23.2.08

Kamus Merah

Senin malam itu tertanggal 11 February 2008. Saya membaca tulisan paman bollie tentang kerinduan di masa kecil dan buku. Paman Bollie bercerita sudah lama tak membeli buku, dan ketika dia tergiur membeli catatan harian Pidi Baiq, melayanglah dia ke masa-masa lampaunya .

Malam itu saya teringat kenangan masa kecil saya, Mengembang senyum ketika Bapa membawa beberapa buku dan majalah Bobo ato Cepi. Kadang Ia juga meminjamkan beberapa buku dari perpustakaan tempat kerjanya. Dari buku bercocok tanam di pot sampai buku buku sejarah. Tetapi, ketika saya menginjak masa SMP, SMA sampai sekarang, Bapa atau bu jarang membelikan buku lagi. Saya harus menabung dahulu untuk membeli buku bacaan yang saya inginkan. Dulu untuk mendapatkan komik dan buku-buku kesayangan, saya harus menunggu beberapa bulan. Menunggu uang terkumpul. Sebelum uang tekumpul , satu kegiatan yang saya lakukan adalah menyembunyikan buku yang saya inginkan di bagian tersembunyi di toko buku itu. Setelah uang terkumpul, saya kembali ke toko buku tersebut untuk membelinya. Pernah juga bingung, karena buku yang saya sembunyikan di sudut tertentu tidak ada, padahal waktu itu sudah disembunyikan di tempat paling aman.

Senin malam itu, 11 Februari 2008, saya memberikan komentar di tulisan paman bollie di blognya. Di postingan paman Bollie, saya menulis kerinduan saya ketika Bapa atau Ibu membelikan buku untuk saya.

Dunia sora semakin kelam, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Seperti biasa, sampai rumah saya langsung ke kamar. Tetapi ada yang beda di atas meja kamar saya, warna merah cerah itu menghantam mata saya. Kamus Besar Bahasa Indonesia setebal 1381 halaman berwarna merah cerah berisi definisi kata-kata dari A-Z, aksara daerah, aksara asing, lambang astronomi, lambang astrologi dan lain sebagainya.

Malam itu bapa berkata, " kamus itu untuk ria, jangan hanya disimpen, tapi dibaca".

Sungguh berpelangi, terima kasih Bapa :)

1 comment:

Dony Alfan said...

Beruntunglah mereka yang bisa dan gemar membaca sedari kecil. Aku sendiri baru bisa baca kelas 6 SD, SMP kelas 1 cuman plegak pleguk, ndolo bodo, kerep seneni bapak lan ibu guru.
Syalala trilii