31.3.16

Belum jadi

Kipas anginnnya bunyi terus tadi pagi, kenapa tidak dimatikan saja? Suaranya enak, jadi aku matikan musiknya. Tadi malam aku mimpi menulis, tapi aku lupa ceritanya. Seorang teman mengirim pesan dan menyisipkan lagu kesukaan. Kamu bersembunyi dimana?
Mejanya berantakan, dari kemarin ingin merapikan, tapi tidak jadi. Sudah tiga jam duduk di kursi, ayo beranjak sebentar. Coba lihat jendela, mungkin ada sapi makan rumput, sambil lihat-lihat bangunan rumah yang belum jadi.

Badung, 1 April 2016

Diulang

Diulang terus saja, diulang. Berulang kali lagu yang sama di kepala, meniadakan rindu di jalan buntu. Apa yang ada dikepalaku? Pening dan hening. Enak disini, anginnya tidak terlalu kencang,  jendela dapur tidak pernah ditutup, aku bisa curi pandang keluar. Jangan pulang dulu, disini saja.  Dari tadi, aku mencoba telpon, tapi  tidak ada nada sambung. Diulang terus saja, diulang. Lagu sama berulangkali menyelinap terus ke hati.
Musti diedit dulu ya?  Ya tidak usah, sudah ditulis saja semaumu. Aku kemarin ingin cerita banyak, tapi tidak jadi, karena ketiduran. Kemarin waktu baca buku, aku seperti melihat aku keluar dari tubuhku. Terus ketakutan, aku meringkuk menunggu kamu pulang dari kantor. Ada banyak pertanyaan di kepala.  Sudah ya, aku mau keluar, mungkin udaranya segar.

Badung, 1 April 2016

20.2.15

Serangan

Aku tidak jadi berangkat ke pesta pernikahan teman. Tidak ada alasan khusus, hanya aku tidak ingin berangkat, itu saja. Balkon adalah tempat favorit sore hari. Terbaring sendiri, menonton film pikiran yang berjalan secepat kilat. Kadang, aku takut dengan pikiranku. Mereka berjalan cepat, tak terkontrol dari gambar-gambar bahagia sampai tangis pilu yang tak tertahan. Aku bisa melihat jelas pikiranku, berloncat-loncat membawa banyak pesan. Mengelabuiku, mengajak bermain dan kadang meneror dengan banyak tudingan. Aku tak mau melawannya, aku menontonnya. Tidak, tidak mau berkomentar.

Sudah jam lima lebih sedikit, seorang teman mengajak ke pantai Serangan. Sepanjang perjalanan kami diam. Hijau pohon-pohon di kanan kiri jalan menyeret pikiranku menuju nostalgia. Rasanya? penuh kejutan. Saat mau belok ke Serangan, temanku mengeluarkan suara. Kita akan sampai, sebentar lagi. Aroma laut tercium, tahi sapi berceceran, hari sabtu pantai tidak terlalu ramai. Setelah parkir, kami berjalan mendekat ke bibir pantai. Surut, kami melepas baju memilih untuk berendam di sebelah timur. Airnya hangat, matahari memeluk erat. Aku tidak mau banyak bicara. Langit sore ini tidak terlalu biru, awan-awan bergerak pelan-pelan ke arah barat. Aku mengikutinya sampai memiringkan kepala. Tidak ada apa-apa, tapi aku suka.

Apakah tahun ini berat ?

Iya

Aku meninggalkan temanku, mengambil handuk kecil mengeringkan rambutku. Ayo kita pulang, kataku. Jalan kaki di pasir, sedikit berat tapi harus jalan, supaya bisa segera pulang. Temanku terburu-buru, aku berubah pikiran. Aku meminta waktu untuk balik arah. Aku berjalan memunggungi temanku, menghampiri sapi di dekat rumah bambu, Sapi-sapi itu asyik menunduk, tak ada rumput hanya ranting-ranting kering. Aku mendekat, satu sapi menatapku lekat. Aku berdiri di depannya, pikiranku bergerak cepat,  kudengar suara lenguh sapi dalam sepi menyerang.

24.11.14

Damai

Untuk terjun bisa aku lakukan dengan mudah, langit-langit berbentuk wajah-wajah lama melupakan kenangan. Tubuh gemetar, nyeri yang datang setiap malam, sejarah tak akan hilang pada lembaran-lembaran catatan. Lantai dua, anginnya tidak terlalu kencang, lantai dingin, kering. Pesan-pesan duka berturutan dalam sehari. Tak kuat membuka jendela, korden merah muda bergerak-gerak karena angin kecil. Empat tembok adalah teman meringkuk, nyeri yang kukenal datang.  Sejarah panjang membelah kepalaku. Berjalanlah tegap, rasakan irisannya ditiup angin. Lampu yang padam, nama-nama yang terbaca berjalan pelan dalam pikiran. Aku berhenti  dalam perjalanan riuh kepalaku. Aku mendengar suaramu.

Hafiz Maulana
Talinya harus diikat kuat, tawamu riang di halaman rumah depan. Aku mengambil dua kaleng bekas yang aku jadikan telpon mainan. Kamu tertawa terus sore itu dan sering memanggil namaku. Jangan keseringan, nanti bosan. Kamu tak peduli, kamu senang dan teriak memanggil nama seisi rumah. Kalau tidak ada yang keluar, kamu kesal. Talinya mungkin tidak kuat, jadi tidak bisa menelpon seisi rumah. Kalau kamu sudah kesal, kaleng dibantinglah. Lalu, kamu duduk diam di pojok ruang tamu. Tidak ada yang boleh membuat suara, tv tidak boleh menyala. Rumah kecil ini memang dihuni sekumpulan pendiam yang riuh dengan pikiran-pikiran. Sudah berlalu cerita itu, pintu kamarku setengah terbuka. Ayahku menelpon, membawa berita yang menenggelamkanku pada kota asing, memahami kehilanganmu.

Maria Magdalena Maryati
Sore itu, suara-suara menghabisiku sampai dingin. Terdengar suara pintu gerbang dibuka. Langkah kaki menuju pintu utama. Tiba-tiba dialog di teras keramik merah terhenti. Ketakutan datang melahapku. Tak ada perbincangan, rasa hormat yang teduh untuk ibu yang menyimpan sejarah kerinduan.  Aku bisa saja membawa lari horor di kepalaku, tanpa dialog lagi. Tapi ia selalu menyusup  dalam bayang-bayang yang tak bisa dihentikan. Damai, reda untuk Ibu. 

Namamu aku hirup dalam-dalam, satu tarikan napas, lalu lembut aku hembuskan lagi. Menghamburlah di udara dalam damai kita semua.

Denpasar, 24 November 2014


3.10.14

Hafiz Maulana



Aku menunggu lift terbuka, terlihat  angka 2 di atas pintunya. Perempuan dan lelaki mesra bergandengan tangan di sampingku. Aku menyembunyikan kedua tangan di saku. Lift terbuka, tak ada perbincangan apapun. Pasangan romantis tetap bergandengan tangan, keluar dari lift sebelum giliranku. Selalu berulang seperti lonceng terdengar di telingaku, tapi aku mengabaikan saja. Ada wajah yang kurindukan datang. Suara-suara mesin di lantai dasar kantorku meninju tengkuk. Setiap hari aku mencuri-curi waktu untuk sendiri, mendengarkan lalu lalang pikiranku. Setiap menit, setiap detik kecemasan-kecemasan berdetak. Kemelekatan pikiranku, kebisingan jalan, ingatan hari kemarin, ingatan sebulan lalu, ingatan tahun lalu, ingatan bertahun-tahun lalu terus menerus berjalan. Aku tak melawan, pikiran riuh menjadi aus dengan sendirinya. Lorong panjang kantorku seperti duka. Mesin-mesin yang keras, air mata yang aku tahan, kematian begitu dekat. Setiap menit, setiap detik segala sesuatu aus dengan sendirinya. Tidak, aku tak mau melawannya. 

Aku berhenti tepat di  depan ruang binatu karyawan, hari sudah malam. Hanya satu dua orang lalu lalang. Ada kotak cermin, tergantung baju-baju bersih rapi gantungan baju, satu kotak terisi berantakan baju-baju, mungkin baju kotor. Seorang lelaki paruh baya menyapaku, "Kenapa belum pulang? " 

"Iya, sebentar lagi". Kataku.

Kesendirian tak tercemari, anggap saja pertanyaan tadi seperti alarm. Aku selalu suka dengan binatu,mengenali kesendirianku dalam suara -suara mesin cuci, aroma pengharum dan gemericik air seperti terbaca inilah situasi sekarang, ini bukan pelarian. Batin yang kacau, dengarkan. Aku sudah terbiasa dengan kabar buruk, dalam nyala kesadaran diri sampai terbakar habis. Seperti dua hari yang lalu saat aku mendengar kabar kamu koma di rumah sakit, diam-diam aku takut. Takut, tak bisa menyadari kemelekatanku. Setiap hari aku siap mendengar kabar tentangmu. setiap hari aku rapalkan doa baik untuk kesembuhanmu. Setiap hari aku memelukmu dari jauh. Kuat, kuatlah. 

Hariku yang berantakan, mencoba merapikan hidup menjadi orang normal. Tidak bisa tidur berhari-hari. Sendiri dalam kesedihan berlipat ganda. Hari ini sudah empat hari kamu tidak sadarkan diri. Aku melewati pintu besar, pembatas ruang yang bisa dibuka dengan satu tangan tanpa kode satu pun. Energi kebaikan aku kirimkan dari kabel-kabel listrik kantorku, binatu  yang berantakan, suara mesin-mesin yang mengelabui pikiranku tertiup melalui udara ke arahmu. Doaku untukmu setiap hari, tanpa batas. 

Antasura, 4 Oktober 2014

Nasi goreng

Perempuan itu berhenti di warung nuansa merah. Lalu masuk saja, meletakkan tas di kursi. Dua lembar menu disajikan pramusaji. Membaca beberapa detik, menarik napas, ia tersadar masuk ke tempat yang salah. Berderet-deret menu, semuanya adalah nasi goreng. Dia selalu menghindari menu ini dari kecil. Sampai ayahnya tidak kehilangan akal. Beberapa kali kesempatan di akhir pekan, ayahnya memasak nasi goreng sederhana rasa manis pedas dengan telur dadar sempurna. Kebiasaan nasi goreng akhir pekan adalah semacam terapi bagi perempuan itu. Pikiran-pikiran berjalan cepat, lalu dia menutup lembar menu. Dia mengatakan kepada pramusaji, yang manis pedas dengan telur dadar. Sudah 15 menit lebih entah, pesanan baru saja datang. Sepiring nasi goreng masih panas di meja nomor tiga. Beberapa memori menyerang, nasi goreng di meja seperti  kumpulan duka dengan ayahnya, pertengkaran yang panjang dan satu telpon doa yang manis dan pedas. Dia memberanikan diri memakan satu sendok lalu satu sendok lagi lalu seterusnya. Iya, tidak dilawan, dirasakan saja dukanya sampai habis, tak tersisa. Apakah dia baik-baik saja? Tentu tidak, ngelu luar biasa, menahan tangis dimeja makan. Sudah, katanya perempuan itu pergi kekasir dan ingin membayar menu yang baru saja dinikmatinya. Saat kasir bertanya menu apa yang dia makan, perempuan itu menjawab mantap yang manis dan pedas dengan telur dadar. Si kasir tersenyum dan menyodorkan nota, menu manis pedas itu ternyata bernama nasi goreng Godfather. Dia berbalik arah menuju kasir dan menanyakan apakah menu yang dia bayar sama dengan yang ia makan. Jawaban secepat kilat menamparnya, iya itu Godfather, yang manis pedas.

Antasura, 23 September 2014

20.7.14