Rabu, 04 November 2009

Perjanjian pensil

Menyukai pensil untuk menulis di kertas yang kadang tidak putih, kertas bekas nota belanja, kertas kertas yang tercecer di sampah dapur ibuku, aku ambil aku coret dengan pensil kesukaanku. Pensil berwarna coklat, tidak runcing dan tidak ada motif apapun. Pensil itu suka sekali meminta senyuman dari orang-orang baru yang aku temui, kalau tidak dia akan mengutuk aku menjadi bola bola yang memutar di atas genting, melapisi rumah, tak bisa kembali ke peradaban pensil yang ia ciptakan dalam pesta lembayung tahun lalu. Jadi pesta itu semacam aku memojok diruang seperti gudang dirumah, aku kumpulkan kertas kertas tercecer , aku membuat perjanjian dengan pensil itu. Jika aku tak menuliskannya, aku akan menjadi bola bola kecil memutar seperti ketika aku sedang pening.
Kemudian lambat laun aku mulai membuat perjanjian dengan pensil, ketika aku mengenal wajah rusa di kebun rusa mati dekat kampungku, aku mulai mengambil kertas dan akumenulis beberapa kata untuk rusa itu, aku membuat perjanjian terbatas dengan rusa, pensil dan kertas.Aku pulang meletakkannya dirumah, beberapa tahun kemudian aku tak tahu dimana gambar-gambar itu, aku dipanggil rusa dimalam hari. Seperti diketuk ketuk kulitku. Jadi aku berbincang dengan saudara perempuan tentang rusa sebelum menghadiri pernikahan seorang temannya di ruang gereja, aku mencarinya diruang itu. Aku putus asa, sempat patah dengan janji pensil, kertas dan rusa, aku patah. Begitu saja.Meninggalkan ruang dengan detak jantung luar biasa, dia menyentuhku, dia muncul dalam liotin kalung ibu berwajah entah. Oh itu, aku tahu perjanjian pensilku tidak terpatahkan sampai sekarang. Aku tidak heran.
Perjanjian pensil yang kedua adalah ketika ayahku mengajakku ke ladang dekat rumah, dia mengenalkanku dengan jagung ketika aku berusia entah, aku belum bersekolah. Aku jatuh cinta dengan jagung. Aku pulang mengambil pensil di saku tas, aku menggambar jagung dikertas bekas nota belanja ibu, aku menaruh dirumah, beberapa tahun kemudian aku lupa entah. Aku terlupa dengan jagung, ketika seorang teman perempuan yang mencintaiku mengirimkan surat , aku lupa kata-kata , seperti aku tak bisa membaca, aku merayap gambar kartun jagung kuning di suratnya, sejak itu aku ingat dengan perjanjian pensil, kertas dan jagung.
Perjanjian pensil yang ketiga adalah dengan angka-angka, ketika sore hari, aku kelas tiga SD, ayahku mengajar matematika, aku menangis, aku tak suka matematika. Ayahku mengambil lidi dan mulai mendongeng tentang lidi cacingan, aku mendengarkan, aku suka dengan cerita itu. Baru aku sadar, dulu ayahku menyisipkan hitungan hitungan angka dalam dongennya. Aku jatuuh cinta dengan angka-angka, sampai sekarang angka-angka menyapaku dimana-mana, seperti menyapa, menguak kenangan lamaku.
Perjanjian pensil ini tersimpan dalam tubuhku, aku menyukai pensil untuk menulis di kertas yang kadang tidak putih, kertas bekas nota belanja, kertas kertas yang tercecer di sampah dapur ibuku, aku ambil aku coret dengan pensil kesukaanku.

Tria Nin, 5 November 2009

Anjingku berpesta di belakang rumah

Aku membasuh mukaku, setelah melaksanakan pertemuan dengan anjing anjing yang lucu di kebun belakang rumah. Riuh kawin menggesek kulit pohon kerontang , remahnya membaur udara sore. Langit tidak selalu biru, aku mencium keluguan bau tubuhmu jauh dari jarak yang ditawarkan oleh tubuhmu. Kopi hitam ditangan, rapal mantra di dada. Aku tertawa merayap sore ini dengan merestui anjing di kebun belakang untuk pesta tubuh .Oh ini tidak ada surat ribet apapun untuk mengesahkan pesta tubuh untuk itu. Aku tersenyum, mengulum kopi hitam, dada oh dada. Dada berjalan dimana-mana.
Hidungku kelayapan, menikmati remah coklat tanah, kulit anjing coklat, cium kopi hitam, cium udara rapal energi yang begitu rayu . Aku melakukannya sendiri. Aku tidak perlu mendekat untuk menciummu, aku terpejam, merapikan restu, merapalkan energi itu. Aku di tubuhmu. Sementara yang lain berjejalan dengan hukum-hukum yang tak tahu rimbanya, bagaimana kalau kita mencipta etika di kebun belakang rumahku ?
Menyaksikan anjing pesta tubuh, menggesek kulitnya di tubuh pohon kuning kerontang, pohon tidak selamanya hijau, sayang. Dia menari, aku berapi dalam genggaman rapal. Aku menyebutnya penyatuan energi.
Kau tertawa, aku tak peduli, aku ambil kitabku sendiri dari lemari coklat usiaku yang membelah dadamu, dalam lingkaran pali. Aku merayumu , tidak perlu mendekatimu, menyentuh kulitmu. Kau tahu ? aku mampu melakukannya sendiri dengan perbincangan dan ciuman udara dada di kebun belakang rumah, di iringi lolongan anjing yang menggertak duniamu.Aku membaca kitabku sendiri, aku menyanyi sendiri, aku merapal sendiri. Aku bisa saja menciptakan konsep lelah atau tidak lelah. Tapi aku tak pernah membutuhkan itu.
Yang aku butuhkan adalah mencium kopi hitam, seperti aku mencolek tubuhmu untuk secangkir bir hitam untuk upacara soreku. Lalu dadaku menggetak riuh, gaun kesayanganku menari sendiri, tubuhku diam, gaunku tak mau layu. Upacara sore dengan diriku siap dimulai di kebun belakang rumah. Seperti aku menyaksikan pesta tubuh anjingku di kebun belakang, aku tidak tahan dengan kenangan yang memuncak. Aku siram kopi tubuhmu, anjing. Kau semakin bergejolak, aku teriak, aku tak bisa bungkam dengan kenangan yang bernomor 8, 11, lalu merapal dugaan untuk rumah.
Aku menoleh ke belakang, hidungku merayap bau kue kering dari dapur ibuku, Aku ingin lari saja dari upacara sore. Hai anjing, lanjutkan pesta tubuhmu, aku akan masuk kamar, kau tau ? aku tak perlu mendekat untuk menciummu.
Tiba-tiba kakiku seperti terikat kuat masuk ke dalam tanah, sedangkan anjing terus saja berpesta demi tubuhnya sendiri, aku mencium kue kering dari dapur ibu, bir hitam tak jauh dari rumah megah, ampas kopi hitam di tangan, bau anyir menstruasi tubuhku, remah coklat yang gurih di hidungku. Aku tak bisa masuk ke kamarku. aku pejam, atas langit semakin gelap, pertanda akan hujan ?
Oh ini yang diinginkan anjingku, pesta akan menjadi seru, dia akan bertemu dengan dewi dewi , merayap sayap-sayap, penciumanku dimulai, pikiran pikiran pesta, anjingku berpesta, tubuh coklat semakin riuh. Aku membasuh mukaku, setelah melaksanakan pertemuan dengan anjing anjing yang lucu di kebun belakang rumah.

Tria Nin, Solo, 5 November 2009

Senin, 02 November 2009

Upacara pemakaman : bunyi

Orang-orang berdatangan di dekat pagar, aku di berdiri tak jauh dari itu, mengenakan gaun merah , dengan kalung kepala rusa, jika aku resah, aku akan menyentuh kepala rusa itu , sentuh saja. Berulang kali. Upacara pemakaman dan gaun merahku, aku berjalan pelan mendekati tembok coklat, dulu ibuku suka menyuapi didekat itu, di suatu sore.
Orang-orang berdatangan, menyalami ibuku, wajah wajah yang ditekuk duduk duduk di kursi menunduk. Orang-orang berdatangan, menyalami ibuku di awal bulan juni kelahiranku.
Aku menarik kepala rusa kedekat jantungku. Aku detak. Melanglang buana dengan dugaan yang lalu lalang di kepala. Pertanyaan yang tak perlu dijawab, datang menyapu angin mukaku. Lalu aku mulai bergandengan tangan, aku belajar mengenai menunduk di acara pemakaman rumahku. Hari itu adalah upacara pemakaman kedua yang aku tahu dirumahku.
Dinding yang mulai basah dengan dugaan, cerita adalah tentang khawatir . menyeruak dinding. Aku turun dengan kepalan , merah gaunku, merah pikirku. Duduk duduk aku tak mau menunduk. Lonceng yang lama menghilang, kembali dibunyikan, diambil dari gudang gelap rumah. Lagu sembilan puluhan diputar diruamh berulangkali, aku jatuh cinta dengan romansa.
Beberapa adalah tentang yang bernama dukungan yang membuat hati ini berbicara banyak. Kau tahu, dimana letaknya hati? aku entah. Aku berjalan mendekati tembok coklat, dimana aibuku suka menyuapi aku ketika kecil. Aku merengek meminta kecap coklat untuk nasi putih diatasnya.
Aku pura-pura suka bayangan, aku tertawa didepan cermin, lugu. aku tahu itu setan. Setan yang berhamburan dalam kalap. Aku menawar dengan ragu berulangkali. Apa yang akan dikatakan hatiku? hati tidak terletak didada, hati terletak menyatu disemuanya. Perbincangan yang berhati-hati adalah palsu, aku mulai tahu tentang luka yang ditorehkan dalam lonceng yang diambil mendadak dari gudang rumah, yang sebelumnya tergeletak entah dalam gelap.


BUNYI

Bunyi itu lalu lalang, menelponku. Berulangkali menanyakan apakah aku siap atau tidak ? aku menyatu kataku. Dua diantaranya adalah aku melaju dengan sadarku.

Solo, 2 November 2009

Selasa, 27 Oktober 2009

menciummu : kue pertama yang kau sisakan untuk aku, kering di meja kamar.

kue pertama yang kau sisakan untuk aku, kering di meja kamar. Aku menciumnya berkali-kali hingga hari bertambah entah. Untuk melahapnya pun , aku resah. Aku tak ingin menghabiskan kesukaanku dalam waktu sedetik lewat, mampir masuk ke perut, bergelayut, mengkerut kemudian larut kedalam tanah. Malam pertama , ketika kau melirik mataku, memberikan sepiring kue berbentuk segitiga, warnanya coklat, aku senang. Aku bilang aku akan segera melahapnya, aku melahapnya dalam pikiran berhari-hari, dan membiarkan mengering di meja kamar, mencium baunya , remahnya, rindunya, seperti aku mencium tanganmu.

Nenek berasa ungu (pertemuan pertama )

aku mengenalmu di vihara, udara lembab, mataku pekat. Kau datang menanyakan kabarku, meggenggam hangat. Sore itu, aku menyapu pekat, bersamau. Undakan keentah aku berbincang mengalir tentang kitab-kitab tersebar didunia yang mulai merayap menjadi dusta, konsep yang meluap seperti sampah. Kau menyentuh dadaku, kau bilang sederhana sekali, rasakan detak jantungmu, nak.itu pertemuan pertama.


Nenek berasa kuning (pertemuan kedua)

aku mencium tanganmu, katanya kau haru. Sudah lama tangan itu kering dan pekat. malam itu hangat. aku tersenyum, entah semacam aku menyerap energi semangat dari cium tanganmu. Aku diam, kau tertawa hening, bercerita tentang masakan-masakan yangs eringkali kau buat, tapi entah tak ada yang merasa, aku bilang, aku mau merasa, kau tertawa girang, kuning benderang dalam pertemuan kedua.


Nenek berasa putih (pertemuan ketiga)

aku suka hari jum'at, itu artinya aku akan menyiapkan diriku untuk bertemu denganmu. Aku pelan-pelan melihatmu, menyiapkan dupa, kau duduk dan berdoa khitmat. entah rapal apa yang kau ucap. Dadaku perih seperti tersayat pisau berkali-kali. aku datang sesenggukan, kau mengusap pelan nadi sebelah kiriku , gejolak remas hingga butir butir putih mengembang membaur ke angkasa.


Nenek berasa aku (pertemuan -pertemuan berulangkali)

Aku mendapat telepon,aku harus datang menemuimu , di dekat jembatan pinggir kota. Kau mengeluarkan bungkusan berwarna kertas abu, katanya aku harus membukanya dirumah. Kau memeluk hangat tubuhku, dadaku basah, mataku lembab. Aku tahu pertanda itu.


kue pertama yang kau sisakan untuk aku, kering di meja kamar. Aku menciumnya berkali-kali hingga hari bertambah entah. Untuk melahapnya pun , aku resah. Aku tak ingin menghabiskan kesukaanku dalam waktu sedetik lewat, mampir masuk ke perut, bergelayut, mengkerut kemudian larut kedalam tanah. Malam pertama , ketika kau melirik mataku, memberikan sepiring kue berbentuk segitiga, warnanya coklat, aku senang. Aku bilang aku akan segera melahapnya, aku melahapnya dalam pikiran berhari-hari, dan membiarkan mengering di meja kamar, mencium baunya , remahnya, rindunya, seperti aku mencium tanganmu.

Solo, 28 oktober 2009

Pada tembok,

Perkembangan macam apa yang kau inginkan, hingga kuku ini menjadi berwarna hitam dalam hitungan sekian detik. aku menatap lukamu yang basah, dari balik jendela. Diluar hujan, aku tahu kau datang bersama peri yang dikirimkan seorang suci dirumah kedua. aku menyebutnya mara.
Apa saja yang kau hendaki jika belantara yang kedua itu adalah semacam warni yang terus saja menginjak. Pura-pura aku tidur, diendapkan, kau cium dahi, berlalu. Ribuan yang berhati adalah jika kau mulai menaikkan pertanyaan basi berulangkali, mengetik ke alamat sama dalam waktu sekian detik, aku mendelik, habis.
Ribuan karma menghambur diudara, aku bertemu anjing yang melonglong, aku gedor pintu, aku ludahi lantai, pukul dua puluh tiga lebih seperempat. Duduk menggigil dengan rokok basah terkena hujan, kunyalakan berulang-ulang. Aku menepi di tembok, mendengar batuk batuk wajah tua di ranjang reot, wajahmu aku memelukmu. Aku tahu, kau mencari ibuku.
Lalu pertengahan malam, aku memulai janji dengan mara, aku mencari peri santa yang katanya selalu menyentuh kedua bahuku. Jadi ada perbincangan dengan rindu, dia beranjak meninggalkan ruangan seperempat kotak, pagi itu, tanah basah setelah hujan, aku mengintipmu. tembok mengais rembesan basah hujan. aku lepas sandal, aku duduk di tanah basah, dinginnya tak terkira. aku mara.

Solo, 28 oktober 2009

Jumat, 23 Oktober 2009

730 hari

Dimulai dari rabu yang berusia satu, aku bertemu dengan sosok kau di depan ruang kursi panjang kayu. coklat. Perbincangan dimulai tentang gambar gambar bisu yang disuarakan oleh rupa yang entah. Matamu beradu di persilangan malam, aku genggam, pamit pulang, teduh. 24 oktober 2007


Perbincangan dengan lelaki, membaur semesta, itu ada jejak jejak, hari itu kau mengajakku ke ruang deretan kursi kursi kayu panjang.coklat. kau berdoa di altar, kau membalikkan badan, menujuku.kau mengenggam tanganku, setelah itu kita berbincang dengan 365 sura warna warni. Kita berjalan, mampir ke laut, aku tak mau pulang. perempuan jatuh cinta pada laut, kita membuat pesan, mengalirkan kertas kertas ke laut, senja itu. 24 oktober 2008


Hari dimulai dengan teriakan tubuh yang limbung, aku duduk di pinggir, dekat taman. aku tutup mata ini.aku membaur. memanggilmu. 24 oktober 2009

Selasa, 20 Oktober 2009

menunggu jam 18 : INGIN CEPAT PULANG.

Menunggu jam 18 segera tiba, karena :

Jam 18.00, jam kerja saya sudah habis, jadi saya akan segera pulang. Menikmati 30 menit perjalanan pulang, kemudian mandi dan memulai hal-hal yang ingin dikerjakan dirumah, merapikan beberapa tumpukan buku yang tercecer di kamar. hari selasa kemarin adalah hari libur nasional untuk saya, biasanya saya ke jogya, tetapi kemarin berbeda, saya diminta ibu untuk membersihkan rumah. Mengeluarkan buku buku dari lemari. Membersihkan debu-debunya. Karena kemaren kecapekan, jadi ada beberapa buku yang masih tercecer di kamar. Entah energi apa ini, saya ingin segera PULANG.

  • kemudian, merapikan buku-buku.


  • Menulis dirumah, saya suka sekali menulis di rumah, ada semacam energi khas yang saya cium dan selalu saya rindukan di ruang bebas rumah.


  • Mendengar lagu tak terduga 70-an dari playlist kaset bapak, bercampur suara cicit burung kebun belakang rumah milik tetangga.


  • Ibu suka sekali membuatkan teh hangat yang disiapkan di meja kamar. Teh hangat ibu melebihi apapun.


  • saya bisa swaiso, yoga dan bermeditasi berjam jam entah jika dirumah.


  • Melupakan pekerjaan yang membosankan.


  • Oh ya, ada satu hal kenapa saya ingin cepat cepat pulang , jadi tadi malam ibu bilang hari ini akan membelikan box yang kuat untuk menyimpan diary-diary saya dari SD sampai sekarang, agar si rayap tidak melahapnya, saya penasaran, boxnya berbentuk seperti apa yah ?



    Ayo tria, selesaikan pekerjaanmu. jika sudah jam 18.00 WIB, cepat pulang yah nak :)