perbandingan. Aku tidak sudi berhenti, mana kuda kuda? .Aku menerjang jalang. Jalan jalan membungkus aroma, keringat , kata-kata, pikiran-pikiran. Melingkar lingkar seperti topi kesukaanku, melingkar lingkar menuju pertemuan yang entah keberapa. Film hidup dengan sendirinya di dalam kepala. Sudah berapa lama entah, malam bertemu jalan jalan melingkar, tubuh tubuh dzat yang terungkap, film memutar sendiri . beberapa ingatan datang melayang, Merekatkan kedua tangan membentuk segitiga, aku tersenyum menemui beberapa teman. Perbincangan senyuman datang , aku duduk sebentar. Mudra jari jari rahasia terekat diatas dua kaki sila. Mata terpejam, tubuh tubuh mulai bicara tentang jalan jalan, kebingungan, kesal .Ini sakit.Beberapa ingatan datang sampai mendekati pukul sembilan. Seperti lingkaran topi dari ibu ketika aku berusia sembilan.

Solo, 28 november 2009

28.11.09

Perundingan Babak Kedua


Merapal mantra di dapur, mengumpulkan daging reruntuhan, tanpa mata aku mengambil kenangan aroma lelaki yang aku persiapkan. Lelaki lelaki hidup kembali. Tentang rintihan yang gelegar . Kau berkumandang mengucapkan salam kehormatan, menjunjung agama rekat yang katanya kau simpan rekat, kantong kantong bergetar. Itu tandanya luka belum begitu sembuh betul.Lalu aku menyiapkan minuman, di dapur. Tubuh tubuh lelaki di masukkan dalam kotak, darah berceceran. Teringat tentang perjanjian yang diucapkan di depan altar. silam.
Kelembutan memuncak dengan waktu yang selalu dipertanyakan. Semakin riuh. Perundingan ini seperti kedipan mata yang entah terhitung, meleleh dalam kecupan berjuta resahan minuman basi yang kau simpan di kolong tempat tidur. Aku melumat jari-jari , aku merekammu dalam lusuh pertama, tentang detik hambur, siulan kabur, dendang liur. Jari melumat jari melumat tubuh rekaman yang menjalar cepat ke jantung, aku berbincang dengan cakra-cakra bersemayam lama .Aku menepi, bersandar jendela yang membuka cakra. Duniaku speerti memasuki lingkaran lingkaran berulang-ulang, apa itu labirin? aku hanya membaca seperti pengulangan bualan .
Kotak-kotak aku buka dari mesin pendingin, merah daging lelaki yang aku simpan di kotak-kotak berteriak, darah darah menetes merambat ke jari-jariku yang telah aku lumat. Merekam kenangan, perundingan akan dimulai, melekat aku mempersiapkan peralatan -peralatan, bukan untuk membunuhmu sayang, aku ingin memasakmu. ini kesenanganku, bukan kewajibanku. Aku dengar rintihanmu di kotak itu, tetes tetes merah ke jari jari , setelah aku lumat. Aku siap untuk perundingan selanjutnya , sayang.
buka kotak-kotak dengan doa yang terpejam, aku tidak tahu berdoa kepada siapa, aku diam saja, pura pura menggenggam tangan, mengusap kemuka. Aku buka kotak kotak berisi daging daging lelaki, aku memasak, aku ingin memasak kesenangan.
Sayup suara menghujat jemari jemari yang aku lumat, aku bunyi sendiri, siulan kabur, mulai menghambur. Pertama, kedua, ketiga, keempat, keentah yang keberapa aku mulai merapal mantra di dapur, mengumpulkan daging reruntuhan, tanpa mata aku mengambil kenangan aroma lelaki yang aku persiapkan. Lelaki lelaki hidup kembali. Tentang rintihan yang gelegar . Kau berkumandang mengucapkan salam kehormatan, menjunjung agama rekat yang katanya kau simpan rekat, kantong kantong bergetar. Itu tandanya luka belum begitu sembuh betul.Lalu siap aku dengar petualangan yang kesekian kali, bualan kesekian kali, kitab kesekian kali. Aku berdoa, berpura-pura menutup mata, entah berdoa kepada siapa, lalu mengusapkan ke muka.

Solo, 23 November 2009

teror perempuan


Bukankah orang-orang mulai menghertakmu dengan tanda tanya yang biasa saja, kenapa kamu menghertak dengan taring yang luluh, seakan akan apelmu dihilang oleh makhluk asing jahat. aku di halaman menciptakan kota kota , menjalar dalam kenang. Aku tahu itu hanyalah sepasang mata mata yang siap kamu pasang di rentetan kitab. Aku ingat tentang kesepakatan kitab yang kau tawarkan di sore mendung bernama . kau tahu? aku tidak tertarik sama sekali. Luluh jalan petang menghambat , lajang selangkangan dunia , menghidupkan udara yang begitu penuh. Aku diam diam mencium kulitmu, lewat udara. Aku bersaksi, kamu bisa tuli.Walaupun aku diam luruh. Duniaku membuka, rangsang tentang jala-jala liar yang aku ciptakan dihalaman bernama. Suasana petang yang ingin kau tawarkan tidak menarik perhatianku untuk melalui jembatan itu, Kau tahu. aku belum benar beranjak, menelpon gusar pun aku anggap aja isapan tentang mata-mata. Jadi kau mata-mata? aku tidak setuju. pohon mata-mata, jala mata-mata, rumput pun juga tidak bergoyang. Riang, perlahan aku mengalihkan perhatian dengan ribuan ciuman yang kita ciptakan di jalan, di dapur , di perempatan jalan, di gedung gedung bertingkat yang membuat kita berjingkat. Kau sesak, aku telak. Aku menghujam tubuhmu , mulut rumah yang kalam. Lama sekali perbandingan ini. Keinginan-keinginan yang orang-orang menyebut sampah, tentang persepsi siapa ? , Di suatu sore, kau mengenggam tangan, aku telak, aku membuka dada. karma-karma beterbangan menghujam luka, aku menelpon kegusaranmu, Sore, mendung, senja bukan yang aku harapkan. Mata sayu, perempuan dengan dada penuh karma berlalu, mengenggam lukamu. mencium kepastian tak terelakkan. Kitab-kitab tergeletak pekat di dapur, aku menghujam pisau untukmu, kulempar tepat di pintumu. Dada terbuka, karma terbuka. Darah bersama. Siapa yang berjumpa dengan titik yang berjumpa dengan luapan lenguhan yang panjang, di jantung malam, Dalam suka yang berkelebat bayang. Kematian-kematian itu berjalan pelan , lekat dengan duduk yang peluh. Bahkan mata mata itu membungkam, dada karma raga rapuh, langit tak lagi berwarna yang kau inginkan. Ragu-ragu bermula dari isapan jempol yang membuat duniamu menjadi batu. Perempuan perempuan dengan pisau dimata, diam mengenggam bergumam bodhisatva , Katakanlah jika itu adalah halaman yang terciptakan dengan peluh. She's boddhisatva .

5.11.09

Perjanjian pensil


Menyukai pensil untuk menulis di kertas yang kadang tidak putih, kertas bekas nota belanja, kertas kertas yang tercecer di sampah dapur ibuku, aku ambil aku coret dengan pensil kesukaanku. Pensil berwarna coklat, tidak runcing dan tidak ada motif apapun. Pensil itu suka sekali meminta senyuman dari orang-orang baru yang aku temui, kalau tidak dia akan mengutuk aku menjadi bola bola yang memutar di atas genting, melapisi rumah, tak bisa kembali ke peradaban pensil yang ia ciptakan dalam pesta lembayung tahun lalu. Jadi pesta itu semacam aku memojok diruang seperti gudang dirumah, aku kumpulkan kertas kertas tercecer , aku membuat perjanjian dengan pensil itu. Jika aku tak menuliskannya, aku akan menjadi bola bola kecil memutar seperti ketika aku sedang pening.
Kemudian lambat laun aku mulai membuat perjanjian dengan pensil, ketika aku mengenal wajah rusa di kebun rusa mati dekat kampungku, aku mulai mengambil kertas dan akumenulis beberapa kata untuk rusa itu, aku membuat perjanjian terbatas dengan rusa, pensil dan kertas.Aku pulang meletakkannya dirumah, beberapa tahun kemudian aku tak tahu dimana gambar-gambar itu, aku dipanggil rusa dimalam hari. Seperti diketuk ketuk kulitku. Jadi aku berbincang dengan saudara perempuan tentang rusa sebelum menghadiri pernikahan seorang temannya di ruang gereja, aku mencarinya diruang itu. Aku putus asa, sempat patah dengan janji pensil, kertas dan rusa, aku patah. Begitu saja.Meninggalkan ruang dengan detak jantung luar biasa, dia menyentuhku, dia muncul dalam liotin kalung ibu berwajah entah. Oh itu, aku tahu perjanjian pensilku tidak terpatahkan sampai sekarang. Aku tidak heran.
Perjanjian pensil yang kedua adalah ketika ayahku mengajakku ke ladang dekat rumah, dia mengenalkanku dengan jagung ketika aku berusia entah, aku belum bersekolah. Aku jatuh cinta dengan jagung. Aku pulang mengambil pensil di saku tas, aku menggambar jagung dikertas bekas nota belanja ibu, aku menaruh dirumah, beberapa tahun kemudian aku lupa entah. Aku terlupa dengan jagung, ketika seorang teman perempuan yang mencintaiku mengirimkan surat , aku lupa kata-kata , seperti aku tak bisa membaca, aku merayap gambar kartun jagung kuning di suratnya, sejak itu aku ingat dengan perjanjian pensil, kertas dan jagung.
Perjanjian pensil yang ketiga adalah dengan angka-angka, ketika sore hari, aku kelas tiga SD, ayahku mengajar matematika, aku menangis, aku tak suka matematika. Ayahku mengambil lidi dan mulai mendongeng tentang lidi cacingan, aku mendengarkan, aku suka dengan cerita itu. Baru aku sadar, dulu ayahku menyisipkan hitungan hitungan angka dalam dongennya. Aku jatuuh cinta dengan angka-angka, sampai sekarang angka-angka menyapaku dimana-mana, seperti menyapa, menguak kenangan lamaku.
Perjanjian pensil ini tersimpan dalam tubuhku, aku menyukai pensil untuk menulis di kertas yang kadang tidak putih, kertas bekas nota belanja, kertas kertas yang tercecer di sampah dapur ibuku, aku ambil aku coret dengan pensil kesukaanku.

Tria Nin, 5 November 2009

Anjingku berpesta di belakang rumah


Aku membasuh mukaku, setelah melaksanakan pertemuan dengan anjing anjing yang lucu di kebun belakang rumah. Riuh kawin menggesek kulit pohon kerontang , remahnya membaur udara sore. Langit tidak selalu biru, aku mencium keluguan bau tubuhmu jauh dari jarak yang ditawarkan oleh tubuhmu. Kopi hitam ditangan, rapal mantra di dada. Aku tertawa merayap sore ini dengan merestui anjing di kebun belakang untuk pesta tubuh .Oh ini tidak ada surat ribet apapun untuk mengesahkan pesta tubuh untuk itu. Aku tersenyum, mengulum kopi hitam, dada oh dada. Dada berjalan dimana-mana.
Hidungku kelayapan, menikmati remah coklat tanah, kulit anjing coklat, cium kopi hitam, cium udara rapal energi yang begitu rayu . Aku melakukannya sendiri. Aku tidak perlu mendekat untuk menciummu, aku terpejam, merapikan restu, merapalkan energi itu. Aku di tubuhmu. Sementara yang lain berjejalan dengan hukum-hukum yang tak tahu rimbanya, bagaimana kalau kita mencipta etika di kebun belakang rumahku ?
Menyaksikan anjing pesta tubuh, menggesek kulitnya di tubuh pohon kuning kerontang, pohon tidak selamanya hijau, sayang. Dia menari, aku berapi dalam genggaman rapal. Aku menyebutnya penyatuan energi.
Kau tertawa, aku tak peduli, aku ambil kitabku sendiri dari lemari coklat usiaku yang membelah dadamu, dalam lingkaran pali. Aku merayumu , tidak perlu mendekatimu, menyentuh kulitmu. Kau tahu ? aku mampu melakukannya sendiri dengan perbincangan dan ciuman udara dada di kebun belakang rumah, di iringi lolongan anjing yang menggertak duniamu.Aku membaca kitabku sendiri, aku menyanyi sendiri, aku merapal sendiri. Aku bisa saja menciptakan konsep lelah atau tidak lelah. Tapi aku tak pernah membutuhkan itu.
Yang aku butuhkan adalah mencium kopi hitam, seperti aku mencolek tubuhmu untuk secangkir bir hitam untuk upacara soreku. Lalu dadaku menggetak riuh, gaun kesayanganku menari sendiri, tubuhku diam, gaunku tak mau layu. Upacara sore dengan diriku siap dimulai di kebun belakang rumah. Seperti aku menyaksikan pesta tubuh anjingku di kebun belakang, aku tidak tahan dengan kenangan yang memuncak. Aku siram kopi tubuhmu, anjing. Kau semakin bergejolak, aku teriak, aku tak bisa bungkam dengan kenangan yang bernomor 8, 11, lalu merapal dugaan untuk rumah.
Aku menoleh ke belakang, hidungku merayap bau kue kering dari dapur ibuku, Aku ingin lari saja dari upacara sore. Hai anjing, lanjutkan pesta tubuhmu, aku akan masuk kamar, kau tau ? aku tak perlu mendekat untuk menciummu.
Tiba-tiba kakiku seperti terikat kuat masuk ke dalam tanah, sedangkan anjing terus saja berpesta demi tubuhnya sendiri, aku mencium kue kering dari dapur ibu, bir hitam tak jauh dari rumah megah, ampas kopi hitam di tangan, bau anyir menstruasi tubuhku, remah coklat yang gurih di hidungku. Aku tak bisa masuk ke kamarku. aku pejam, atas langit semakin gelap, pertanda akan hujan ?
Oh ini yang diinginkan anjingku, pesta akan menjadi seru, dia akan bertemu dengan dewi dewi , merayap sayap-sayap, penciumanku dimulai, pikiran pikiran pesta, anjingku berpesta, tubuh coklat semakin riuh. Aku membasuh mukaku, setelah melaksanakan pertemuan dengan anjing anjing yang lucu di kebun belakang rumah.

Tria Nin, Solo, 5 November 2009

2.11.09

Upacara pemakaman : bunyi

Orang-orang berdatangan di dekat pagar, aku di berdiri tak jauh dari itu, mengenakan gaun merah , dengan kalung kepala rusa, jika aku resah, aku akan menyentuh kepala rusa itu , sentuh saja. Berulang kali. Upacara pemakaman dan gaun merahku, aku berjalan pelan mendekati tembok coklat, dulu ibuku suka menyuapi didekat itu, di suatu sore.
Orang-orang berdatangan, menyalami ibuku, wajah wajah yang ditekuk duduk duduk di kursi menunduk. Orang-orang berdatangan, menyalami ibuku di awal bulan juni kelahiranku.
Aku menarik kepala rusa kedekat jantungku. Aku detak. Melanglang buana dengan dugaan yang lalu lalang di kepala. Pertanyaan yang tak perlu dijawab, datang menyapu angin mukaku. Lalu aku mulai bergandengan tangan, aku belajar mengenai menunduk di acara pemakaman rumahku. Hari itu adalah upacara pemakaman kedua yang aku tahu dirumahku.
Dinding yang mulai basah dengan dugaan, cerita adalah tentang khawatir . menyeruak dinding. Aku turun dengan kepalan , merah gaunku, merah pikirku. Duduk duduk aku tak mau menunduk. Lonceng yang lama menghilang, kembali dibunyikan, diambil dari gudang gelap rumah. Lagu sembilan puluhan diputar diruamh berulangkali, aku jatuh cinta dengan romansa.
Beberapa adalah tentang yang bernama dukungan yang membuat hati ini berbicara banyak. Kau tahu, dimana letaknya hati? aku entah. Aku berjalan mendekati tembok coklat, dimana aibuku suka menyuapi aku ketika kecil. Aku merengek meminta kecap coklat untuk nasi putih diatasnya.
Aku pura-pura suka bayangan, aku tertawa didepan cermin, lugu. aku tahu itu setan. Setan yang berhamburan dalam kalap. Aku menawar dengan ragu berulangkali. Apa yang akan dikatakan hatiku? hati tidak terletak didada, hati terletak menyatu disemuanya. Perbincangan yang berhati-hati adalah palsu, aku mulai tahu tentang luka yang ditorehkan dalam lonceng yang diambil mendadak dari gudang rumah, yang sebelumnya tergeletak entah dalam gelap.


BUNYI

Bunyi itu lalu lalang, menelponku. Berulangkali menanyakan apakah aku siap atau tidak ? aku menyatu kataku. Dua diantaranya adalah aku melaju dengan sadarku.

Solo, 2 November 2009

28.10.09

menciummu : kue pertama yang kau sisakan untuk aku, kering di meja kamar.

kue pertama yang kau sisakan untuk aku, kering di meja kamar. Aku menciumnya berkali-kali hingga hari bertambah entah. Untuk melahapnya pun , aku resah. Aku tak ingin menghabiskan kesukaanku dalam waktu sedetik lewat, mampir masuk ke perut, bergelayut, mengkerut kemudian larut kedalam tanah. Malam pertama , ketika kau melirik mataku, memberikan sepiring kue berbentuk segitiga, warnanya coklat, aku senang. Aku bilang aku akan segera melahapnya, aku melahapnya dalam pikiran berhari-hari, dan membiarkan mengering di meja kamar, mencium baunya , remahnya, rindunya, seperti aku mencium tanganmu.

Nenek berasa ungu (pertemuan pertama )

aku mengenalmu di vihara, udara lembab, mataku pekat. Kau datang menanyakan kabarku, meggenggam hangat. Sore itu, aku menyapu pekat, bersamau. Undakan keentah aku berbincang mengalir tentang kitab-kitab tersebar didunia yang mulai merayap menjadi dusta, konsep yang meluap seperti sampah. Kau menyentuh dadaku, kau bilang sederhana sekali, rasakan detak jantungmu, nak.itu pertemuan pertama.


Nenek berasa kuning (pertemuan kedua)

aku mencium tanganmu, katanya kau haru. Sudah lama tangan itu kering dan pekat. malam itu hangat. aku tersenyum, entah semacam aku menyerap energi semangat dari cium tanganmu. Aku diam, kau tertawa hening, bercerita tentang masakan-masakan yangs eringkali kau buat, tapi entah tak ada yang merasa, aku bilang, aku mau merasa, kau tertawa girang, kuning benderang dalam pertemuan kedua.


Nenek berasa putih (pertemuan ketiga)

aku suka hari jum'at, itu artinya aku akan menyiapkan diriku untuk bertemu denganmu. Aku pelan-pelan melihatmu, menyiapkan dupa, kau duduk dan berdoa khitmat. entah rapal apa yang kau ucap. Dadaku perih seperti tersayat pisau berkali-kali. aku datang sesenggukan, kau mengusap pelan nadi sebelah kiriku , gejolak remas hingga butir butir putih mengembang membaur ke angkasa.


Nenek berasa aku (pertemuan -pertemuan berulangkali)

Aku mendapat telepon,aku harus datang menemuimu , di dekat jembatan pinggir kota. Kau mengeluarkan bungkusan berwarna kertas abu, katanya aku harus membukanya dirumah. Kau memeluk hangat tubuhku, dadaku basah, mataku lembab. Aku tahu pertanda itu.


kue pertama yang kau sisakan untuk aku, kering di meja kamar. Aku menciumnya berkali-kali hingga hari bertambah entah. Untuk melahapnya pun , aku resah. Aku tak ingin menghabiskan kesukaanku dalam waktu sedetik lewat, mampir masuk ke perut, bergelayut, mengkerut kemudian larut kedalam tanah. Malam pertama , ketika kau melirik mataku, memberikan sepiring kue berbentuk segitiga, warnanya coklat, aku senang. Aku bilang aku akan segera melahapnya, aku melahapnya dalam pikiran berhari-hari, dan membiarkan mengering di meja kamar, mencium baunya , remahnya, rindunya, seperti aku mencium tanganmu.

Solo, 28 oktober 2009

24.10.09

730 hari


Dimulai dari rabu yang berusia satu, aku bertemu dengan sosok kau di depan ruang kursi panjang kayu. coklat. Perbincangan dimulai tentang gambar gambar bisu yang disuarakan oleh rupa yang entah. Matamu beradu di persilangan malam, aku genggam, pamit pulang, teduh. 24 oktober 2007


Perbincangan dengan lelaki, membaur semesta, itu ada jejak jejak, hari itu kau mengajakku ke ruang deretan kursi kursi kayu panjang.coklat. kau berdoa di altar, kau membalikkan badan, menujuku.kau mengenggam tanganku, setelah itu kita berbincang dengan 365 sura warna warni. Kita berjalan, mampir ke laut, aku tak mau pulang. perempuan jatuh cinta pada laut, kita membuat pesan, mengalirkan kertas kertas ke laut, senja itu. 24 oktober 2008


Hari dimulai dengan teriakan tubuh yang limbung, aku duduk di pinggir, dekat taman. aku tutup mata ini.aku membaur. memanggilmu. 24 oktober 2009

21.10.09

menunggu jam 18 : INGIN CEPAT PULANG.

Menunggu jam 18 segera tiba, karena :

Jam 18.00, jam kerja saya sudah habis, jadi saya akan segera pulang. Menikmati 30 menit perjalanan pulang, kemudian mandi dan memulai hal-hal yang ingin dikerjakan dirumah, merapikan beberapa tumpukan buku yang tercecer di kamar. hari selasa kemarin adalah hari libur nasional untuk saya, biasanya saya ke jogya, tetapi kemarin berbeda, saya diminta ibu untuk membersihkan rumah. Mengeluarkan buku buku dari lemari. Membersihkan debu-debunya. Karena kemaren kecapekan, jadi ada beberapa buku yang masih tercecer di kamar. Entah energi apa ini, saya ingin segera PULANG.

  • kemudian, merapikan buku-buku.


  • Menulis dirumah, saya suka sekali menulis di rumah, ada semacam energi khas yang saya cium dan selalu saya rindukan di ruang bebas rumah.


  • Mendengar lagu tak terduga 70-an dari playlist kaset bapak, bercampur suara cicit burung kebun belakang rumah milik tetangga.


  • Ibu suka sekali membuatkan teh hangat yang disiapkan di meja kamar. Teh hangat ibu melebihi apapun.


  • saya bisa swaiso, yoga dan bermeditasi berjam jam entah jika dirumah.


  • Melupakan pekerjaan yang membosankan.


  • Oh ya, ada satu hal kenapa saya ingin cepat cepat pulang , jadi tadi malam ibu bilang hari ini akan membelikan box yang kuat untuk menyimpan diary-diary saya dari SD sampai sekarang, agar si rayap tidak melahapnya, saya penasaran, boxnya berbentuk seperti apa yah ?



    Ayo tria, selesaikan pekerjaanmu. jika sudah jam 18.00 WIB, cepat pulang yah nak :)

    10.10.09

    Sacramentum (untuk rusa)

    Menghadiri pernikahan di gereja pinggir kota

    Aku mulai menuju gereja di pinggir kota, aku bersama kakakku yang perempuan berjalan menuju kesana. Kami memilih pelan, lalu lintas padat membuat pening kepala. Kami berbincang tiada henti, di luar pesta motor mobil klakson bersahutan.


    AKU

    Kakak memilih pelan, perjalanan padat merayap, kami pelan, Aku teringat rusa tertempel di dinding gereja, pikiran ini merayap. Apa yang harus aku katakan, jika nanti aku bertemu rusa, aku bermain di buku catatan harian, aku keluarkan dari tas hitam. Aku mulai menggambar rusa. Disini dunia meninggi, pelan, klakson yang berhamburan. Kakakku masih sibuk dengan pikiran dan jalanan. Jika nanti aku ketemu rusa, senang sekali rasanya. Aku lupa membawa oleh-oleh. Jadi aku mulai corat coret disini, kakak bilang buat saja puisi untuk rusa. Aku tak tahu menulis puisi apa, karena dalam pikiran hanya terbaca rusa rusa rusa, aku lupa membawa oleh-oleh, rusa rusa rusa , oleh oleh ada dalam tubuhku, kau bisa menciumku.


    KAKAK

    Menyalakan rokok Dji sam soe kesukaanku, membuka jendela , ini meditasi , aku bisa bermeditasi dimana saja, di jalanan ditengah klakson gempar, di tengah orang-orang lupa akan berjalan. Aku menghisap asap ini , resap ini. Kesadaran apa yang kau inginkan? Jangan kau timbun , keinginan-keinginan itu dalam pikiran. Pikiran membusuk. Orang-orang berkumpul di tempat hening spiritual, berkeinginan kosong. Aku tidak menyalahkan, tetapi sadarkah ketika mereka ingin kosong dan tenang ? ingin-ingin itu hanya pikiran. Aku lebur dalam asap. Kota panas yang menyerbu kulitku. Bagaimana berkeinginan?


    SACRAMENTUM

    Jalan-jalan menuju pinggir kota, satu persatu bis lalu lalang antar kota menyalip, klakson panjang , telinga garang. Aku hanya tersenyum dan kakak tertawa terbahak-bahak. Sudah berapa asap yang dia ciptakan, entah. Kakak bilang : dear, kita telat datang ke acara pernikahan. Parkir pun penuh. Kami berhenti agak jauh dari gereja.
    Kami jalan kaki, dia bilang gincuku mulai lusuh, aku lusuh. Aku bilang, bedaknya mulai menipis. Miris. Kami tertawa nyaring di pinggir jalan . Siang panas membuat percakapan ini menjadi riang. Kami memasuki gereja , bernyanyi mereka. Aku masuk.kakak masuk aku membisikkan ke telinga kakak, aku tidak melihat rusa disini, dia dipindah kemana. Aku mencari-cari rusa, kakak sibuk di pikiran menyaksikan sakramen. Aku mencari rusa itu, dimana, dinding mana?
    Aku duduk saja, mengikuti upacara, mata ini berpetualang kemana-mana. Janji janji entah menyerang kepala, tangis anak kecil anak siapa terdengar ngiang di telinga, orang-orang mulai berdoa. Aku berdoa : hai rusa, aku datang, kau berpindah tempat, dimana? Terakhir kali aku melihatmu di dinding sebelah utara. Jadi kau dimana? Sekarang dinding putih. Aku berdoa : hai rusa, aku datang.
    Upacara pernikahan lelaki dan perempuan, tangisan , doa menyatu , keluarga berkumpul jadi satu. Aku sibuk melihat dinding-dinding. Sekarang menjadi polos, tidak seperti 3 tahun yang lalu, rusa itu hilang entah kemana. Aku bersakramen sendiri : hai rusa, aku disini, mari bertemu, aku bacakan puisi untukmu.
    Orang orang mulai bersalaman, kakakku sibuk dengan teman-temannya, aku bersalaman dengan orang-orang , sebagian aku kenal, sebagian tidak. Aku sendu, rusa menghilang. Orang-orang bersalam damai, aku damai sadarku. Aku meninggalkan pesan : hai rusa, aku datang kesini, ini puisi.
    Aku dan kakak meninggalkan gereja, kakak menepuk bahuku tiga kali, dia bilang rusa sedang terbang, ke seluruh semesta, dia ada didekatmu. Aku meninggalkan gereja, berjalan pelan, diantara puluhan orang sesak ingin keluar gereja. Aku pelan, semua sesak, aku pelan , semua sesak, semuanya ingin keluar gereja. Aku tersenyum ketika seorang ibu berwajah senja entah disampingku, dia bilang hati-hati, aku tersenyum. Entah apa yang menarikku untuk menoleh lagi ke ibu itu, oh aku meresap. Aku tersenyum , melihat rusa di liontin kalung ibu itu. Hai rusa rusa rusa rusa, aku datang kesini ini puisi. Aku sesak di puluhan orang sesak, pelan menyadarimu, aku temukan rusa itu di liontin kalung ibu senja entah aku tak tahu.salam hangat :)

    Solo, 10 oktober 2009

    Percakapan untuk kesekian kalinya ( angka angka tubuh)

    Aku dunia. Menjadi beberapa potong, lalu memakannya bersama mushroom wangi , di depan mata. Adalah semacam perkembangan , ketika aku melihat sabun mandi bergambar perempuan dalam definisi orang adalah cantik. Karena putih. Aku melihatnya menjadi sekejap . Bermunculan dunia. Aku adalah dunia. Menjadi berkembang ketika aku mengibarkan bendera , buatanku sendiri tentunya. Ketika Barthes berjejalan menciptakan formula formula, wine adalah minuman pergaulan. Aku bergumul , dengan dunia. Kubuat sendiri dengan formula. aku tersenyum mendengarnya, jika Barthes disini, aku hanya ingin mencium baunya. di dekat meja makan, aku membuat ramuan. Aku tersenyum. Bersulang sendiri, Ini untuk barthes.
    Ikonisitas yang kutemui di lorong menuju tempat tidur ayah, ibu. aku bercampur menjadi perkembangan orang yang terancam lekuk. Seperti aku menghampiri kotak yang berisi abjad-abjad yang dijual untuk para ibu yang mengajari membaca anaknya . Aku membaca lelaki, bertumpuk dengan kulit yang memuja rindu, dan dia berjuta sering memuji barthes untuk kesekian kalinya.
    Perjamuan kedua adalah ketika daging dan pisau menjadi dinding. Di piring seperti Lemariku bisa aku pecah , aku memakunya sendiri dan aku tempel gambar -gambar bangunan mimpi seperti aku berada di luang prabang, prabumulih, mendut,lasem, ubud, islandia merayap dalam kayu . sudah tidak utuh tentunya.
    Percakapan untuk kesekian kalinya, berulangkali ditanyakan pertanyaan yang sama, apakah kadar cinta itu. aku bilang , ooh konsep. aku mengajakmu ke belakang rumah, duduk di kursi panjang, aku membacakan puisi dari udara mendung , waktu itu.
    Waktu itu, kita berbicara tentang pintu. aku membolak balik, aku berdiri, aku bilang, ini kakiku bergerak sendiri. Kau tertawa, kau bilang..oooh itu konsep.
    Lalu kita untuk kesekian kalinya, mengambil sepasang garpu makan di ruang makan rumahku. Kita tak terpejam, mulailah permainan, kita menghitung jari garpu , kita berulang kali menghitung, kita ulang ulang. Angka-angka menghambur bersamaan dalam tubuh. angka angka tubuh.

    solo, 9 oktober 2009

    19.9.09

    Kartu pos Wortel untuk kapanpun aku mau

    Diam diam melihat kembali kendala yang melipat duniamu. Tentang racun yang aku bosan mendengarnya. Berkali kali mendengar entah khotbah , menghuyung tubuh di peluk rindu. Ya, rindu katamu. Aku tak harus melafalkan dengan jelas lewat mulutku. Bisa saja kapanpun itu. Semacam pergerakan jarum yang bisa saja aku balik sesuka, aku.

    KARTU POS

    Sebentar, melipat kartu pos yang sudah aku gambar di sore itu. aku tidak memilih kartu pos harvest di tumpukan supermarket, kata ibuku kartu pos itu mahal. Jadi aku diam saja.Padahal aku tertarik dengan kartu pos bergambar anak kecil berpeci bersepeda biru. Aku merajuk, meminta dibelikan lem. Lem kecil yang tutupnya warna merah, harganya duaratus rupiah. Ibu mengabulkan permintaanku.Aku pulang dengan lem di tangan. Membuka laci ayah, tumpukan kertas berhamburan. AKu memilih warna putih kecoklatan, dua lembar saja. Dibalik itu aku menggambar wortel kesukaanku, warnanya pelangi, matanya ada dua, Sangat tajam,aku menggambar gogo . Aku menggambar wortel yang sangat banyak dengan titik titik pelangi yang sangat banyak pula. Selesai sudah, aku bingung harus menuliskan apa di kertasnya.

    Jadi nak, besok kartu pos dikirimkan kakak ke aceh ?

    aku sudah membuat kartu pos, gambarnya wortel , warnanya pelangi, tapi aku ga mau ditulisin..

    kok wortel ? bikin lagi ya nak, yang gambar ketupat, dibawahnya ditulis mohon maap lahir batin

    Lho bu' bulan kemaren khan aku sudah menulis surat sama gambar ke kakak, aku menggambar mickey mouse warna merah, terus aku minta maap soalnya poster mickey mouse kesayangan kakak aku robekin.Jadi sekarang gambar ketupat gtu ya?

    iyah nak, ayo gambar yang bagus..besok dikirim ke kakak yah

    (tanganku mencorat coret kertas coklat milik ayah)






    aku menggambar tujuh wortel kesukaanku, ada warna merah, kuning, biru, hijau, orange, ungu aku campur campur jadi satu. Aku mengirim kartu pos itu untuk kakakku, aku bilang ke ibu aku bisa mengirimnya kapanpun.Wortel merah aku kirim hari senin, wortel biru aku kirim hari selasa, wortel hijau aku kirim rabu, wortel orange aku kirim kamis, wortel ungu aku kirim jum'at, wortel campur campur lainnya bisa aku kirim sabtu dan minggu. Ibuku tersenyum dan menyentuh bahuku lembut , pukpukpuk.



    Solo, 19 September 2009

    18.9.09

    As if By Magic

    TRAGIC, Aku memutar jam yang bisa aku putar semau apapun, aku memutar angka 13 di jam sekarang. Di pojok kamar, menikmati diri bersembunyi , mengucapkan mantra : Tragic. Lalu aku masuk dalam asap yang aku ciptakan sendiri. Aku bertemu sebelah sepatu kaca , sepertinya milik cinderella, tapi aku biarkan saja. Seperti awan beterbangan dalam kamar. AKu berhamburan bersama kapas-kapas yang tak lagi putih. Aku menciptakan sendiri menjadi warna yang aku suka. Saat ini aku suka ungu, aku membuat kapas berwarna ungu berhamburan dalam duniaku.
    Mantra yang kerap aku ulang, aku membuka dompet teddy bear berwarna ungu.Lipatan-lipatan nota entah lama yang aku gambari wajahmu, yang aku tulisi semacam kata-kata yang entah aku tak tahu maknanya. Aku membukanya kembali. TRAGIC.


    FASCINATION

    (aku menggerakkan tubuhku, aku tidak melihat kakiku)

    Saat itu juga, memiliki ruang yang dalam untuk tubuhku. Aku bergerak melipat jari membentuk segitiga diatas kepala, aku menggerakkan tanganku setengah bulan. Aku tak mau berteriak, aku tahu ada semacam aliran energi mengelilingi, warnanya ungu.


    UNGU


    lagi-lagi ungu, kemudian aku menutup jendela, menjatuhkan tubuh di atas dipan kayu coklat, kakiku mengawang. Seperti ada aliran ungu dari bawah dipan yang mencoba menali kakiku. Napasku oh napasku, mata pejam. MAGIC.


    Solo, 18 September 2009

    Panorama Sore : .Ibu membiarkan aku menangis.

    Kemudian ibu membuat sirup berwarna merah,. Entah itu rasa buah apa. Ibu memotong pepaya menjadi bentuk bintang, aku suka itu. Tetapi kakakku lebih suka potongan pepaya yang berbentuk bulan sabit. Wajahku menekuk, aku suka diam, jika kakakku berulah.


    UNTUK JUM'AT

    Ibu membiarkan wajahku menekuk, tanganya sibuk membuat bulan sabit . Pepaya merah itu menjadi bulan sabit yang sangat banyak. Di wadah transparan kuning, kakakku menunggu ibu memotong bulan sabit. Pepaya menjadi bulan sabit. Wajahku menekuk, aku kesal, marah. Aku lari meninggalkan bulan sabit, ibu dan mengumpat dalam hati . Kakakku berulah. Aku lari ke halaman. Mengambil tongkat kakek yang tersimpan di gudang belakang rumah. Aku menggambar bintang besar disitu, menangis tersedu sedu. Mengutuk kakakku yang berulah. AKU BENCI BULAN SABIT.AKu menggambar bulan sabit disamping bintang.Mencorat corat bulan sabit bercapur kekesalan di tanah , resah resap. Ibuku berkali kali memanggilku, tetapi aku tidak menggubris. Ibu datang kepadaku.

    Aku bilang :" Ibu aku ga mau pepaya berbentuk bulan sabit"

    Ibu mengusap rambutku, aku menangis tersedu.Ibu membiarkan aku menangis.


    Solo, 18 September 2009

    16.9.09

    bisik-bisik balon dengan mesin ketik (Ayah)

    Jadi beberapa dari sekarang memang menyakitkan, aku tak mungkin membual tentang macam yang tak ada habisnya di perbincangkan, semacam : bagaimana aku beribadah ? apakah aku harus memakan roti? jadwal mana yang harus dihadiri untuk mendengarkan petuah ?
    aku tak mungkin lagi berjalan dengan gerakan yang sama, karena daun daun yang mengusik dada semakin berjatuhan, mengajakku memecahkan mudra yang tersembunyi di lekuk jari-jari. Aku sakit. Itu biasa saja. Karena memang ini sakit. Buat apa harus ditutupi dengan senyuman dan tertawa yang sementara. Jadi menangis sepuas-puasnya. Kecewa menyapa daun daun, dada kering di resap jaman.
    Aku membuntuti semacam histori itu, lalu kau mengusikku dnegan berbagai pertanyaan, buat apa? apakah kau mampu mengejewantahkan itu semua ? buat apa?
    Sore itu, aku jalan menyimpan sesak daun daun mengusik dada, berhenti di toko menyimpan semacam perbincangan dengan lalu. Jadi kira-kira apakah kita benar-benar berhati seperti daun daun itu? Mereka jatuh, mengusik dada.

    Mesin ketik

    Ayah mengetik , aku ketik dibawah selimut, gelap , pikiranku melihat balon-balon kecil , warna warni. Tangan ayah ketik, abjad yang terus dia ungkapkan dalam malam. Aku begitu seru malam itu, ayah mengetik, aku hanya ingin dibalik selimut. Mendengarnya ketak, ketik. Balon-balon muncul , warna warni menysup tubuhku di bawah selimut. Aku bergumam pelan. Ayah menulis apa , balon-balon?
    Mereka beterbangan, aku mendengar tangan ayah ketak ketik. Aku kedap kedip. Balon-balon hinggap ketubuh ayah.


    Aku dibawah selimut, mendengar balon balon bisik-bisik. Dia mengirimkan warna merah gelap. aku dibawah selimut, dadaku begitu sesak .Ayah ada apa ?



    Solo, 16 september 2009

    Ma, mimpi indah ya

    Hai dengan segala yang tercipta. Tak ada yang aku ingin ungkapkan tentang keinginan. Jika beberapa darimu adalah bualan yang mencoba menjadi hukum. Beberapa mungkin aku tak membicarakan keinginan. Lagu lagu yang sama terdengar di waktu yang berbeda-beda , aku hanya berbentuk seperti stella, kau mungkin yang menjadi seperti action figure yang terletak di komputer kerjamu (mungkin)

    Kenyataan bahwa ini semacam duka dan orang-orang menganggap ini tidak gila, biasa saja. Tiba-tiba engkau membicarakan mimpi tinggal di negeri swiss, katanya damai. Aku mengangguk, menghisap asap (mungkin)


    Siapa yang bilang kalau sepatu yang bau itu mengganggu, sepatu itu bisa saja bernilai berharga sekali, jika engkau melemparkan ke wajah muka sorotan kamera yang disiarkan di berbagai negara. ya itu mengangguk, mengajak menikmati semangkok mie dengan tambahan cabe dan kornet yang membuat duniaku seperti aku tinggal di barcelona, melukis bersama vicky. Dan kami menyanyikan mars penyembah berhala.

    Siapa yang tahu tentang keakuaan ? keinginan?

    Mama memanggilku di tengah malam, aku ke dapur , mengambil air putih segelas dan menemui mama, aku bilang : ma, mimpi indah ya :)

    13.9.09

    Terima kasih semesta atas perjalanan ini, sabbe satta bhavantu sukhitatta :)

    Jam lima belas lebih entah, saya makan sore bersama ajiz, ayu dan agra di pondok jowi. Kami duduk di meja paling belakang, tetapi belum lama duduk, kami diminta pindah ke depan, karena tempat duduk yang belakang akan di tata untuk acara. Jadi saya bersama teman-teman berpindah tempat duduk agak ke depan, saya duduk, ayu dan agra duduk, saya duduk kemudian ajiz meletakkan nomor meja. Saya pun memulai pembicaraan, mengomentari nomor meja 26 yang diletakan di meja, jika 2 ditambah 6 akan menjadi 8. Angka 8 memang disukai masyarakat karena dianggap membawa keberuntungan.
    Perbincangan mengalir adanya, awalnya kami mengomentari pesan pendek dari seorang teman , kemudian tentang kehidupan seni di dekat aliran sungai , kita tidak akan bisa menebak aliran sungai, hingga agra mengajukan pertanyaan tentang kesadaran, Agra mulai berbicara tentang kesadaran mengamati lingkungan sekitar, rumah, dan lingkungan. Apakah kita benar-benar sadar ketika makan ? apakah kita benar-benar sadar kita berjalan ? apakah kita benar-benar sadar ketika minum ? Jangan -jangan ketika kita mengetahui kita sadar, pikiran kita masih saja menari lincah di kepala, apakah kita benar-benar sadar adanya ?
    Ayu dan aziz berbincang asyik sekali di samping saya, entah apa yang mereka perbincangkan. Saya dan agra masih berdiskusi mengalir saja, tentang merasakan keberadaan diri bagian dari semesta, hembusan udara, angin, hewan, pohon-pohon disekitar yang hijau atau tidak, langit, air , tanah bagian dari keberadaan diri. Mengamati pikiran dan lompatan dan loncatan kacau, pikiran yang tidak pernah diam. Membiarkan saja , menyadari begitu adanya. Ya ricauan itu datang kembali tentang konsep ketuhanan setiap orang. Bagaimana orang mempercayai kitab sucinya? apakah itu produk pikiran ? Kenapa orang bisa fanatik dengan yang dianutnya? Kenapa itu hanya omong kosong ? Sangat ricau sekali dalam pikiran saya dan agra. Ya itu PIKIRAN. oh pikiran sangat lincah sekali. Kami ricau mengalir adanya, membiarkan angin masuk pori kulit, bau amis kolam menyengat, suara kran air resah wastafel, piring-piring kotor di meja, hisap rokok masuk ke tubuh, orang-orang berbincang di sekitar dalam taman bermain pikirannya. Oh semesta, kami menyadari kekacauan itu begitu adanya, begitu adanya. Kami asyik sekali berbincang, hingga pelayan meminta kami pindah ke sebelah , karena mereka akan menata tempat untuk acara. Derit kursi miris di dada, pelayan yang ramai menambah kicau pikiran, kami meninggalkan nomor meja 26 .Saya dan agra duduk berhadapan, melanjutkan perbincangan tentang emosi positif semesta yang bisa kita amati dari lingkungan sekitar kita, dari pohon-pohon, tanaman, hewan, batu, tanah, air, udara yang saling berkaitan, dimana lingkungan sekitar bersama kawannya memiliki pancaran gelombang energi yang berbeda-beda. Seperti kita merawat tanaman, bunga dengan telaten dan kash sayang, maka energi yang terkandung dalam pohon tersebut dapat menangkap energi positif dari manusia, sehingga sangat bermanfaat bagi seluruh mahluk.
    Ajiez menepuk bahu saya, urat nadi sebelah kiri saya berdetak cepat dan sangat kencang, jadi saya bingung apakah saya harus melanjutkan perbincangan dengan agra atau ajiz. Pikiran hanya menangkap tentang perkataan ajiez kalo ternyata ayu itu adalah teman SD-nya waktu di semarang. Pikiran itu samar, saya melanjutkan perbincangan dengan agra, tetapi pikiran begitu asyik, nadi sebelah kiri saya berdetak sangat cepat.Saya menoleh , menatap wajah ajiez. Jadi selama ini ayu dan Ajiez baru sadar kalau mereka ternyata teman SD di Antonius II Semarang. Ini terbongkar ketika ayu dan ajiez memperbincangkan bagaimana mereka belajar tentang 3 agama yang berbeda, dan mulai menceritakan tentang pengalaman masa kecil ketika ajiz pindah dari solo ke kelas 4 di SD di semarang, kemudian Ayu pindah dari Lampung Ke SD semarang. Mereka bicara tentang sekolah katolik di semarang, mereka saling curiga karena ternyata teman-teman yang ajiz sebutkan ayu pun kenal. YA ayu dan ajiz menyebut nama SD yang sama, SD Antonius II Semarang. Waktu itu ayu dan ajiez satu kelas , mereka tidak begitu akrab, karena jumlah 40 siswa dalam setiap kelas. Di tambah lagi, naik kelas lima ajiez pindah ke Solo dan ayu pindah ke Bali. Wajah-wajah itu mengendap dalam pikiran , ricau kacau terlupa, dan mereka menyadarinya di sore ini . Mereka kaget, senang, mulai menyadari peristiwa , kenangan lampau tentang bunda maria, gereja di dekat sekolah, kantin, ulangan, mengunjungi museum dsb. Mereka pertama kali bertemu dallam waktu entah, terlupa karena timbunan pikiran-pikiran yang begitu kacau di kepala. Akhirnya mereka menyadarinya sore ini.

    Kami melirik nomor meja sebelah 26, jika 2 ditambah 6 akan menjadi 8.Langit dan bumi tujuh hari lamanya sehingga hari kedelapan merupakan hari pertama dari season yang baru. Demikian juga dengan tujuh hari dalam seminggu menjadikan hari kedelapan sebagai hari pertama minggu berikutnya.jika 6 dikurangi 2 menjadi empat. 4 adalah saya, ajiz, ayu dan agra. Kami berbincang di tanggal 13, jika 1 ditambah 3 adalah 4, 4 adalah kami. Kami yakin akan bertemu dengan dzat dzat yang berhubungan dengan diri kita. Dzat bisa berarti apapun. Alam semesta menyimpan segudang misteri untuk dipecahkan, namun setiap satu misteri terungkap akan muncul misteri baru. Ruang waktu seperti sebuah jajaran teka teki yang menanti manusia untuk mengisi setiap jawaban. Terima kasih semesta atas perjalanan ini, sabbe satta bhavantu sukhitatta :)

    Solo, 13 September 2009

    11.9.09

    Persephone : neraka

    Membuka kabar berkali-kali, aku mulai menghamburkan macam macam yang di bungkus yang diberikan hades di negerinya.Warna dan warn dan kilau dan kerlip, kau bisa melanjutkan kilau sendiri. Orang-orang menyebutnya neraka, aku tidak merasakan bahwa ini adalah neraka, Hades mengerti bagaimana dia memanjakan perempuan dari bawah tanah yang terbang ke nuansa yang orang menyebutnya gelap. Aku tidak merasakan bualan -bualan orang orang tentang neraka atau gelap itu sendiri. Bagaimana mungkin di negeri hades atau garis miring neraka seperti awam menyebutnya, banyak sekali bingkisan kejutan yang menakjubkan. aku bisa saja menemukan tongkat ajaib yang membuat duniaku tidak kesepian lagi, aku bisa membuat berhektar-hektar ladang jagung di negeri ini. Ah..jika Demeter mengetahui benar-benar kenyataan neraka ini. Pasti dia ingin masuk neraka disini dan segera membuat ladang jagung berhektar-hektar dan segera membuat program variasi jagung dengan warna cerah lainnya, mungkin merah atau ungu warna kesukaanku. oh Demeter, jangan rindukan aku, karena negeri neraka disini tidak begitu neraka seperti pikirmu , Demeter.
    Tongkat itu dianggap mati oleh makhluk-makhluk disini. Tongkat-tongkat itu seperti budak yang bisa dipakai kapan saja, mengubah dunia menjadi kemauan oleh "aku" yang tertempel dalam tubuh "aku" di negeri ini. Mereka menyebutnya neraka, aku menyebutnya rumah dengan kelebihan luar biasa dengan nyinyir di kepala .Ketika memasuki dunia hades, kau tidak akan pernah berpikiran bahwa ini neraka, dunia hades adalah dunia keakuan yang luar biasa, jika kau masuk kedalamnya, seperti kau masuk dalam tubuhmu, mengalir darahmu , resap tulang, dunia tubuh itu.Tak heran jika kamu mengulang berbagai peristiwa , kau akan menghampiri semacam perputaran memori dan serangan yang cukup hebat di kepala. Tetapi satu hal, aku suka dengan tempat ini, aku jadi teringat Demeter akan mimpinya tentang ladang jagung dan gandum, berjejalan kenangan, membuat derap langkah dan sesuai yang berhamburan kata, kau tidak akan melawan apa yang disebut sakit. Sakit itu sakit. Aku cocok dengan tempat ini, jadi ketika orang-orang menyebut negeri hades adalah neraka, mereka hanya diawang-awang, mengawang, karena awam belum pernah masuk kesini sebenarnya. Aku tahu Demeter resah, menungguku pulang, aku disini , merasakan negeri yang meraka katakan tentang neraka. Oh mereka diawang-awang.



    Persephone terpejam menengok dunia bawahnya, kelap kelipnya akan wajah Demeter, daqri Cronus dan Rhea.

    Solo, 11 September 2009

    10.9.09

    Persephone : matahari

    Demeter memuncak, melihat jari jari kaki yang tegang , akan berlari kemana? Demeter seperti mengungkapkan sebuah kabar kemarahan.Lunglai namanya, tubuhnya tak bisa mengenal titik rahasia yang membuat wajahnya simpul. Demeter , wajahnya merah. Dia berteriak keras, menyebut nama persephone berkali-kali.Dia hanya ingin mengungkapakan berkas sampah yang mengendap dalam pikiran, mungkin semacam gambaran jalan-jalan sore dengan persephone, teh hangat di meja coklat persephone, buku harian coklat yang tergeletak di rumput kuning, terinjak-injak kakinya sendiri. Demeter di ruang besar, langit menertawakan dengan warna ungu sore .Demeter mencari-cari bayangan sendiri, bayangan lari diculik menuju ke perapian rumah. Kakinya seperti berkata, Persephone aku ingin menginjak hitam bayang tubuhmu. Persephone kau dimana ?

    UNGU (Persephone)

    Dunia bawah aku menyebutnya, menjadi semacam taman bermainku. aku suka sekali membuat sirup buah anggur. Aku hanya ingin mengingatkan, aku suka sekali membuat sirup buah anggur, yang warnanya ungu. Ketika aku duduk diam di sudut dunia bawahnya. aku memejamkan mata, pikiranku bertemu dengan kawan-kawan dari negeri buah semacam apel merah, wortel orange merekah, lobak, lemon, pisang, cherry dan semacam kawan lainnya. Mereka berlarian , menyukai taman bermainnya. berlarian bersama kawan-kawan. Aku mulai kebingungan, bagaimana menyadari gerak teman-teman ketika terpejam? wortel, apel, lobak, pisang, lemon , cherry berlarian kencang dalam pikiran. Bagaimana aku menyadarinya ? Teman-teman berputar, ketika aku gusar. Aku duduk diam, mata terpejam, teman-teman dalam negeri buah pikiran berlarian kencang hebat. Aku mengamati saja, begitu adanya. Biarkan kencang, biarkan sesak, sadari begitu adanya. Oh itu apel, itu wortel, itu lemon, itu lobak, itu dia. kacau, ricau itu adanya. Lingkaran berwarna ungu semakin mendekat, lekat di tengah kedua belah mataku. Menghembuskan napas, membuka mata pelan, aku ingin sekali ke taman belakang membuat sirup buah anggur, yang berwarna ungu. Lingkaran ungu itu pelan-pelan menyelemuti tubuhku, apakah ini ?
    Tubuhku menjadi ungu bersinar, ah di atas sana helios, dewa matahari sedang panen. Ini bukan pesta kejutan, yang benar kilaunya menjadikan tubuhku menjadi semakin panas. Apakah ini yang dimaksud dengan perbincangan dengan helios?
    Tetapi mataku. tak sanggup menjangkau, sinar itu mengacaukan, sinar itu tiba-tiba seperti menyerang tubuhku , gumpalan gumpalan terbang dari langit menyerangku. Aku tak bisa bergerak, gumpalan itu menali mati tubuh ungu. Beberapa ricauan datang, mataku lemah, aku seperti menangkap hades dalam gumpalan itu. Mungkinkah helios bekerjasama dengan hades untuk menghancurkanku ?

    Solo, 10 september 2009

    Persephone : hijau


    Lalu meradang menjadi cairan yang aku telan dengan sejuta asa, aku mandi berkali kali dengan bayangan beberapa orang dikepala, leher mengangguk, aku tak tahu, apa itu. Apakah ini semacam perbincangan bawah sadar dengan yang lain atau makhluk yang kiranya benar benar disekitar, aku meraung sejadi-jadinya dengan warna merah yang cukup megah, satu cangkir yang tak tahu entah di malam dan gelisah duduk dibumi yang kurang binar. Dia adalah sejuta asa dan tak tahu menahu, aku malu, aku malu dengan tubuh yang tak asli lagi. Disentuh dengan bahasa dan aku begitu racau.
    Dia adalah sepasang mata yang mati aku tak tahu berapa harga mati itu. Itu cairan merah masuk dalam tubuhku mataku sayu, aku melagu tak tahu alur. Siapa yang memasukan dalam tubuhku. Aku begitu malu.
    Oh gelap tak ada yang tak karap, dia makan, dia malam yang lalai dan dungu. dia dan dia selalu berada dalam pikiran tentang tokoh yang berakting .lamaran-lamaran yang dikrim berkali kali tak pernah tersampaikan, apakah kau putus asa ? atau bosan mengumbar ?semacam curhat dibilang kelu, duduk duduk di payah hari, aku nona, katanya dan dua dua melulu tak tahu begitu lagu, aku kemudian menjadi semacam beberapa yang tak hambar aku tahu itu
    Lalu aku berbicara apa, aku saja begitu ricau, kau tahu perbincanganku, atau jangan jangan memang aku mendua dalam bahasa, dalam duniaku dalam keluku, aku tak tahu menahu.siapa kamu? Lagu? Atau sebanyak itukah para burung akan memangsa kulit di dalam kesal dan aku tak akan berkata bahwa aku adalah pikiran itu. Aku pikiran itu. Di dalam itu ada tertawa, ada cairan merah ada karap, ada lalai, ada kaya, ada semacam pesan pesan yang tak tersampaikan,aku bangun dengan burung burung yang begitu peluh . Dan malam perjanjian yang tak pernah datang. Atau aku putus asa menunggu yang belum datang
    Siapa gerangan itu? Aku kemudian duduk di bawah temaram, sudut ruang yang tak akan dilahap. Aku kembali berjalan menyusuri jalan dengan gaun hijau kesayangan, menyala rokok di hisap mulut hitam. Masam, kerap aku berjalan melihat perempuan yang hanyut dengan rajutan, sore itu dunia dunia..

    Solo, 9 september 2009

    6.9.09

    Lonceng api pagi

    Sudah sebulan, aku perempuan gaun merah melilit tubuhku, mata itu mencari cari kemana mana tubuhmu. Lalu kita kembali melewati jalan yang tidak begitu tua, aku berbicara tentang warna di jalan. Lonceng itu berkali kali bunyi, aku masuk duduk di kursi panjang, menatap maria dan entah berbicara apa. Karena kata kata hanya berhamburan di kepala, aku tidak mau berkonsentrasi , membiarkannya. Hai maria, aku tidak membaca kitabmu. Tetapi ketika aku mendengar lonceng itu berbunyi berkali-kali, kakiku ini mulai beranjak , masuk, duduk di kursi ini.Hai , maria, apakah kau tahu aku ?
    Dunia, aku menyulut rokok murahan, walaupun aku tahu dadaku remuk, aku menikmatinya. Asapnya membuka mantra mantra pagi, aku duduk di kursi panjang ini, menatapmu maria, entah kata apa yang harus aku keluarkan. Gaun merahku ini sudah sebulan aku kenakan, aku suka, seperti tubuhku terlilit darahku sendiri.
    Aku berjalan pelan, menyulut api lagi, menghisap, terbang berkali kali, mati. Aku berjalan menuju menara, indah ketika aku melihat dari kejauhan tubuhku. Pagi ini , wajah maria, seperti menuntun tubuhku menyapa menara itu. Aku menaiki tangga, asap tersedak, menjebak aku dalam gelap. Tangga tangga itu seperti bercerita, hai aku berada di labirin yang benang-benangnya bisa aku putus sendiri, kemudian aku tali kemudian aku putus kemudian aku tali mati. Tangga tangga yang tak lagi kuat . entah sudah berapa tanjakan yang aku lalui. aku hanya tertarik menempelkan jari di dekat tembok, kemudian merasakan risihnya sampai dadaku. Tali yang panjang itu, aku menariknya berkali kali.Suara yang muncul membuat telingaku bergumam tentang yang begitu lunglai, kemudian wajah wajah lampau asyik sekali berdatangan, aku suka sekali membunyikan lonceng itu, berkali kali, menyulut api, asap asap berkeliaran terbang, berkali kali kubunyikan lonceng, api aku sulut, asap terbang lalu mati.dada oh dada, aku tidak tahu lagi apa kitab suciku, aku meutuskan untuk tidak mempunyai kitab suci, aku lalu. Kemudian menari , menyulut api, telanjang kaki, lonceng berkali kali bunyi. aku tidak sembunyi.

    Solo, 6 September 2009

    4.9.09

    TRia Nin: happy full moon : pikiran dadu. Seperti menerjemahkan tentang kapilawastu, kelahiran, mangkat, lumbini, purnama sidhi dan entah

    Di depan rumah,mudra, asana, pranayama pelan pelan mengalir udara dalam tubuhku. Di depanku Anjing hitam cindy lagi tidur tidak mau diganggu. Aku , mas bayu dan bapak topo di depan rumah di atas lantai batik tua. Tangan ini, kaki ini, dada ini, mata ini, napas ini udara mengalir dari hidung. Resah yang tertahan, resah yang tertahan memuncak menari bersama.
    Lalu aku duduk terbenam bergumam pelan, aku resah. Itu yang aku ketahui dalam tubuhku , aku begitu resah. Dan beberapa hari ini adalah semacam pengenalan tentang kemarau. Benarkah ternyata kabar kabar yang dijual di kertas kertas berharga lebih dari seribu itu adalah resah. Mengaduh adalah peluh, dan ketika itu hadir dalam lusuh. Ketika itu aku tak tahu. Apa yang terjadi disana. Bulan mengeram menjadi semacam pasta yang tak lagi putih, karena disimpan tersembunyi entah waktunya . Aku tak bisa mengukurnya.
    Aku bukan pengukur, mistar itu juga tidak bisa aku gunakan untuk mengukur jarak dariku menujumu. Aku berulangkali melihatmu dan mengabarkan purnamamu ke tubuhku, asana, mudra, pranayama. purnama oh purnama. purnama oh purnama.
    Lalu aku menuju dhamma sundara, dalam perjalanan aku tahu kau melingkarkan titik titik cahaya ke tubuhku. Aroma jalanan masakan timur yang menusuk hidung, risau motor, resah mobil, lalu lalang cepat-cepatan mendahuluiku. Aku terus saja melaju. Aku melaju , pikiran dadu. Aku melaju, pikiran dadu. Pintu coklat itu menyambutku, aku masuk kedalamnya, meditasi, pikiran dadu, pikiran dadu. Itu adalah pikiran dadu. Ini adalah pikiran dadu. Melesat cepat. Melesat hebat. Pikiran dadu oh Ini pikiran dadu. Seperti menerjemahkan tentang kapilawastu, kelahiran, mangkat, lumbini, purnama sidhi dan entah ricau yang banyak. pikiran dadu. Lonceng berbunyi, aku menggosokkan tanganku yang panas, ternyata aku sudah satu jam disini, aku menyapamu : purnama oh purnama , Happy full moon !

    30.8.09

    Ibu berkata, aku harus menguburnya ke dalam tanah, seperti orang mati.

    Aku diantara kain yang bergelimpangan di dahan, aku kembali tersedak dengan berbagai pikiran, kau tahu rasanya sangat menyesak. dada dada da da panas. kembali menuangkan semacam duka yang tak tahu entah kemana. aku mencuci darah di tangan dari mulutku, aku malu dengan tubuhku, aku begitu layu. aku tidak berbincang tentang dendam, aku berbincang tentang kegilaan yang menyeretku untuk kembali untuk kembali disni. Durga menarikku menawarkan semacam tablet anti lara, katanya. buram buram rayu merajah tubuh, Duka tubuhku ditato semacam mantra mantra yang aku rindukan semasa kecilku. Aku meludah, darahku entah tak bernilai . aku malu dengan tubuhku, Kemudian aku hanya berdiri di dekat kaca, melihat mukaku pun malu.


    BUDHA

    Begitu aku menarik ke dalam, aku semakin tahu pikiran berkelibat hebat, dalam dan kemudian menyeretku seperti aliran sungai yang aku sendiri tak tahu namaku, ketika aku berucap, ketika aku tahu itu kosong, ternyata itu pikiran. Bayang yang takut di dekat toilet memaksaku untuk sekedar mencuri curi wajah di cermin yang aku malu. darah mengalir ke wastafel kemudian mengalir ke selokan kemudian mengalir ke sungai sungai, pikiran pikiran berkelebat, ketika kau tahu itu kosong. oh ternyata itu hanya pikiran. Buddha menyampaikan salamku di tepi sungai di samping rumah.

    MENSTRUASI

    Merah namanya aku bertengkar dengan ibuku mengenai pembalut yang cocok untukku, aku kemudian menggeliat menjadi semacam serigala di supermarket, menjadi seorang egois memilih pembalut dengan merek tertentu memasukkan dalam keranjang belanja ibu. Ibu menggerutu, gigi giginya seperti mengetuk ngetuk hatiku, risih aku mendengarnya. Aku pulang dengan pembalut kesukaanku, setelah itu perdebatan dimulai tentang bagaimanakah harus melenyapkan pembalut merah di menstruasi bulan pertamaku. Ibu berkata, aku harus menguburnya kedalam tanah, seperti orang mati.


    HAMIL

    Di ruang kelas berjumlah sekitar 40 siswa , itu yang aku ingat. Guru agama mulutnya berjejalan mengenai lelaki dan perempuan kemudian bahagia kemudian melingkar kemudian seperti ada semacam tangisan kebahagiaan berbentuk makhluk bayi. Mataku bola bola didepanku berwarna warna seperti kuning, merah, hijau dan sekawannya. Aku menjadi sekitar gadis 5 tahun,aku mengikuti ibuku menuju rumah tetangga yang melahirkan. ibu tidak mengetahuinya, aku diam diam dibelakangnya, aku tersedak, menangis sekencangnya, melihat darah berceceran dimana-mana. Ibu kaget, langsung menggendongku membawa pulang kerumah. Setelah itu tetanggaku sibuk menyiapkan upacara pemakaman untuk bayi yang entah aku tak tahu namanya. Akumerah, tersedak , pikiranku berbentuk merah lari ke aliran air toilet, aku pingsan di toilet dengan perut yang perih .

    YESUS

    aku mengerjakan soal soal di LKS ketika aku bersekolah dasar, tiba tiba perutku perih, aku lari ke toilet. aku bilang ke ibu kalau aku bertemu kakek berambut panjang dan meninju perutku. Aku bilang ke ibu , dia yang menyebabkan perutku perih dan mataku merah. Ibu bilang aku mengada-ada. sejak hari itu aku sering bermimpi seperti bertemu kakek kakek berambut panjang dari entah, seperti aku bertemu dengan soal-soal LKS yang menguraikan nama bernama YESUS.


    TOMAT

    Tomat di kebun belakang sekolah dasar, aku benci dengan seoarang kakak kelas yang menghina seorang teman semejaku. Aku lari ke belakang kebun sekolah, aku mengambil 3 tomat merah, dan melemparkan ke baju putih seorang kakak kelas yang membenci teman sebangku. Dia lelaki yang menangis keras.Ketika cawu 3, guru agama memberi nilai 6 untuk raportku.



    Aku memulainya dari kaca, aku membuka kran , membersihkan darah di tangan dari mulutku, aku malu dengan tubuhku. buram.


    Solo, 30 agustus 2009

    22.8.09

    magdalena, supermarket, katedral


















    Magdalena bercermin,bersolek dengan gincu

    ..ia hendak bersantap malam dgn Yesus,berkencan dan beradu mesra..

    Ia menatap poster Yoko Ono bertelanjang dada
    yang terpaku di dinding kamarnya
    bertuliskan: FREEDOM!

    Magdalena Magdalena
    menanti pembebasan, berharap tak dilacurkan

    Magdalena Magdalena
    berharap menjadi Ono
    dan Yesus adalah Lennon..

    Malam lebam, pesta ria penuh gincu dan madu
    di kamar hotel kelas melati

    Magdalena merintih. . .menggapai surga. . .mengharap pembebasan

    Magdalena bergincu terpaku
    semua menjadi semu
    Lennon tertembak,dan Yesus disalibkan dalam supermarket

    Terdiam,sunyi,
    Poster,OnO,freedom
    Memori yang terkuak. . .

    Magdalena membisu. . . .
    (matanya melirik pada sang Buddha..)

    ..melati yang dituju
    ..kali ini tanpa rintihan

    Magdalena menjadi cermin, lapis lapis gincu resap
    ..Magdalena adalah poster poster di kota
    Magdalena adalah pagi, masup dalam kotak jeruji
    Magdalena mengenggam
    Mengalungkan rosario , senyum sidharta

    Magdalena dan yesus jalan jalan ke supermarket
    Berhenti sunyi di dekat daging merah

    magdalena merekah
    cawannya tertumpah

    bukan nirvana yg dituju
    bukan di sana
    ataupun di sini. . .

    magdalena berdarah
    semerah gincu
    berbalut candu

    darah orang terbuang,doakanlah kami
    darah orang - orang jalang,doakanlah kami
    darah para pelacur,doakanlah kami
    darah para budak,doakanlah kami
    darah para pemabuk,doakanlah kami

    seperti ada tertulis: 'Tidak ada yg benar, seorangpun tidak'

    "aku" menjadi kitab "aku" menjadi kitab
    entah suci ataupun tidak
    "aku" tersusun dari abjad abjad


    Magdalena, menyentuh lembut poster di dekat kasir supermarket : "bukan benar, bukan salah".

    Solo, 22 agustus 2009
    gabriel achille ratti & Tria Nin

    MANIPULASI

    Diawali dari gemericik sebuah ruang aroma pasta gigi mint , sabun wangi pepermint, menginjak mani sendiri, gemericik dan mint berbaur dalam sebuah ruang .Dan satu cermin di hadapan tidak menjelaskan apa-apa.Kecuali gambaran gambaran tentang geliatnya manusia di bulan pertama , isyarat tubuh tubuh manusia di malam muda, dan rekatan rekatang untuk menambal wajah.
    sosok itu menggelembung dalam cermin yang kecil dalam aroma mint sebuah ruang tentang dingin. apakah manusia benar benar memerlukan kehangatan ?


    tidak.
    yang diperlukan manusia adalah komputer berkapasitas besar untuk menampung koleksi film porno, pulsa untuk berkomunikasi, sendal jepit untuk buang air di WC, celana dalam untuk menjaga agar alat kelamin tidak lecet, koneksi internet untuk membuka Facebook di kantor, kalkulator untuk mengkalkulasi pemotongan gaji karyawan, obeng kembang untuk membobol komputer baru di sebelah meja HRD dan seperangkat Blackberry agar selalu terlihat trendy. Tapi kenapa manusia seolah-olah membutuhkan Blackberry untuk dapat memenuhi syarat sebagai mahluk yang modern? Bukankah Nabi Adam AS dalam tetap hidup hingga ratusan tahun bermodalkan air, unta dan kurma?


    Bukankah Nabi Adam AS dalam (yang benar itu dapat, maaf) tetap hidup hingga ratusan tahun bermodalkan air, unta dan kurma?


    Pikiran pikiran berpesta dari tahun ke tahun. Mengintip tindak tanduk umat yang ada di dunia. Mulai melakukan habitat habitat megah, modern, lucu. Oh makhluk yang begitu rindu. Rindu akan titik senyum. Pikiran pikiran berpesta. Menciptakan titik titik senyum di handphone, titik senyum di TV, titik senyum di kondom, titik senyum di blackberry. Kau tahu ? titik titik senyum itu adalah jeratan membuat terlupa kesadaran sederhana makhluk.

    Saya teringat tetangga saya, bernama Michael adam, dia begitu bangga dengan titik titik senyum di mobilnya, di sepatunya, di kacamatanya, dan diantara ribuan titik titik senyum yang merekat dlam bangunan mewah rumahnya.

    Michael Adam adalam cucu dari Nabi Adam AS.Cucu seper tak terbatasnya. Michael adam ternyata mengembangkan titik titiksenyum yang melekat dalam air, unta, kurma . Menjadi beranak pinak.pikiran pikiran semakin berpesta. Membentuk titik titik senyum dalam materi materi kerinduan.

    sekarang titik-titik tersebut membuyar ke jagad raya dan dilebur oleh semesta. meleleh dari gletzer-gletzer di Kutub Utara dan mengalir ke sungai-sungai di kolom urat bumi. berlayar bersama sepasang nelayan di laut lepas, menguap dibawah kuasa terik sinar matahari, menggumpal diantara peluk awan dan akhirnya jatuh lepas ke bumi.

    membasahi rumput-rumput termahal di dunia yang terawat rapi di stadion Old Trafford, Manchester. menetes dari atap restoran Hergetova Cihelna di Praha. mengalir di pucuk kanopi CBGB yang kini sudah diambil alih oleh John Varvatos, serta menggenang dan menjadi kubangan kecil di depan cafe sepanjang Champs de Ellyses.

    semua seakan-akan tidak menjadi apa-apa, tapi mereka lupa.

    Christopher Adam sudah berkelana ke sepertiga bagian dunia, tapi dia tidak menemukan apa-apa. dia hanya menemukan udara dingin di Swiss, curah hujan yang tinggi di daratan Inggris Raya, hingga pekik gemuruh suporter Boca Juniors di Argentina. Christopher merasa tidak menemukan apa-apa. tapi dia lupa.

    bahwa masih ada makna yang terselip di antara deretan kursi penonton di Old Trafford, di sela-sela display summer editionnya John Varvatos dan di baris-baris menu yang ditawarkan cafe-cafe di depan Arc de Triomphe.

    makna yang tersembunyi.




    dan Christopher Adam adalah anak bungsu dari Michael Adam


    Solo, akhir april menuju mei 2009, firman prasetyo & Tria Nin

    Tentang borges

    Borges mengajakku ke kebun belakang, mengembalikan empat kotak yang sebelumnya hilang. Aku dan borges berciuman di kursi santai kebun belakang rumah. Cukup lama, kami berdekatan memperbincangkan tentang empat kotak . Kotak pertama adalah tentang mata yang kilau. Kotak kedua tentang mudra, rahasia sepuluh jari ditubuh.Kotak ketiga tentang dada. Dan kotak keempat adalah bahu. Aku membacakan 86 puisi untuknya. Aku di dekatnya, membacakan di dekat wajahnya. Aku mencuri udaranya. Aku membacakan 86 puisi tentang jalan-jalan, tubuh, tangan, permen, dan pemakaman.









    Borges di dekatku, memelukku, membacakan kitab suci tentang magdalena. Dan aku tertidur di bahunya.

    Halo BENTANG, aku DATANG

    hai bentang, aku di depan pintumu .







    knock, knock, knock,knock







    (Kemudian kau menggenggam tanganku erat, memperbincangkan borges di kebun belakang )

    Selamat bulan berbelanja.

    Etalase: surga kue kue manis, surga coklat , surga kurma, surga susu, surga mentega, surga keju, surga daging, surga tempe, surga tahu, surga mayur, surga suplemen, surga gaun gaun warna warni, surga sepatu kilau, surga tunjuk menunjuk, surga kalap, surga kalap, surga kalap, makan enak, bau wangi, surga etalase entah .








    Selamat bulan berbelanja :)

    Putar dadumu, ganti agamamu !

    dadu dadu melayang diudara














    (oh angka, oh angka, oh angka )




    20.8.09

    Batu bata merah

    Berita itu kembali meninggalkan batu bata merah yang terlapis di depan rumah, aku mulai mematung lagi,tak ada tentang tahan menahan , batu bata dengan merah yang segar, aku mengepal. Aku tahu aku selalu berdansa dengan remah remah merah . Si batu bata merah, tidak terlapis , namun begitu dalam. Semua serapah masuk melesap dalam batu bata. Aku merayu dalam batu bata, aku masuk waktu masuk dalam batu bata.

    Pesta sabun

    Oh apa yang kau tahu tentang sabun ? sabun bertumpukan di supermarket yang berbicara tentang kulit etalase , aku bisa saja memilih rasa bengkoang, tea, papaya, apel dan semacam aroma menyengat. Aku bingung memilih beribu ribu sabun di tumpukan, Sabun sabun wangi yang menjajakan tentang wajah putih, kuning, merah, hijau atau bisa saja disebut pelangi. Kemudian yang dititipkan ibuku adalah sabun yang wangi dan tidak mewah.
    Sabun oh sabun, dia melayang ke udara, menyerang tenggorokan , saluran penciumanku yang kerontang. Dalam hembusan tak berwarna. Apa itu sabun wangi ? wangi apa ? benarkah itu sabun ? jangan jangan itu bukan sabun?
    Tanganku mulai menjelajah di area sabun yang tak beralamat, pikiranku berloncat hebat, ada sabun yang geram , ada sabun yang genit, ada sabun lucu, ada sabun yang haus, ada sabun yang warnanya tidak original. Itu hanya dalam pikiran. Aku tak tahu lagi harus memberi label apa. pikiranku menangkap itu saja. Aku teringat ibu yang membawa sabun, membuka kertasnya , menaruhnya dalam wadah kecil dalam kamar mandi rumah. Dia selalu bilang. Ini bukan sabun mewah, tapi dari dulu eyang selalu memakai ini. Oh aku mengangguk saja. aku menciumnya, tidak begitu wangi.
    Aku seperti masuk dalam bak kamar mandiku, aku masuk bersama ibuku, aku masuk ke supermarket, aku memasuki lorong sabun, diatas sabun itu ada warna warna yang berbeda sekali dengan warna bungkusnya. Aku menguap melihat sabun terbungkus merah, tetapai aku melihat residu biru di atasnya. Wanginya menyengat. Aku semakin menyelam, ke lorong sabun, aku menemui sabun berwarna hijau tua bungkusnya, aku melihat itu bukan hijau tua tetapi hitam, sangat wangi. Aku terus berjalan memasuki lorong lorong sabun, bertemud engan sesosok pembeli lainnya dengan gaun yang berbeda. Aku seperti masuk dalam pesta sabun.Pesta sabun dimulai, aku semakin masuk dalam bak air, aku melihat ibu dari belakang, aku mengikuti ibu, aku tidak melihat punggungnya, aku melihat sepatu putih ibu di lorong supermarket di dalam bak kamar mandi.
    Aku berhenti di sudut sabun berwarna ungu gelap, balon balon kecil menabrak mukaku, aku kerontang, aku kerontang, warna merah mengalir deras dari hidungku. aku keluar dari bak mandiku.

    Solo, 13 agustus 2009

    bermacam-macam

    Setelah satu, aku kembali menuliskannya ditemani lagu yang sangat biasa tentang aku milikmu. aku tertawa. Terbahak tentunya. Dan kemudian ada nada nada semacam dadidu, aku begitu cemburu dengan alunan itu. Itu adalah kemalasan yang bisa saja dibuat oleh pikiranku.
    Persepsi murni tentang apapun , bekerja secepat kilat, hingga aku bisa saja menamai tentang mawar dalam secepat kilat, aku bisa tahu tentang kursi dalam secepat kilat, aku bisa tahu tentang gaun dalam secepat kilat.Oh kesadaran, aku merunut..itu membutuhkan proses yang cukup lama sebenarnya ketika aku benar benar sadar bahwa itu mawar, kursi, gaun dan semacam yang aku bisa lihat di depan mata.
    Oh itu tulisan reuni yang tertulis di tembok, oh itu tulisan dipapan tulisan, oh itu abjad abjad di buku cultural studies. Itu text. itu text.Beberapa dari aku mulai mengalami semacam persepsi murni, menamai, tidak atau iya, dan kemudian muncullah perasaaan perasaan bermacam-macam.

    Aku menulis ini, sebelum 5

    Sebelum lima, menjadi benci dan tak ada yang tahu tentang kunci. Aku mengayunkan kunci, di bekam dengan warna merah. Aku menyimpan kunci itu di balik bata merah, dekat rumah tua. Kemudian aku sendiri yang melaporkan cuaca ke tuhanku sendiri. Aku tau kau mencaci , jadi aku tau dalam kesadaran penuh kau memaki. KAU TAHU ? KESADARAN PENUH.
    Kemudian, diam diam kau mulai menghilang, tetapi lihat di bawah sepatumu itu bau, karena aku tahu kau baru saja menginjak sisa sisa muntahanku tadi malam. Aku dalam kesadaran penuh. aku tahu itu.
    Tentang apa saja yang bernama tidak, aku sadar itu TIDAK. jadi ya jangan ditolak, selami TIDAK itu. Dalam kesadaran penuh tentunya. kenapa musti dibolak balik ? seolah-olah kau adalah profesional yang bisa mengerti tentang apapun.







    KAU PINGSAN.

    (omonganmu itu hanya kegelisahan, segera sadar ya )

    14.8.09

    PIKNIK ( simbol berbicara, oh semesta, di jalan, di pohon, di kayu, di roti, di kulit jeruk, di siang seduh, teduh)










    Hai, kami,
    pulang,
    jalan-jalan,
    melayang,
    dududu,
    menyanyi,
    dinding,
    pasangan,
    sepatu,
    putih,
    biru,
    hijau,
    hitam
    abu
    tulang,
    dalang,
    dunia,
    aksara,
    simbol berbicara,
    oh semesta,
    di jalan,
    di pohon,
    di kayu,
    di roti,
    di kulit jeruk,
    ditubuh apel
    di siang seduh,
    teduh,
    duduk,
    aku,
    lelakiku,
    kain biru,
    begitu,
    syahdu,
    lagu,
    sirup,
    dahaga,
    daun daun kering bisik bisik,
    hai,
    kami mendengar, kami berpegangan tangan.